• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Kumham

Bowo Sidik Terdakwa Dalam Kasus Suap dan Gratifikasi Ajukan Diri Sebagai JC

14 August
17:30 2019
0 Votes (0)

KBRN, Jakarta : Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menyebut anggota DPR RI terdakwa dalam kasus dalam perkara dalam kasus suap bidang pelayaran antara PT. Pupuk Indonesia Logistik (PILOG) dengan PT. HTK (Humpuss Transportasi Kimia) dan penerimaan lain (Gratifikasi), mengajukan diri sebagai Justice Collaborator (JC).

"Selama proses persidangan ini, KPK akan melihat keseriusan dan konsistensi terdakwa Bowo Sidik P.  karena sebelumnya ybs mengajukan diri sbg JC. Pengajuan JC dilakukan saat proses Penyidikan." kata Juru Bicara KPK Febri Diansyah Rabu (14/8/2019).

Febri menyebut indikator yang dipertimbangkan Jaksa Penuntut Umum KPK nantinya akan mengacu kepada Surat Edaran Mahkamah Agung.

"Indikator yang akan dipertimbangkan JPU nanti akan mengacu pada SEMA 4 Tahun 2011 dan aturan lain yg terkait. Sehingga nanti akan dipertimbangkan beberapa hal, yaitu: bukan pelaku utama, mengakui perbuatannya, membuka peran pelaku lain yg lebih besar, dan mengembalikan aset yg terkait." tambah Febri.

Sebelumnya hari ini, Bowo Sidik juga menjalani perisdangan perdana dengan agenda pembacaan dakwaan di Tipikor PN Jakarta Pusat.

Dalam persidangannya Jaksa Penuntut Umum KPK menyebut Bowo Sidik menerima suap uang sebanyak USD 163,733, atau setara Rp 2,3 M dan uang senilai Rp 311.022.932 dari Asty Winasty selaku Marketing Manager PT Humpuss Transportasi Kimia dan Taufik Agustono selaku Direktur PT Humppus Transportasi Kimia.

Selain itu JPU KPK juga menduga Bowo Sidik P menerima suap senilai dan Rp 300.000.000 dari Lamidi Jimat selaku Direktur Utama PT Ardila Insan Sejahtera.

KPK juga menduga, uang yang diterima Bowo Sidik dikarenakan Bowo selaku anggota Komisi VI DPR RI yang bermitra dengan Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan seluruh BUMN di Indonesia telah membantu PT. Humpuss Transportasi Kimia (PT HTK) mendapatkan kerjasama pekerjaan pengangkutan dan/atau sewa kapal dengan PT Pupuk Indonesia Logistik (PT PILOG), serta membantu PT. Ardika Insan Sejahtera menagihkan pembayaran utang ke PT Djakarta LLOYD dan agar PT. Ardila Insan Sejahtera mendapatkan pekerjaan Penyediaan BBM (Bahan Bakar Minyak) jenis MFO (Marine Fuel Oil) kapal-kapal PT Djakarta LLOYD (Persero).

Selain didakwa menerima suap KPK juga menduga Bowo Sidik menerima Gratifikasi yang berkaitan dengan jabatannya sebesar berupa uang tunai sejumlah SGD dan Rp600.000.000,00 saat menjabat wakil ketua sekaligus selaku anggota Komisi VI DPR RI dan anggota Badan Anggaran (Banggar) DPR RI.

Setidaknya ada 5 kali penerimaan gratifikasi yang dilakukan Bowo. Berikut rinciannya:

1. Pada sekitar awal tahun 2016, Bowo menerima uang sejumlah SGD 250 ribu dalam jabatan anggota Badan Anggaran DPR yang mengusulkan Kabupaten Kepulauan Meranti mendapatkan DAK (Dana Alokasi Khusus) fisik APBN 2016;

2. Pada sekitar tahun 2016, Bowo menerima uang tunai sejumlah SGD 50 ribu, saat Bowo mengikuti acara Munas Partai Golkar di Denpasar, Bali untuk pemilihan ketua umum Partai Golkar Periode tahun 2016-2019;

3. Pada tanggal 26 Juli 2017, Bowo menerima uang tunai sejumlah SGD 200 ribu dalam kedudukannya selaku wakil ketua Komisi VI DPR yang sedang membahas Peraturan Menteri Perdagangan tentang Gula Rafinasi (Perdagangan Gula Kristal Rafinasi melalui Pasar Lelang Komoditas);

4. Pada tanggal 22 Agustus 2017, Bowo telah menerima uang sejumlah SGD 200 ribu di Restoran Angus House Plaza Senayan, Lantai 4, Jalan Asia Afrika, Senayan Jakarta, dalam kedudukannya selaku Wakil Ketua Komisi VI DPR yang bermitra dengan PT PLN yang merupakan BUMN; dan

5. Pada bulan Februari 2017, Bowo pernah menerima uang sejumlah Rp 300 juta bertempat di Plaza Senayan Jakarta dan pada tahun 2018 Bowo menerima uang sejumlah Rp 300 juta bertempat di salah satu restoran yang terletak di Cilandak Town Square Jakarta, dalam kedudukan Bowo selaku Wakil Ketua Komisi VI DPR yang sedang membahas program pengembangan pasar dari Kementerian Perdagangan untuk Tahun Anggaran 2017.

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00