• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Daerah

Lumpur Setebal 4 Meter Tutup Bendungan Haliwen Atambua

22 August
11:05 2019
0 Votes (0)

KBRN, Atambua : Pemerintah Propinsi Nusa Tenggara Timur melalui Balai Wilayah Sungai II, sementara berupaya keras untuk menguras air permukaan pada lokasi Bendungan Haliwen Kabupaten Belu.

Keberadaan Bendungan yang sudah dibangun Pemerintah sejak tahun 90an silam tepatnya di Desa Umaklaran Kecamatan Tasifeto Timur Belu ini, untuk sementara bisa dikatakan tidak berfungsi mengaliri air ke lahan pertanian warga setempat. 

Hal ini dikarenakan dalam keadaan tersumbat akibat tertimbun material lumpur.

Upaya pengerukan kembali sedimen lumpur dari dasar Bendung masih menemui sejumlah kendala teknis. Ketinggian muka air saat ini hingga 9 meter cukup menyulitkan upaya pengurasan air keluar dari badan bendungan.

Sejumlah upaya sudah dilakukan secara darurat seperti pemasangan pipa paralon merupakan pekerjaan awal oleh Dinas Pekerjaan Umum Belu dimana Bupati Belu juga sempat ke lokasi akhir Mei lalu.

Tidak sebatas itu tindakan darurat menerjunkan sejumlah Truk Pemadam Kebakaran (Damkar) untuk menyedot air juga sudah dilakukan, namun sekiranya mustahil karena volume air yang masih begitu besar tertampung di badan bendungan.

Aleks Leorenu Team Leader Konsultan Pengawas  PT Konindo Kupang menjelaskan volume pekerjaan terbesar menyangkut pengerukan sedimen.

"Nah sebelum melakukan pengerukan, ada kendala ketinggian air masih 9 meter di atas bak intake. Ini cara mengeluarkan air dilakukan kontraktor belum maksimal. Solusi Damkar dengan sistem isap tekan, bahkan dari Satker datang solusinya itu pengadaan pipa HDPE pipa plastik bertekanan, pipa air maupun gas, ya 5 dim, bisa dialirkan secara elevasi sehingga bisa diketahui seperti apa untuk ambil tindak lanjut," ungkap Aleks Kamis (22/8/2019).

Ia menambahkan, secara teknis ada yang juga ditawarkan seperti pembongkaran Spell Wei pintu pembuangan dengan menggunakan alat berat Eksavator satu baket, untuk mengalirkan air 1 setinggi 1 meter, namun hal dimaksud juga memperhitungkan adanya goyangan sekitar bendung spell wei sehingga perlu dihindari.

"Ada kemungkinan kita melakukan hal tersebut ada goyangan sekitar bendung spell wei dan itu sangat berpengaruh sehingga dihindari kita menggunakan pipa dulu mengeluarkan air," urainya.

Bahkan beberapa orang nelayan juga dipanggil dan sempat melakukan penyelaman hingga dasar bendungan. Kegiatan secara teknis tidak bisa memastikan penyebab tersumbatnya material lumpur di titik pembuangan bendungan.

"Memakai penyelam Atapupu, dia foto tapi intake tidak terlihat. Kita juga konsultasi Satker Propinsi sementara penyelam tidak direkomendasikan, ya berbahaya terjadi apa-apa sedotan besar maka dihentikan," kata Aleks.

Sementara ketebalan lumpur pada lokasi embung Sirani yang kini dengan nomenklatur bendung haliwen, dari intake sudah setebal 4 meter, hal ini dianggapnya cukup menyulitkan.

"Lumpur dari intake itu sudah 4 meter bukan lagi cukup tebal tapi sangat tebal dan itu sulit sedimen lumpur di bendungan setebal itu," tandas Aleks.





tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00