• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Mitigasi Bencana

Tiba di Pandeglang, Tim Ekspedisi Destana Gelar Simulasi Tsunami

14 August
17:16 2019
0 Votes (0)

KBRN, Pamdeglang : Ratusan masyarakat di Labuan, Kabupaten Pandeglang, Banten, mendadak panik saat sirine peringatan tsunami berdering. Mereka berhamburan untuk menyelamatkan diri.

Peringatan tsunami itu keluar saat mereka tengah sibuk menjalankan aktivitasnya. Raut wajah ketakutan terlihat begitu jelas kala mereka berlari menjauh dari bibir pantai. 

Disaat bersamaan, petugas dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), TNI, dan Polri sibuk mengarahkan warga menuju shelter tsunami untuk tempat berlindung.

Bahkan sebagian petugas harus membopong anak-anak dan lansia agar mereka segera sampai dititik perlindungan.

Akan tetapi, itu hanyalah gambaran simulasi penanganan bencana tsunami yang dilakukan petugas gabungan dari Tim Ekspedisi Desa Tangguh Bencana (Destana) dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan BPBD Pandeglang.

Kepala BNPB, Letjen TNI Doni Monardo simulasi tsunami menjadi salah satu agenda dalam ekspedisi Destana yang dimulai sejak 12 Juli 2019 lalu. Doni menjelaskan, simulasi tsunami merupakan upaya pemerintah untuk mengedukasi masyarakat Pandeglang agar lebih tanggap terhadap bencana. 

"Jadi tugas kita bersama menyiapkan seluruh keluarga dari tingkat paling kecil agar mereka siap, menyadari bahwa daerah kita adalah daerah yang rawan bencana," ujarnya usai menggelar simulasi tsunami, Rabu (14/8/2019).

Oleh karenanya, kegiatan Destana dan simulasi tsunami, diharapkan dapat meningkatkan kesiapsiagaan dan membentuk masyarakat yang tangguh terhadap bencana. 

"Kami melihat semangat masyarakat cukup tinggi. Tinggal bagaimana nanti kolaborasi antara pemerintah dan Pemda untuk memfasilitasi kegiatan riil dari masyarakat," terangnya.

Namun demikian, dia berpesan agar ke depannya, Pemerintah Daerah menyelenggarakan latihan yang betul-betul menyentuh kepentingan sampai tingkat yang paling rendah, yakni keluarga. 

"Ke depan latihan ini harus betul-betul menyentuh kepentingan sampai tingkat yang paling rendah, yakni keluarga. Karena saat bencana terjadi, keluarga lah yang paling berdampak," tegasnya.

Sementara itu, Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati menambahkan, peringatan dini tsunami tidak mesti dengan sirine. Tetapi yang penting, ada informasi potensi tsunami dari BMKG, BNPB, maupun BPBD setempat yang segera disampaikan. 

"Berdasarkan informasi tersebut, dari kami kirim setelah gempabumi 5 menit maksimum seletah gempa, sudah disiapkan jalur evakuasinya. Nah ini lah shelter untuk evakuasi. Kalau untuk pakai sirine, meski disiapkan oleh BMKG, namun yang memencet harus Pemda yang ada di lokasi," urai Dwikorita.

Kegiatan ekspedisi Destana yang digagas BNPB, dimulai sejak tanggal 12 Juli 2019, dengan titik awal dari Banyuwangi. Selama 32 hari, ekspedisi Destana menyusuri 24 kabupaten kota di Pulau Jawa dengan sasaran jangkauan ke 518 desa. 

Rencananya, persinggahan terakhir tim ekspedisi Destana akan tiba di Kabupaten Serang pada tanggal 17 Agustus mendatang.

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00