• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Kumham

Bowo Sidik Rintis Korupsi 27 Hari Setelah Jadi Anggota Komisi VI DPR RI

14 August
16:41 2019
0 Votes (0)

KBRN, Jakarta : Anggota Komisi VI DPR RI, Bowo Sidik Pangarso (BSP), didakwa Jaksa Penuntut Umum (JPU) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) karena menerima suap dan gratifikasi terkait kerja sama distribusi pupuk antara PT Humpuss Transportasi Kimia (PT HTK) dan PT Pupuk Indonesia Logistik (Pilog). Serta penagihan utang PT Ardila Insan Sejahtera agar mendapatkan pekerjaan Penyediaan BBM (Bahan Bakar Minyak) jenis MFO (Marine Fuel Oil) kapal-kapal PT Djakarta Lloyd (Persero).

Sidang dakwaan Bowo berlangsung di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor), Jakarta, Rabu (14/8/2019).

JPU KPK membeberkan modus operandi Bowo dalam meminta/memerintahkan/mendapatkan/menerima semua uang suap terkait beberapa proyek Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dengan menerima uang dari Asty Winasty dan Taufik Agustono karena telah membantu PT HTK mendapatkan kerjasama pekerjaan pengangkutan sewa kapal dengan PT Pilog.

Mirisnya, aksi terdakwa Bowo yang nota bene seorang penyelenggara negara justru dilakukan 27 hari setelah penunjukan dirinya sebagai Wakil Ketua Komisi VI DPR RI dari Fraksi Partai Golkar.

Berikut kronologis pengangkatan Bowo Sidik Pangarso sampai pertemuannya dengan pihak-pihak yang diajak kerja sama dalam aksi suap-menyuap tersebut :

Terdakwa diangkat sebagai anggota DPR RI mewakili Partai Golongan Karya (Golkar) Daerah Pemilihan Jawa Tengah II dalam masa jabatan 2014-2019 berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 92/P Tahun 2014, tertanggal 30 September 2014.

Terdakwa kemudian ditetapkan menjadi anggota Komisi VI DPR RI dari fraksi Partai Golkar berdasarkan Keputusan Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia Nomor: 3D/DPR-RI/I/2016-2017 Tentang Penetapan Susunan Keanggotaan Komisi  I Sampai Dengan Komisi XI Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia Masa Keanggotaan 2014 –2019 Tahun Sidang 2016 –2017 tertanggal 23 Agustus 2016.

Selanjutnya, Rapat Internal Komisi VI menyetujui Pimpinan Komisi VI dari Fraksi Golkar adalah Bowo Sidik Pangarso sebagai Wakil Ketua Komisi VI DPR-RI berdasarkan Laporan Singkat Komisi VI pada Rabu, 15 Maret 2017, pada acara Penetapan Pimpinan Komisi VI DPR RI dan Keputusan Pimpinan DPR No.158/PIMP/I/2017-2018 tertanggal 4 Oktober 2017.

Terdakwa selaku anggota komisi VI DPR RI mempunyai mitra kerja dalam ruang lingkup tugas Industri, Investasi dan Persaingan Usaha yang antara lain adalah Kementerian BUMN dan seluruh BUMN.

Sekitar 31 Oktober 2017 atau 27 hari setelah penetapannya sebagai Wakil Ketua Komisi VI DPR RI, terdakwa melakukan pertemuan di Restoran Penang Bistro Kebon Sirih Jakarta yang dihadiri Asty Winasty selaku General Manager Komersial/ Chief of Commercial Officer PT HTK, Steven Wang Pemilik PT TIGA MACAN dan Rahmad Pribadi.

Dalam pertemuan tersebut Steven dan Rahmad memperkenalkan Terdakwa Bowo kepada Asty sebagai anggota Komisi VI DPR RI. Asty lantas menceritakan kepada Terdakwa bahwa PT HTK adalah perusahaan pengelola kapal MT Griya Borneo yang sebelumnya memiliki kontrak kerjasama dengan PT Kopindo Cipta Sejahtera/PT KCS (cucu perusahaan PT PETROKIMIA GRESIK) untuk pengangkutan amoniak dengan jangka waktu 5 (lima) tahun sejak 2013 sampai 2018.

Namun pada 2015 setelah perusahaan induk untuk Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dalam bidang pupuk di Indonesia didirikan, yaitu PT Pupuk Indonesia Holding Company (PT PIHC), kontrak kerjasama PT HTK tersebut diputus dan pengangkutan amoniak dialihkan kepada anak perusahaan PT PIHC yakni PT Pilog dengan menggunakan kapal MT Pupuk Indonesia.

Oleh karena itu Asty meminta bantuan Terdakwa agar mengupayakan PT Pilog dapat menggunakan kapal MT Griya Borneo yang dikelola PT HTK untuk mengangkut amoniak, sedangkan kapal milik PT Pilog yaitu kapal MT Pupuk Indonesia akan dicarikan pasarnya oleh Asty sendiri. 

Atas permintaan Asty, Terdakwa Bowo bersedia membantu dan untuk itu Terdakwa meminta Asty mengirimkan kronologis kerjasama sebelumnya dan progres hubungan kerja antara PT HTK dan PT Pilog.

Setelah pertemuan tersebut, Asty mengirimkan surat elektronik (email) kepada Terdakwa Bowo yang ditembuskan juga ke email Steven tentang kronologis pemutusan kontrak PT HTK dengan PT KCS karena PT Pilog telah membeli kapal MT Pupuk Indonesia dengan kapasitas lebih besar dari kapal MT Griya Borneo, sehingga segala pengangkutan PT Petrokimia Gresik beralih dilakukan PT Pilog.

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00