• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Ekonomi

Kementan Kejar Target Ciptakan Seribu Desa Mandiri Organik

14 August
18:03 2019
0 Votes (0)

KBRN, Jakarta : Kementerian Pertanian (Kementan) akan menggalakkan kembali pertanian organik, karena diakui mempunyai manfaat ekologis yang lebih bagus. Selain itu, pertanian organik juga menghindarkan resiko masyarakat dari ancaman kesehatan karena residu pestisida kimia.

"Pada tahun 2015 mencanangkan program 1.000 Desa Pertanian Organik yang juga merupakan salah satu Nawacita Kabinet Kerja RI, dan untuk tanaman pangan targetnya 600 desa padi organik,” demikian dikatakan Kepala Sub Direktorat Padi Tadah Hujan dan Lahan Kering, Direktorat Jenderal Tanaman Pangan, Kementan, Dina, di Jakarta , Rabu (14/8/2019)

Ia menegaskan hal ini membuktikan pemerintah pun concern ingin pertanian organik ini semakin luas, apalagi dengan melihat sekarang penggunaan bahan kimiawi berlebih tentu tidak baik juga bagi kesuburan tanah. 

"Desa Pertanian Organik Padi program bantuan Kementan untuk seluas sekitar 20 hektar per kelompok tani. Tapi, yang perlu diperhatikan yang kami bantu ini yang sudah mulai menerapkan sistem pertanian organik padi ataupun yang siap disertifikasi oleh Lembaga Sertifikasi Organik (LSO, red). Bisa masih dalam konversi ataupun memang sudah murni organik," tuturnya.

"Selama tahun 2016-2018 untuk Desa Pertanian Organik Padi yang mendapat bantuan Kementan telah terealisasi 650 desa dengan luasan mencapai 23.375 hektar dan produktivitas rata-rata 5,46 ton per hektar. Jadi kita sudah melebihi target 600 desa. Artinya memang minat petani untuk beralih organik semakin bagus," tandasnya.

Sentra Padi Organik

Salah satu yang telah berhasil berbudidaya organik ada di Kalimantan Barat. Kelompok tani Gampang Mulia Desa Sate Lestari Kecamatan Pulau Maya contohnya. 

Heri Muryadi dari Dinas Pertanian Kayong Utara, mengatakan mereka memproduksi beras organik varietas Mentik Wangi untuk beras putih dan beras merah yang sudah sertifikasi tahun 2018. 

"Banyak petani di Kabupaten Kayong Utara yang tertarik untuk bertani organik. Tentunya karena harganya tinggi," ujarnya.

Heri pun menyebutkan hal yang sama juga diakui oleh Kelompok tani di Desa Sate Lestari Kec Pulau Maya Kabupaten Kayong Utara Provinsi Kalimantan Barat. Harga beras organik daerah ini sudah mencapai Rp 25.000 sampai Rp 30.000 per kg. 

"Harga ini tentu jauh lebih tinggi dibanding harga beras biasa yang hanya berkisar Rp 9.000 sd Rp 11.000 per kg. Ini yang menjadi daya tarik mereka,” cetusnya. 

Oleh karena itu, Heri menginginkan pertanian organik ini terus dikembangkan karena potensi pengembangan seluas 500 ha di Pulau Maya. Menurutnya akan lebih mudah melakukan pengembangan karena potensi 500 ha tersebut dalam 1 pulau, yaitu Kecamatan Pulau Maya. 

“Jadi lebih terintegrasi dalam satu kawasan. Akan lebih mudah pengelolaannya nantinya,” pungkas Heri.

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00