• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Kumham

Begini Alur 'Uang Haram' untuk Bowo Sidik Sampai Tertangkap KPK

14 August
19:14 2019
0 Votes (0)

KBRN, Jakarta : Melalui surat dakwaan, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sudah membeberkan penerimaan suap dan proses lahirnya perjanjian kerjasama antara PT Humpuss Transportasi Kimia (PT HTK) dan PT Pupuk Indonesia Logistik (Pilog) dalam sidang di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor), Jakarta, Rabu (14/8/2019).

Selanjutnya dakwaan berlanjut pada bagaimana alur uang suap itu mengalir di antara para pihak yang terlibat, utamanya untuk Terdakwa Bowo Sidik Pangarso, dengan Asty Winasty dan Indung Andriani K sebagai perantaranya.

Pada awal Maret 2018, Terdakwa Bowo meminta uang muka/advance fee kepada Asty Winasty dari PT HTK sebesar Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah) karena MoU antara PT HTK dengan PT Pilog sudah ditandatangani. 

Permintaan Terdakwa disampaikan Asty kepada Taufik Agustono dan Theo Lekatompessy dalam rapat manajemen yang juga dihadiri Mashud Masdjono dan dengan pertimbangan jika uang diberikan sekaligus nilainya akan terlalu besar, sehingga uang advance fee tersebut penmberiannya diputuskan secara bertahap.

Pada April 2018, bertempat di Senayan City Jakarta, Terdakwa memperkenalkan M. Indung Andriani K kepada Asty supaya nantinya terjadil komunikasi antara keduanya perihal penerimaan uang fee untuk Terdakwa yang dibuat secara formalitas seolah-olah ada kerjasama pekerjaan antara PT HTK dengan PT IAE (milik Terdakwa Bowo yang dikelola Indung).

Sekitar Mei 2018, Bowo Sidik Pangarso menerima uang muka/advance fee dari Asty Winasty yang diperhitungkan sebagai bagian dari commitment fee yang realisasinya diberikan dalam bentuk mata uang dolar Amerika Serikat seluruhnya berjumlah USD 75,000.00 (tujuh puluh lima ribu dolar Amerika Serikat).

Atas persetujuan Taufik Agustono, Asty menyerahkan uang tersebut secara bertahap kepada Terdakwa Bowo secara langsung dan melalui Indung Andriani. Besarannya adalah sebagai berikut :

Pada 8 Mei 2018, sebesar USD35,000.00 (tiga puluh lima ribu dolar Amerika Serikat) diterima langsung Terdakwa di Kafe Bleu8 Hotel Mulia Senayan jakarta.

Pada 13 Juli 2018, sebesar USD20,000.00 (dua puluh ribu dolar Amerika Serikat) diterima Terdakwa Bowo melalui Indung Andriani di Kafe Grand Via Hotel Grand Melia Kuningan Jakarta. 

Pada 14 Agustus 2018, sebesar USD20,000.00 (dua puluh ribu dolar Amerika Serikat) diterima Terdakwa Bowo melalui Indung bersama Clara Agustine di Kafe Grand Via Hotel Grand Melia Kuningan Jakarta. Selanjutnya Indung langsung menyerahkannya kepada Terdakwa atau keluarganya. 

Pada 7 Juni 2018, Asty Winasty mengirim email kepada Terdakwa dengan melampirkan draft MoU antara PT HTK dengan PT IAE, kemudian pada 8 Juni 2018 MoU yang telah ditandatangai Taufik Agustono selaku Direktur PT HTK dan telah diberikan tanggal mundur (backdated) 29 Januari 2018 tersebut dikirimkan juga ke kantor PT IAE untuk ditandatangani M. Indung Andriani K.

MoU tersebut berisi kesepakatan mengenai management komersial yang di dalamnya mencantumkan management fee PT IAE, namun senyatanya MoU ini dibuat hanya sebagai formalitas untuk administrasi pengajuan pengeluaran dana PT HTK guna pemberian commitment fee kepada Terdakwa sehingga seolah-olah sebagai transaksi bisnis biasa. 

Pada MoU itu diatur mengenai kompensasi yang akan diberikan PT HTK kepada Terdakwa melalui PT IAE yaitu sebesar USD200 (dua ratus dolar Amerika Serikat) per hari untuk sewa kapal MT Pupuk Indonesia dan USD1,5 (satu setengah dolar Amerika Serikat) per metrik ton untuk sewa Kapal MT Griya Borneo.

Kemudian pada 12 Juni 2018, Taufik Agustono dan Ahmadi Hasan menandatangani Perjanjian Sewa Berdasarkan Waktu/Time Charter Party LPG/c Pupuk Indonesia antara PT HTK sebagai “Penyewa”dengan PT Pilog sebagai “Pemilik” Kapal MT Pupuk Indonesia, No. 206/DIR-HTK/VI/2018 dan No. 019B/SPK/PILOG-HTK/VI/2018. 

Kontrak inilah yang kemudian menjadi dasar pemberian commitment fee kepada Terdakwa Bowo sebesar USD200 (dua ratus dolar Amerika Serikat) per hari.

Setelah itu, pada 9 Juli 2018, Taufik mewakili PT HTK sebagai “Pemilik” Kapal MT Griya Borneo dan Ahmadi mewakili PT Pilog sebagai “Penyewa” menandatangani Perjanjian Pengangkutan Amoniak Nomor: 221/DIR-HTK/VII/2018, Nomor: 021/SPK/PILOG-HTK/VII/2018.

Kontrak inilah yang menjadi dasar pemberian commitment fee untuk Terdakwa Bowo sebesar USD1,5 (satu setengah dolar Amerika Serikat) per metrik ton.

Bahwa dalam pembukuan PT HTK untuk pembayaran fee kepada Terdakwa dicatat pada pos port charges(biaya pelabuhan) atau miscelleaneus (biaya lain). Adapun untuk realisasi fee, Terdakwa meminta Asty menyerahkannya melalui Indung yang diminta Terdakwa untuk berkoordinasi terkait proses penagihan dan penerimaan commitment fee dari Asty Winasty. Setelah uang commitment fee tersebut diterima, selanjutnya Indung mencatat semuanya di buku kas.

Bahwa proses pencairan fee diawali dengan Asty Winasty membuat Internal memo lalu diajukan kepada Taufik nAgustono selaku Direktur PT HTK untuk ditandatangani, dalam memo tersebut disebutkan bahwa pembayaran itu untuk jasa komersial PT IAE, kemudian setelah itu internal memo diajukan kepada Mashud Masdjono untuk dibuatkan payment voucher (voucher pembayaran) dan cek selanjutnya untuk dicairkan di rekening Bank milik PT HTK.

Pemberian Uang Untuk Bowo Sidik Pangarso Melalui Indung Andriani

Jaksa Penuntut Umum KPK lantas juga membacakan dakwaan bahwa Bowo Sidik Pangarso telah menerima  uang commitment fee dari Asty Winasty melalui M. Indung Andriani K secara  bertahap  dengan rincian sebagai berikut:

Pada 01  Oktober  2018, uang sebesar  Rp221.523.932,00  (dua ratus dua puluh satu juta lima ratus dua puluh tiga ribu Sembilan ratus tiga puluh dua rupiah), uang fee ini terkait sewa kapal MT Pupuk Indonesia Juni (selasma 18 hari), Juli (selama 31 hari) dan Agustus (selama 31 hari). 

Terdakwa Bowo menerima uang fee ini dengan cara, Asty Winasty meminta Muhammad Latif untuk  menyerahkan uang kepada Indung Andriani di Rumah Sakit Pondok Indah (RSPI) Jakarta dan setelah uang fee diterimanya, Indung mengabarkan Terdakwa Bowo, lalu Terdakwa dengan ditemani Santoso dan Okta Beni Surahmanto menemui Indung Andriani di RSPI untuk mengambil secara langsung uang fee tersebut.

Pada 01  November  2018, uang  sebesar USD 59.587,00 (lima puluh Sembilan ribu lima ratus delapan puluh tujuh dollar Amerika Serikat), fee ini terkait pengangkutan Amoniak oleh Kapal MT Griya Borneo untuk Juli, Agustus dan September 2018 sebanyak 6 (enam) voyage/trip. 

Terdakwa menerima uang fee dengan cara diserahkan oleh Asty Winasty kepada Indung Andriani yang  saat itu ditemani Sudiarmanton di Coffee Lounge Hotel Grand Melia, selanjutnya Indung datang ke rumah Terdakwa Bowo Sidik Pangarso di Jalan Bakti Kav.2 Cilandak, Jakarta Selatan, dan menyerahkannya kepada istri Terdakwa yaitu Budi Waluyanti.

Selanjutnya, pada 20 Desember 2018, uang sebesar USD 21.327,00 (dua puluh satu ribu tiga ratus dua puluh tujuh dollar Amerika Serikat), dengan rincian fee terkait sewa kapal MT Pupuk Indonesia untuk September 2018 (selama 30 hari) dan Oktober 2018 (selama 31 hari), digabung dengan fee untuk pengangkutan Amoniak oleh Kapal MT Griya Borneo pada Oktober 2018 sebanyak 1 (satu) voyage/trip. 
Terdakwa Bowo menerima uang fee ini dengan cara Asty Winasty menyerahkan uang tersebut kepada Indung Andriani di Coffee Lounge Hotel Grand Melia, Jakarta, selanjutnya Indung membawa uang tersebut ke kantor PT IAE dan diserahkan kepada Terdakwa Bowo.

Pada 26 Februari 2019, uang sebesar USD 7.819,00 (tujuh ribu delapan ratus Sembilan belas dollar Amerika Serikat), fee ini terkait pengangkutan Amoniak oleh Kapal MT Griya Borneo November dan  Desember  2018  sebanyak  2  (dua)  voyage/trip. 

Terdakwa menerima uang fee ini dengan cara Asty Winasty memerintahkan Benny Wiedhata Suryantara untuk  menyerahkan  uang tersebut  kepada Indung di kantor PT HTK di Gedung Granadi Jl. HR. Rasuna Said Jakarta Selatan, selanjutnya uang fee dibawa Indung Andriani ke kantor PT IAE, lalu Indung memerintahkan Rasiman mengantar uang fee tersebut ke rumah Terdakwa Bowo Sidik Pangarso. 

Pada 27 Maret 27  Maret  2019, uang  sebesar  Rp89.449.000,00 (delapan puluh sembilan juta empat ratus empat puluh sembilan ribu rupiah), fee ini terkait sewa kapal MT Pupuk Indonesia periode Desember 2018 (selama 31  hari).  

Terdakwa menerima uang fee ini dengan cara Asty Winasty menyerahkannya kepada Indung Andriani di kantor PT HTK, Gedung Granadi Jl. HR. Rasuna Said Jakarta Selatan, dan sesaat setelah menerima fee ini, M. Indung Andriani K ditangkap tangan oleh penyidik Konmisi Pemberantasan Korupsi (KPK).
 

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00