• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Info Publik

HUT Kemerdekaan RI, Merah Putih Berkibar di Wilayah Bekas Bencana

17 August
13:14 2019
0 Votes (0)

KBRN, Jakarta : Suasana yang kurang beruntung atau berada di tempat yang membangkitkan kenangan pilu peristiwa masa lalu, ternyata tak mengurungkan niat sejumlah warga atau masyarakat di kawasan Porong.

Remaja yang tergabung dalam Ikatan Pemuda dan Pemudi Nahdlatul Ulama menggelar Upacara Bendera HUT Kemerdekaan RI Ke-74 di kawasan Lumpur Lapindo titik 25, Porong, Sidoarjo, Jawa Timur, Sabtu (17/8/2019).

Banjir lumpur panas Sidoarjo, yang juga dikenal dengan sebutan Lumpur Lapindo (Lula) atau Lumpur Sidoarjo (Lusi), adalah peristiwa semburan lumpur panas di lokasi pengeboran Lapindo Brantas Inc Dusun Balongnongo, Desa Renokenongo, Kecamatan Porong, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, sejak 29 Mei 2006. 

Lumpur Panas Lapindo

Semburan lumpur panas selama beberapa bulan menyebabkan tergenangnya kawasan permukiman, pertanian, dan perindustrian tiga kecamatan di sekitarnya, serta memengaruhi aktivitas perekonomian Jawa Timur. Lokasi semburan lumpur ini berada di Porong, yakni kecamatan di bagian selatan Kabupaten Sidoarjo, sekitar 12 km sebelah selatan kota Sidoarjo. Kecamatan ini berbatasan dengan Kecamatan Gempol (Kabupaten Pasuruan) di sebelah selatan.

Lokasi pusat semburan hanya berjarak 150 meter dari sumur Banjar Panji-1 (BJP-1), yang merupakan sumur eksplorasi gas milik Lapindo Brantas Inc sebagai operator blok Brantas. Oleh karena itu, hingga saat ini, semburan lumpur panas tersebut diduga diakibatkan aktivitas pengeboran yang dilakukan Lapindo Brantas di sumur tersebut. Pihak Lapindo Brantas sendiri punya dua teori soal asal semburan. Pertama, semburan lumpur berhubungan dengan kesalahan prosedur dalam kegiatan pengeboran. Kedua, semburan lumpur kebetulan terjadi bersamaan dengan pengeboran akibat sesuatu yang belum diketahui.

Lokasi semburan lumpur tersebut merupakan kawasan permukiman dan di sekitarnya merupakan salah satu kawasan industri utama di Jawa Timur. Tak jauh dari lokasi semburan terdapat jalan tol Surabaya-Gempol, jalan raya Surabaya-Malang dan Surabaya-Pasuruan-Banyuwangi (jalur pantura timur), serta jalur kereta api lintas timur Surabaya-Malang dan Surabaya-Banyuwangi.

Pada bagian wilayah lain, sejumlah warga korban bencana gempa dan tsunami Palu-Donggala atau dikenal dengan bencana Gempa dan Tsunami Sulawesi 2018, tampak khidmat mengikuti Upacara Bendera memperingati HUT Kemerdekaan RI Ke-74, di Komplek Hunian Sementara (Huntara), Palu, Sulawesi Tengah (Sulteng), Sabtu (17/8/2019). 

Upacara diikuti oleh warga korban tsunami Pantai Talise yang kehilangan tempat tinggal dan menjadi penghuni Huntara.

Gempa dan Tsunami Sulawesi 2018

Seperti diketahui, Gempa bumi dan tsunami Sulawesi 2018 adalah peristiwa gempa berkekuatan 7,4 Skala Richter (SR) diikuti tsunami yang melanda pantai barat Pulau Sulawesi, Indonesia, bagian utara pada 28 September 2018, pukul 18.02 WITA. 

Pusat gempa berada di 26 km utara Donggala dan 80 km barat laut kota Palu, dengan kedalaman 10 km. Guncangan gempa terasa di Kabupaten Donggala, Kota Palu, Kabupaten Parigi Moutong, Kabupaten Sigi, Kabupaten Poso, Kabupaten Tolitoli, Kabupaten Mamuju, bahkan hingga Kota Samarinda, Kota Balikpapan, dan Kota Makassar. 

Gempa tersebut akhirnya memicu tsunami hingga ketinggian 5 meter di Kota Palu dan sebagian besar Donggala Sulawesi Tengah.

Fasilitas Hunian Sementara (Huntara) dan Jaminan Hidup

Menurut data dari Kementerian Sosial RI, saat ini, dari 40.137 jiwa korban bencana yang terdata di Kota Palu, baru 26.855 jiwa atau 7.007 Kepala Keluarga yang berhasi divalidasi untuk mendapatkan dana Jaminan Hidup (Jadup). Dana Jadup yang baru akan diusulkan ke Kementerian Sosial itu senilai Rp10 ribu per jiwa per hari yang akan diberikan selama 60 hari.

Mengenai fasilitas bantuan Hunian Sementara (Huntara), untuk Kelurahan Duyu, Palu, dari 8.388 bilik hunian yang disediakan Kementerian PUPR di Palu, Sigi dan Donggala, hanya sekitar 57 persen atau 4.272 bilik yang dihuni. Kondisi itu sangat ironis karena berdasarkan data yang dikeluarkan oleh lembaga Sulteng Bergerak, hingga saat ini masih terdapat 16.654 keluarga atau 66.264 jiwa penyintas (pengungsi) di Sulteng yang tinggal di tenda-tenda pengungsian darurat.

Rekomendasi Berita
tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00