• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Sosok

Pak Taman, Petani Palangka Raya Kelola Lahan Gambut Tanpa Bakar

17 August
14:22 2019
0 Votes (0)

KBRN, Jakarta : Akhmad Tamanruddin, asal Kalampangan, Palangka Raya, Kalimantan Tengah (Kalteng), mengimbau masyarakat agar tidak lagi membakar untuk memulai pengelolaan lahan gambut. Pria yang karib disama Pak Taman ini menyarankan penggunaan abu untuk menyuburkan tanah.

Lahan Pak Taman ini seluas 2 hektar dan berada lebih tinggi dibandingkan lahan-lahan tetangganya. Kenapa demikian?

“Lahan yang di sana lebih rendah dibandingkan di sini (lahan miliknya). Lahan yang rendah tadi disebabkan karena dulunya lahan gambut tersebut dibakar terlebih dahulu oleh pemiliknya,” ucap Pak Taman di lokasi lahan gambut garapan miliknya, di Kalampangan, Palangka Raya, Kalteng, Jumat (16/8/2019).

Lahan Pak Taman ini selain terlihat atau berada lebih tinggi dari lahan lainnya, juga nampak tertata rapi dengan beragam tanaman di atasnya.

Sebagai informasi, Pak Taman merupakan salah satu hasil binaan Balai Litbang Lingkungan Hidup dan Kehutanan Banjarbaru, Kalimantan Tengah sejak 2004 silam. Dan sekarang, ia sudah berhasil mengembangkan lahan gambut tanpa harus membakarnya terlebih dahulu untuk mendapatkan kesuburan tanah, akan tetapi dengan metode membuat media tanam (mineral dressing), yang terdiri atas tanah subur, dolomit, dan kotoran ternak, selain itu juga digunakan pupuk organik.

"Cara saya mengolah lahan gambut tanpa bakar adalah dengan tahapan lahan gambut yang sudah bersih dari akar pakis (kalakai) dibuat guludan (baluran) yang lebarnya maksimal satu depa, agar guludan dapat dibersihkan dari kedua sisi. Selanjutnya, buat lubang tanam dengan jarak menyesuaikan kebutuhan tanaman yang akan ditanam, misal untuk cabai 40 x 40 cm," ujar Taman.

Tahap berikutnya, masih dari Pak Taman, tinggal masukkan satu genggam media tanam ke dalam setiap lubang tanam yang sudah disiapkan. Sementara perawatan guludan dilakukan dengan mengembalikan tanah guludan yang sempat terbawa air, sehingga berada pada bagian bawah guludan, dikembalikan ke atas.

Atas keberhasilannya menerapkan metode membuka lahan tanpa bakar tersebut, Pak Tanam sekarang ini selain sudah mulai menuai hasil tanam miliknya, juga mendapat rejeki nomplok lainnya, sebagai pembicara yang kerap diundang untuk membagikan pengalaman dan tips luar biasa dalam membuka lahan gambut tanpa bakar.

Sempat Putus Asa

Apa yang dihasilkan Pak Taman saat ini ternyata merupakan hasil jerih payah dan keuletannya sebagai transmigran yang tiba pertama kali di Kalimantan Tengah sejak 1980 silam.

Bahkan Pak Taman mengatakan, ia hampir putus asa kala itu, ketika sebagian transmigran lainnya memilih untuk kembali ke Jawa karena sulit untuk mengolah lahan gambut. Di sisi lain, sebagian warga memilih membakar lahan gambut untuk menyuburkan tanah. Padahal dibenak Taman, apabila membakar gambut justru permukaan gambut itu akan turun dan akhirnya menjadi rawa. 

Di samping itu, melakukan penyiapan lahan dengan membakar itu menurut Pak Taman sangat merugikan karena menyebabkan penurunan permukaan gambut dan membunuh jutaan mikroorganisme yang hidup di dalam tanah. Dia pun mempunyai teknik yang dipelajarinya dari karakteristik gambut, dimana lebih dari 1.000 petani dari Kalimantan Tengah dan wilayah lain telah belajar darinya. 
Salah satu teknik yang dia pelajari yaitu menggunakan dolomit, tanah subur dan kotoran hewan yang dibutuhkan untuk menunjang kesuburan tanaman atau media tanam. Upaya itu dimaksudkan untuk mengalahkan sifat asam gambut dan kemudian dia berhasil dengan pendekatan agroforestry seperti sekarang ini. 

Ke depannya, Pak Taman berharap tidak ada lagi yang mengolah lahan gambut dengan cara membakar. Akan tetapi, jika petani diedukasi pastinya bisa berhasil seperti Pak Taman. Lalu bagaimana jika yang membakar lahan gambut adalah para preman sewaan dari kota, yang ditugaskan sebuah korporasi besar untuk membakar lahan guna membuka perkebunan kelapa sawit? Pastinya ini pekerjaan rumah yang tidak mudah. 

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00