• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Kumham

Kadis ESDM Prov Bengkulu Dilaporkan ke KPK

22 August
14:40 2019
0 Votes (0)

KBRN, Jakarta : Kepala Dinas ESDM Prov. Bengkulu, Ir. H Ahyan Endu, bersama Dinmar Najamudin, Agusrin Maryono Najamudin, dan Sultan Bachtiar Najamudin di laporkan ke KPK oleh Eka Nurdianti Anwar, Branch Manager PT. Bara Mega Quantum, dengan didampingi 100 anggota Satgas Anti Diskriminasi Hukum (Sadis) terkait permufakatan jahat beraroma suap dalam dugaan pidana illegall mining.  

"Kami laporkan kepala Dinas ESDM Prov. Bengkulu, Ir. H Ahyan Endu, bersama Dinmar Najamudin, Agusrin Maryono Najamudin, dan Sultan Bachtiar Najamudin ke Komisi Pemberantasan Korupsi Modusnya, pelaku perampas tambang yakni  Dinmar Najamudin dan kawan-kawan, malah diberi legitimiasi oleh Kadis ESDM Ir. H. Ahyan Endu untuk melakukan illegal mining di atas lahan PT. Bara Mega Quantum milik Nurul Awaliyah, dengan memberikan beberapa surat yang memuat unsur pidana keterangan palsu.. Padahal yang dimaksud SK  No. 267 Tahun 2011, selain tidak terdaftar di Dirjen Minerba, juga dinyatakan tidak pernah diterbitkan oleh Bagian Hukum Pemerintah Daerah Kabupaten Bengkulu Tengah,"ungkap  Eka usai diterima  Alfieta Baroroh bagian  Humas KPK.

Dikatakanjya  semua berkas bukti bukti tentang adanya  penyuapan sudah  diberikan kepada KPK  dan diharapkan segera di tindaklanjuti oleh KPK .

“Terdapat serangkaian perbuatan melawan hukum yang dilakukan Ir. H Ahyan Endu,  selaku penyelenggara negara, yang merugikan negara. Terhadap pertanyaan, apakah dalam kasus ini ada praktek penyuapan kepada  Ir. H Ahyan Endu  selaku penyelenggara negara, biar penyelidik KPK yang menjawabnya. Saya sudah menyerahkan dokumen-dokumen data pendukug yang dimint,” Katanya.

Menurut Eka, pada tanggal 28-07-2016, dalam rangka menindaklanjuti rekomendasi Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), berdasarkan Berita Acara Evaluasi Dokumen Izin Usaha Pertambangan (IUP) Clear and Clean Mineral Batu Bara di Prov Bengkulu, pemilik dan pemegang saham PT. Bara Mega Quantum yang diakui adalah Nurul Awaliyah, dengan jabatan Direktur Utama   PT. Bornoe Suktan Mining, yang merupakan  pemilik atas 90% saham pada PT. Bara Mega Quantum, berdasarkan Akta Pernyataan Keputusan RUPS Luar Biasa Terbatas PT. Bara Mega Quantum, yang termuat dalam Akta No. 12 tanggal 27 September  2010, dan Akte Nomor: 35, tertanggal 21 Februari 2011 yang dibuat dihadapan Mufti Nokhman, SH, Notaris di Kota Bengkulu. 

“Akan tetapi oleh Kadis ESDM Prov. Bengkulu, Ir. H Ahyan Endu, dengan dalih ada SK No. 267 Tahun 2011, pelaku perampas tambang yakni Dinmar Najamudin dan kawan-kawan malah diberi legitimiasi untuk melakukan illegal mining di atas lahan PT. Bara Mega Quantum,” Ujar Eka. 

Dijelaskannya Dinmar Najamudin dan kawan-kawan  mengkriminalisasi Nurul Awaliyah, dengan membuat laporan polisi ke Polda Bengkulu, sesuai LP Nomor: LP-B/218/II/2018/Siaga SPKT III, memakai persangkaan palsu yakni penipuan dan penggelapan, yang ironisnya mendapatkan pebantuan dari oknum penyidik dan JPU Kejati Bengkulu. 

"Penetapan diri kami Nurul Awaliyah sebagai tersangka adalah bertentangan hukum, tindakan yang semena-mena (obuse of power) dan kesesatan dalam menjalankan hukum acara pidana (misbruik van rect process) yang karenanya menjadi tidak sah dan tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat serta tidak ada bukti permulaan yang kuat,” Jelasnya.

Lebih lanjut Eka Nurdianti menambahkan praktek kriminalisasi dan rekayasa memperoleh dukungan dari oknum penyidik Polda Bengkulu, yang dalam perkembangnya malah “disepakati” oleh JPU dengan dinyatakan P-21 oleh Kejati Bengkulu, dan dilakukan penyerahan tahap ke-2 pada tanggal 2 Agustus 2019, sehingga “permufakatan jahat” yang dilakukan oknum aparat penegak hukum dalam sebuah peristiwa apa yang sering disebut sebagai praktek mafia hukum ini telah selesai dengan sempurna. 

Kini perkaranya tengah diatensi oleh Plt Jampidum Kejagung untuk diterbitkan SKPP memenuhi permohonan perlindungan Nurul Awaliyah. (Rel)

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00