• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Kumham

Uang Pencalegan Bowo Sidik Hasil "Jatah" Pengadaan BBM Djakarta Lloyd

14 August
21:11 2019
0 Votes (0)

KBRN, Jakarta : Sidang pembacaan dakwaan untuk tersangka suap distribusi pupuk, Bowo Sidik Pangarso berlangsung di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor), Jakarta, Rabu (14/8/2019).

Jaksa Penuntut Umum (JPU) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sudah membacakan dakwaan kasus distribusi pupuk yang juga melibatkan PT Humpuss Transportasi Kimia (PT HTK) dan PT Pupuk Indonesia Logistik (Pilog). Dari awal proses suap terjadi hingga alur uang sampai akhirnya tertangkap tangan KPK, sudah dibacakan JPU.

Namun ada satu lagi kasus Terdakwa Bowo Sidik Pangarso, yakni penyediaan Bahan Bakar Minyak (BBM) antara PT Ardila Insan Sejahtera dengan perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) PT Djakarta Lloyd (Persero), dimana Terdakwa Bowo menjadi tenaga penagih utang dari pekerjaan antara dua perusahaan beda plat tersebut. Sekaligus melicinkan jalan PT Ardila Insan Sejahtera menjadi penyedia bahan bakar bagi kapal-kapal PT Djakarta Lloyd.

Artinya, Terdakwa Bowo Sidik Pangarso menerima uang dari Lamidi Jimat karena telah membantu menagihkan pembayaran utang ke PT Djakarta Lloyd (Persero) dan agar PT Ardila Insan Sejahtera mendapatkan pekerjaan Penyediaan BBM jenis  MFO (Marine Fuel Oil) kapal-kapal PT Djakarta Lloyd.

Awal Aliran Uang Lamidi Jimat Kepada Bowo Sidik Pangarso

Sekitar Juli 2018, Terdakwa Bowo Sidik Pangarso bertemu Lamidi Jimat, Direktur Utama PT Ardila Insan Sejahtera di Hotel Mulia Jakarta, yang meminta bantuan kepada Terdakwa terkait adanya permasalahan pembayaran utang yang belum diselesaikan oleh PT Djakarta Lloyd kepada PT Ardila Insan Sejahtera senilai lebih kurang Rp2.000.000.000,00 (dua miliar rupiah) berupa pekerjaan jasa angkutan dan pengadaan BBM yang sudah diberikan PT Ardila Insan Sejahtera kepada PT Djakarta Lloyd pada 2009.

Selanjutnya Lamidi Jimat juga memberitahukan Terdakwa kalau pihaknya sudah mengajukan permohonan sebagai vendor PT Djakarta Lloyd dan meminta bantuan Terdakwa supaya perusahaannya juga mendapatkan pekerjaan penyediaan BBM  jenis MFO (Marine Fuel Oil) untuk kapal-kapal PT Djakarta Lloyd. Terdakwa Bowo menyanggupi serta menjanjikan pertemuan dengan Direktur Utama PT DJAKARTA LLOYD.

Setelah pertemuan pertama dengan Terdakwa di Hotel Mulia Senayan, selanjutnya Lamidi Jimat beberapa kali bertemu dengan Terdakwa Bowo dalam rangka pendekatan kepada Terdakwa dan membawa data-data tagihan atau invoice PT Ardila Insan Sejahtera kepada PT Djakarta Lloyd. 

Atas arahan Terdakwa Bowo, Lamidi Jimat menyerahkan data-data tagihan atau invoice tersebut bersama uang Rp50.000.000,00 (lima puluh Juta rupiah) sebagai uang perkenalan kepada Terdakwa yang diterima melalui sopir Terdakwa Bowo.

Selanjutnya pada 20 Juli 2018, Terdakwa menghubungi Lamidi Jimat untuk menanyakan apakah benar uang yang pernah diserahkan Lamidi kepadanya melalui sopir tersebut benar berjumlah Rp50.000.000,00 (lima puluh Juta rupiah)  dan Lamidi membenarkannya serta meminta bantuan Terdakwa agar bisa mendapatkan pekerjaan di INSA (Indonesian National Shipowners Association) dan informasi peluang lain di PT Djakarta Lloyd.

Menindaklanjuti permintaan Lamidi Jimat itu, pada Agustus 2018, dilakukan pertemuan antara Terdakwa Bowo, Lamidi Jimat, dan Suyoto selaku Direktur Utama PT Djakarta Lloyd. di Restoran Hotel Mulia Senayan Jakarta. Dalam pertemuan tersebut, Terdakwa memperkenalkan Lamidi Jimat selaku Direktur Utama PT. Ardila Insan Sejahtera kepada SUYOTO, sekaligus Terdakwa memberitahukan adanya permasalahan penagihan utang yang belum dibayarkan Djakarta Lloyd kepada Ardila Insan Sejahtera. 

Kemudian Lamidi menjelaskan bahwa utang PT Djakarta Lloyd tersebut adalah utang lama sejak 2009 dengan nilai sekitar Rp2.000.000.000,00 (dua  miliar rupiah) dan oleh karena itu Terdakwa meminta Suyoto selaku Direktur  Utama PT Djakarta Lloyd membantu pelunasan utang tersebut.

Atas penyampaian Terdakwa, Suyoto mengatakan tidak bisa melunasi utang tersebut dan utang akan dibayar sesuai  dengan keputusan PKPU (Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang) yaitu dengan cara diangsur mulai 2019 dibayar per triwulan.

Selanjutnya Lamidi Jimat mengatakan kepada Suyoto bahwa perusahaannya yakni PT. Ardila Insan Sejahtera telah memasukkan penawaran pekerjaan Penyediaan BBM (Bahan  Bakar Minyak) jenis MFO (Marine Fuel Oil) untuk kapal-kapal PT Djakarta Lloyd. Kemudian, atas penyampaian Lamidi tersebut, Terdakwa menyampaikan kepada Suyoto agar memperhatikan permohonan Lamidi Jimat dan membantunya menjadi vendor atau sebagai penyedia BBM ke PT Djakarta Lloyd. Selanjutnya, Suyoto mempersilakan Lamidi memasukkan dokumen-dokumennya secara online ke PT Djakarta Lloyd.

Tidak berapa lama setelah pertemuan tersebut, Lamidi Jimat menghubungi Terdakwa Bowo Sidik Pangarso untuk memberitahukan bahwa perusahaannya, yakni PT Ardila Insan Sejahtera telah mendapatkan pekerjaan penyediaan BBM  jenis MFO (Marine  Fuel  Oil) untuk kapal-kapal PT Djakarta Lloyd. 

Selanjutnya Lamidi mengajak Terdakwa Bowo bertemu untuk menyampaikan perhitungan keuntungannya atas penjualan solar tersebut dan mengatakan bakal memberikan uang sebagai tanda terima kasih kepada Terdakwa. Terdakwa Bowo senang atas apa yang disampaikan Lamidi, sehingga mempersilakan jika ingin bertemu sekaligus mengatakan bahwa uang pemberiannya akan dipergunakan untuk keperluan Dapil (daerah pemilihan) Terdakwa.

Pada 24 September 2018, Terdakwa bertemu Lamidi Jimat di Restoran Hotel Mulia Senayan Jakarta. Pada pertemuan tersebut Terdakwa menerima uang sejumlah Rp50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah) dari Lamidi Jimat yang kemudian mengatakan akan memberikan lagi jika sudah ada pencairan tagihan/invoice dari PT Djakarta Lloyd. Selanjutnya Terdakwa Bowo menggunakan uang pemberian Lamidi Jimat untuk kepentingan pencalegannya di Dapil Jawa Tegah 2.

Aliran Uang Lamidi Jimat Selanjutnya Digunakan Bowo Untuk Pemilihan Legislatif

Setelah PT Ardila Insan Sejahtera mendapatkan beberapa kali pekerjaan penyediaan BBM jenis MFO (Marine Fuel Oil) untuk kapal-kapal PT Djakarta Lloyd, selanjutnya Terdakwa menerima uang secara bertahap dari Lamidi Jimat dengan perincian sebagai berikut :

Pada 29 Oktober 2018, Terdakwa menerima uang sejumlah Rp20.000.000,00 (dua puluh juta rupiah) dari Lamidi Jimat dengan cara uang tersebut ditransfer ke rekening Bank Rakyat Indonesia (BRI) nomor 588501001410508 atas  nama Rini Setyowati Abadi, sebagai pemilik rumah yang disewa Terdakwa Bowo untuk digunakan sebagai Posko  Pemenangan Pencalegan di Kabupaten Demak. Kemudian Terdakwa Bowo menggunakan uang tersebut sebagai uang muka pembuatan kaos Kampanye milik Terdakwa.

Pada 14 November 2018, Terdakwa menerima uang sejumlah Rp80.000.000,00 (delapan puluh juta) dari Lamidi Jimat dengan cara ditransfer ke rekening BRI nomor 588501001410508 atas nama Rini Setyowati Abadi sebagai pelunasan uang sewa rumah yang digunakan Terdakwa untuk Posko Pemenangan Pencalegan yang berada di Kabupaten Demak.

Pada 20 Desember 2018, bertempat di Parkiran Komplek DPR RI Senayan Jakarta, Terdakwa menerima uang sejumlah Rp100.000.000,00 (seratus juta rupiah) dari Lamidi Jimat sekaligus daftar perhitungan pembayaran invoice penyediaan BBM oleh PT Ardila Insan Sejahtera ke PT Djakarta Lloyd dan rincian uang yang sudah diterima Terdakwa Bowo dari Lamidi Jimat.

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00