• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Nasional

Laporan PRM atas UAS Diterima Bareskrim Polri, Ada 10 Pernyataan Sikap

19 August
17:13 2019
0 Votes (0)

KBRN, Jakarta : Melalui berkas surat nomor: LP/B/0727/VIII/2019/BARESKRI, Presidium Rakyat Menggugat (PRM), mewakili Masyarakat Lintas Agama resmi melaporkan penceramah Abdul Somad, yang dikenal dengan UAS, atas pernyataan kontroversial terkait simbol Salib yang dinilai telah menistakan agama tertentu.  

"Saya muslim juga, tapi menurut saya ini bukan masalah minoritas atau umat Kristiani. Ini masalah memecah belah umat beragama. UAS punya banyak jamaah, kalau mendengar ceramahnya seperti itu bisa mengurangi rasa menghargai antarumat beragama," ujar Ade Sarah Prinasari, pelapor yang mewakili PRM di Gedung Bareskrim Mabes Polri, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Senin (19/8/2019).

Sementara itu, Koordinator PRM, Daniel Tirtayasa mengatakan, pelaporan terhadap UAS adalah sebagai kontrol sosial, agar tidak ada lagi pemuka agama manapun yang sembarangan mengumbar kata-kata atau berbicara mengenai apapun, terlebih hingga mengancam persatuan dan keutuhan bangsa Indonesia yang sangat majemuk untuk agama, suku, ras dan budaya.

"Ini bentuk kontrol sosial PRM sebagai anak bangsa untuk tetap menjaga tatanan undang-undang yang ada di Indonesia. Ini adalah bola yang sudah bergulir cukup lama dan kami akan tuntaskan pada kasus UAS. Kami berharap ada impact, mau ustadz, kiai, pastur, pendeta, tidak lagi semena-mena, tidak lagi berucap yang melukai hati sesama," tegas Daniel Tirtayasa.

Sementara Ketua Tim Kuasa Hukum PRM, Suhadi mengutarakan, laporan yang dilayangkan dan sudah diterima kepolisian ini mendapat atensi tindak lanjut yang tegas. Karena menurut Suhadi, bukan PRM saja yang melaporkan UAS, masih ada lagi beberapa elemen masyarakat yang melakukan hal serupa.

"Kami berharap mendapat atensi tegas dari polisi. Saya melihat ini sesuatu yang harus diproses. Tadi banyak yang membuat laporan (sehingga) kami lama di ruang SPKT berbagi pasal dengan pelapor lain. Harapannya satu muara, bahwa proses hukum berjalan sesuai ketentuan," kata Suhadi.

Suhadi lantas berpesan, polisi tidak tebang pilih dalam menangani kasus penistaan agama, agar tidak ada lagi orang berani menghina agama.

10 Pernyataan Sikap Presidium Rakyat Menggugat

Terkait Video viral penceramah Abdul Somad atau UAS yang berbicara mengenai Salib (yang merupakan simbol agama tertentu), Presidium Rakyat Menggugat (PRM) menyatakan sikap sebagai berikut :

1. Setelah kami teliti berulang kali jawaban Ustad Abdul Somad atas pertanyaan jemaahnya, maka kami menilai bahwa jawaban Ustad Abdul Somad telah menyakiti hati sebagian umat Kristen dan Katolik.

2. Kami menilai saat menjawab pertanyaan dari jemaahnya, Ustad Somad dalam keadaan sadar dan mengetahui apa yang diucapkan.

3.  Karena hal tersebut diatas, maka kami meminta pertanggung jawaban Ustad Abdul Somad atas jawaban tersebut.

4.  Presidium Rakyat Menggugat mengkritik dan mengecam keras siapapun yang berbicara dengan mendeskriditkan atau menghina baik langsung atau tidak langsung ajaran agama orang lain (dalam hal ini Ustad Abdul Somad).

5.  Laporan yang dilakukan Presidium Rakyat Menggugat terhadap Ustad Abdul Somad semata-mata adalah sebagai hak dan kewajiban kami sebagai bagian dari masyarakat Negara Kesatuan Republik Indonesia dalam menjaga kedaulatan negara kita dalam tatanan Undang-Undang yang berlaku.

6.  Presidium Rakyat Menggugat meminta pertanggung jawaban Ustad Abdul Somad atas ucapan nya tersebut.

7.  Presidium Rakyat Menggugat menganggap ucapan yang di sampaikan oleh Ustad Abdul Somad adalah sebuat bentuk sikap penodaam agama.

8.  Presidium Rakyat Menggugat meminta Ustad Abdul Somad untuk meminta maaf secara terbuka kepada masyarakat Kristen/Katolik yang ada di Indonesia khususnya.

9.  Presidium Rakyat Menggugat menilai ucapan dari Ustad Abdul Somad dapat memecah belah kerukunan umat beragama di Indonesia.

10.  Pelaporan Presidium Rakyat Menggugat terhadap Ustad Abdul Somad adalah untuk menimbulkan efek jera bagi siapapun agar tidak berkomentar negatif terhadap agama lain.

Rencana Melaporkan Penceramah Abdul Somad

Seperti diberitakan RRI sebelumnya, usaha mengentaskan intoleransi dan ujaran kebencian berbasis agama terus dilakukan berbagai elemen masyarakat di Indonesia.

Salah satunya yang sedang hangat dan viral di media sosial mengenai ucapan penceramah Abdul Somad atau kerap disebut dengan singkatan UAS, yang diduga menghina simbol suci dan sakral dari agama tertentu dalam sebuah tausiyah yang direkam lalu diunggah ke media sosial visual YouTube.

Pegiat Komunitas Lintas Agama, Suhadi menyatakan, berkaitan dengan itu, ia sangat menyesalkan apa yang dilakukan UAS karena yang bersangkutan dinilai tidak memahami bahwa apa yang dilakukannya berpotensi merusak keharmonisan serta masuk dalam pasal penistaan agama di Indonesia.

"Kalau saya melihat dari berita belum lama ini berkaitan dengan viralnya tausiyah UAS mengenai lambang Salib, menurut hukum itu (bisa) masuk penistaan agama. Dan harusnya juga, dalam konteks kebhinnekaan yang terus dibangun, tidak perlu ada ucapan-ucapan seperti itu," kata Suhadi kepada RRI, di kawasan Kalibata, Jakarta Selatan, Minggu (18/8/2019) sore.

Oleh karena itu, setelah berembuk dengan seluruh rekan maupun anggota Komunitas Lintas Agama, Suhadi melihat ada persoalan hukum atau perbuatan-perbuatan yang dianggap sebagai pidana berkaitan ucapan UAS, dan ini disebut Suhadi tak bisa dibiarkan.

"Teman-teman sudah sepakat hal ini akan dilaporkan ke Mabes Polri. Rencana kami akan ke Mabes Senin, 19 Agustus 2019, sekitar pukul 10.00 WIB," imbuhnya.

Mengenai kesiapan barang bukti, Suhadi menyatakan sudah tidak ada masalah, dan mengenai saksi-saksi sudah disiapkan lebih kurang 7 (tujuh) orang. Dan juga menyertakan statement Muhammadiyah bahwa apa yang dilakukan penceramah Abdul Somad merupakan penghinaan simbol agama.

"Bukan hanya komunitas Kristen/Katolik saja, tapi dari lintas agama. Bahkan saksi tujuh orang (yang disiapkan), empat adalah dari muslim. Barang bukti sudah siap, berupa rekaman video, kemudian berita koran dan kutipan lain," tandasnya.

Bahkan Suhadi dan beberapa anggota Masyarakat Lintas Agama lainnya sudah menunjuk Tim Lawyer Presidium Rakyat Menggugat (PRM) untuk maju melaporkan UAS ke Bareskrim Mabes Polri.

Sementara itu, koordinator PRM, Daniel Tirtayasa mengutarakan, pihaknya melalui Tim Lawyer dipastikan maju mewakili Komunitas Lintas Agama untuk melaporkan penceramah Abdul Somad atau UAS ke Mabes Polri, Senin, 19 Agustus 2019.

"Firm, kami dari Presidium Rakyat Menggugat atau PRM, sudah mengambil kesimpulan berdasarkan data dan fakta yang kami punya, untuk melaporkan UAS ke Mabes Polri berkaitan dengan penistaan agama. Barang bukti sudah kami lengkapi, saksi juga. Tim Lawyer sudah siap," ungkap Daniel kepada RRI, di Jakarta, Minggu (18/8/2019).

Penceramah Abdul Somad Klarifikasi Video Viral

FSRMM TV yang diunggah di kanal YouTube mereka pada Minggu, 18 Agustus 2019, dimana dalam video berdurasi 57:07 menit itu, penceramah Abdul Somad atau dikenal dengan sebutan UAS, dikatakan sedang ceramah dalam rangka hari Kemerdekaan di Masjid At-Taqwa, Desa Simpang Kelayang, Indragiri Hulu, Riau, pada Sabtu, 17 Agustus 2019. 

Akan tetapi, dalam klarifikasi mengenai khutbah yang viral tersebut, Abdul Somad mengatakan, video yang diunggah FSRMM adalah ceramah di Masjid An-Nur, Pekanbaru, Riau, pada 2016.

"Saya rutin pengajian di sana satu jam pengajian, diteruskan tanya-jawab. Kenapa diviralkan sekarang? Kenapa dituntut sekarang? Saya serahkan kepada Allah SWT," katanya seperti dilansir tempo, Minggu (18/8/2019).

Menurut UAS, ceramah pada 2016 tersebut juga dilakukan bukanlah di stadion atau lapangan sepak bola, atau tempat terbuka lainnya, melainkan di dalam Masjid, yang otomatis tertutup dan untuk kalangan sendiri saja, atau dengan kata lain untuk konsumsi umat Islam saja. Dan ucapan mengenai Salib itu adalah untuk menjawab pertanyaan jamaah di sana.

"Untuk intern umat islam menjelaskan pertanyaan tentang patung dan kedudukan Nabi Isa AS. Untuk orang Islam dalam Al-Quran dan Sunah Nabi Muhammad SAW. Bukan saya membuat-buat untuk merusak hubungan. Ini perlu dipahami dengan baik," tandas Abdul Somad.

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00