• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Kumham

Ini Peran Terdakwa Bowo Sidik dalam MoU 'Haram' PT HTK dan Pilog

14 August
18:28 2019
0 Votes (0)

KBRN, Jakarta : Bowo Sidik Pangarso, Wakil Ketua Komisi VI DPR RI didakwakan menerima sejumlah uang suap dengan prosesnya sudah dimulai 27 hari setelah pelantikan dirinya menduduki posisi tersebut di Komisi VI.

Surat dakwaan dibacakan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dalam sidang di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) di Jakarta, Rabu (14/8/2019).

Sekitar 31 Oktober 2017 atau 27 hari setelah penetapannya sebagai Wakil Ketua Komisi VI DPR RI, terdakwa memang melakukan pertemuan di Restoran Penang Bistro Kebon Sirih Jakarta yang dihadiri Asty Winasty selaku General Manager Komersial/ Chief of Commercial Officer PT HTK, Steven Wang Pemilik PT Tiga Macan dan Rahmad Pribadi.

Atas permintaan Asty Winasty, Terdakwa Bowo bersedia membantu untuk kembali terjalinnya kerjasama antara PT Humpuss Transportasi Kimia (PT HTK) dan PT Pupuk Indonesia Logistik (Pilog). 

Setelah pertemuan tersebut, Asty mengirimkan surat elektronik (email) kepada Terdakwa Bowo yang ditembuskan juga ke email Stevenn tentang kronologis pemutusan kontrak PT HTK dengan PT KCS karena PT Pilog telah membeli kapal MT Pupuk Indonesia dengan kapasitas lebih besar dari kapal MT Griya Borneo, sehingga segala pengangkutan PT Petrokimia Gresik beralih dilakukan PT Pilog.

Menindaklanjuti keinginan Asty, Terdakwa beberapa kali menemui Aas Asikin Idat, Direktur Utama PT PIHC dan Achmad Tossin Sutawikara selaku Direktur Pemasaran PT PIHC, meminta agar membatalkan pemutusan kontrak PT KCS dan PT HTK sehingga Kapal MT Griya Borneo dapat kembali digunakan PT Pilog untuk pengangkutan amoniak sebagaimana yang diinginkan Asty Winasty.

Sekitar November 2017, Terdakwa menyampaikan kepada Asty bahwa Terdakwa telah meminta Aas Asikin dan Achmad Tossin agar kapal MT Griya Borneo milik PT HTK dapat disewa oleh PT Pilog, untuk itu Terdakwa akan mengatur pertemuan antara PT. HTK dengan Tossin dan Direktur Utama PT Pilog.

Atas penyampaian Terdakwa itu, Asty melaporkannya kepada Taufik Agustono, Direktur PT HTK, yang langsung menyampaikan bersedia hadir dalam pertemuan.

Pada 6 Desember 2017, Achmad Tossin mengirimkan pesan WhatsApp ke Achmadi Hasan selaku Direktur Utama PT Pilog untuk bersama-sama bertemu Terdakwa dan pihak PT HTK di Hotel Mulia Senayan pada 8 Desember 2017dengan agenda membahas tindak lanjut pertemuan Terdakwa dan Aas Asikin terkait kapal PT HTK.

Pada 8 Desember 2017 dilakukan pertemuan di Restoran Bleu8 Hotel Mulia Senayan yang dihadiri Terdakwa, Asty Winasty, Taufik Agustono, Achmadi Hasan dan Achmad Tossin Sutawikara. Dalam pertemuan itu Terdakwa meminta Achmadi dan Tossin supaya merealisasikan kerjasama utilisasi(pemanfaatan) kapal antara PT HTK dan PT Pilog.

Pada 12 Desember 2017 dilakukan pertemuan teknis dan internal antara PT HTK dan PT Pilog yang dituangkan dalam “Notulen Rapat Sinergi antara PT Pilog dan PT HTK Dalam Utilisasi Kapal Ammoniak” yang ditandatangani Achmadi Hasan dan Darwis Kemis dari pihak PT Pilog bersama Taufik Agustono serta Asty Winasty dari pihak PT HTK.

Para pihak sepakat untuk bersinergi di bidang pemasaran/marketing kapal, sepakat utilisasi dan pembentukan Tim dimana Asty Winasty menjadi Ketua Tim PT HTK. Hasil pertemuan tersebut dilaporkan oleh Achmadi Hasan melalui WhatsApp kepada Achnmad Tossin untuk dapat diteruskan kepada Aas Asikin dan Terdakwa.

Pada Januari 2018, Asty bersama Taufik dan Mashud Masdjono, General Manager Keuangan PT HTK dari pihak PT HTK, melakukan pertemuan lanjutan dengan Achmad Tossin dan Ahmadi Hasan serta dihadiri juga Terdakwa di Restoran table8 Hotel Mulia Senayan, Jakarta. 

Dalam pertemuan tersebut, dibicarakan tentang kapal PT HTK yakni MT Griya Borneo kapasitas 9.000(sembilan ribu) metrik ton dapat disewa PT Pilog untuk mengangkut amoniak dan kapal PT Pilog yakni MT Pupuk Indonesia kapasitas 13.500 (tiga belas ribu lima ratus) metrik ton dapat disewa PT. HTK. Kemudian masih ada beberapa kali pertemuan lanjutan yang membahas hal teknis seperti kesepakatan tarif, skema pengangkutan, tonase dan lain-lain.

Selanjutnya Asty dihubungi oleh Steven Wang yang menyampaikan bahwa Terdakwa meminta commitment fee sebesar USD 2 (dua dolar Amerika Serikat) per metrik ton dari volume amoniak yang diangkut kapal MT Griya Borneo yang disewa oleh PT Pilog. Begitu juga Steven ikut meminta fee untuk dirinya sebesar 3% dari total revenue penyewaan Kapal MT Griya Borneo.

Atas permintaan itu, Asty mengatakan akan membicarakannya dengan manajemen PT HTK terlebih dahulu dikarenakan harga sewa kapalnya masih belum sepakat dengan PT Pilog. Setelah dibahas dengan Taufik Agustono, kesimpulannya commitment fee untuk Terdakwa sebesar USD 2 (dua dolar Amerika Serikat) terlalu besar, sehingga Asty diminta Taufik menghubungi Steven untuk bernegosiasi lagi dengan Terdakwa Bowo Sidik Pangarso agar commitment fee turun menjadi USD 1,5 (satu setengah dolar Amerika Serikat) per metrik ton.

Pada akhirnya Terdakwa Bowo menyetujui commitment fee sebesar USD 1,5 (satu setengah dolar Amerika Serikat) per metrik ton dan akan dibayarkan setelah PT HTK menerima pembayaran dari PT Pilog, namun Terdakwa Bowo masih meminta tambahan fee kepada Asty Winasty, sehingga Asty dan PT HTK mencari jalan keluar dengan cara PT HTK memberikan fee dari sewa Kapal MT Pupuk Indonesia milik PT Pilog untuk kebutuhan mengangkut Gas Elpiji Pertamina yang dihitung sebesar USD 200 (dua ratus dolar Amerika Serikat) per harinya.

Untuk merealisasikan permintaan commitment fee kepadaTerdakwa Bowo, Asty Winasty meminta Terdakwa memberikan nama perusahaan yang bisa digunakan seolah-olah telah terjadi kerjasama dengan PT HTK sebagai dasar pengeluaran uang commitment fee dari PT HTK kepada Terdakwa. 

Selanjutnya Terdakwa Bowo memberikan nama perusahaan miliknya yakni PT. IAE kepada Asty, dimana Terdakwa menjabat sebagai komisaris PT IAE. Terdakwa juga meminta Asty berkoordinasi dengan M. Indung Andriani K, selaku Direktur PT IAE, untuk penyusunan draft perjanjian atas nama PT IAE termasuk serah terima uang commitment fee untuk Terdakwa.

Asty Winasty kemudian melaporkannya kepada Taufik Agustono dan Mashud Masdjono, sehingga Taufik memberikan persetujuan untuk dibuatkan perjanjian antara PT HTK dan PT IAE sebagai dasar (underline) pemberian uang kepada Terdakwa Bowo Sidik Pangarso.

Pada 30 Januari 2018, Asty Winasty mengirim email kepada Terdakwa Bowo dan Steven Wang yang melampirkan draft Memorandum Of Understanding (MoU) antara PT HTK dengan PT Pilog terkait utilisasi asset. Pada email tersebut Asty juga menyampaikan bahwa penandatanganan MoU masih menunggu arahan dari PT PIHC untuk realisasinya.

Pada 13 Februari 2018, terjadi pertemuan antara Terdakwa Bowo dengan Asty dan Steven di Hotel Mulia Senayan Jakarta membahas kelangsungan kerjasama PT HTK dengan PT Pilog dalam utilisasi MT. Griya Borneo untuk pengangkutan Amoniak. Asty menyampaikan kepada Terdakwa Bowo penyebab tidak terealisasinya penandatanganan MoU yang direncanakan pada 5 Februari 2018 karena belum ada arahan dari Direktur Utama PT. Pupuk Indonesia Holding Company Aas Asikin Idat kepada PT Pilog sehingga Terdakwa kemudian mengatur pertemuan dengan Aas Asikin Idat.

Pada 14 Februari 2018, Terdakwa meminta Asty untuk bertemu Aas Asikin di ruangan Direktur Utama PT PIHC yang dihadiri juga oleh Taufiki Agustono dann Achmad Tossin. Pertemuan dilatarbelakangi karena belum adanya arahan Aas Asikin selaku Direktur Utama PT PIHC mengenai utilisasi aset antara PT HTK dengan PT Pilog sehingga MoU tersebut belum dapat ditandatangani.

Akhirnya Aas Asikin menyetujui, selanjutnya PT Pilog langsung mengatur pertemuan untuk pembahasan dan penandatangan MoU dimaksud.

Pada 23 Februari 2018, Terdakwa mengatakan kepada Asty agar jangan mau menandatangani MoU apabila harga penyewaan kapal MT Griya Borneo dibawah USD 34 (tiga puluh empat dolar Amerika Serikat) per metrik ton dengan kapasitas angkut kurang dari 230.000 (dua ratus tiga puluh ribu) metrik ton. Terdakwa menyampaikan bahwa harga dan kapasitas angkut tersebut telah disetujui oleh Aas Asikin Idat dan Achmad Tossin.

Pada 26 Februari 2018, Taufik Agustono selaku Direktur PT HTK dengan Ahmadi Hasan selaku Direktur Utama PT Pilog menandatangani MoU Kerjasama dalam optimalisasi dan utilisasi asset, dimana dalam MoU tersebut disepakati bahwa PT Pilog akan menyewa Kapal MT Griya Borneo milik PT HTK dan sebaliknya PT HTK akan menyewa Kapal MT Pupuk Indonesia milik PT Pilog. 

Akan tetapi dalam MoU tersebut belum tercantum harga sewa kapalnya dan akan disepakati kemudian dalam bentuk perjanjian. Kemudian Asty melaporkan penandatanganan MoU tersebut kepada Terdakwa Bowo Sidik dan Achmad Tossin Sutawikara.

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00