• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Kumham

Dakwaan Bowo Sidik Terkait Distribusi Pupuk dan Penyediaan BBM

14 August
16:07 2019
0 Votes (0)

KBRN, Jakarta : Bowo Sidik Pangarso (BSP), Anggota Komisi VI DPR RI, resmi didakwa Jaksa Penuntut Umunm (JPU) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) karena menerima suap dan gratifikasi terkait kerja sama distribusi pupuk antara PT Humpuss Transportasi Kimia (PT HTK) dan PT Pupuk Indonesia Logistik (Pilog).

Sidang dakwaan Bowo berlangsung di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor), Jakarta, Rabu (14/8/2019).

Baca juga: Bowo Sidik Didakwa Terima USD 163,7 Ribu dan Rp 611 Juta 

Kronologis Penahanan Bowo Sidik Pangarso :

Akibat perbuatannya, Bowo ditahan Penyidik KPK di Rumah Tahanan Negara (Rutan) Klas I Jakarta  Timur  Cabang  Komisi  Pemberantasan Korupsi (KPK) Jakarta sejak 28  Maret 2019 sampai dengan 16 April 2019. Perpanjangan penahanan oleh Penuntut Umum sejak 17 April 2019 sampai dengan 26 Mei 2019.

Dilanjutkan perpanjangan  penahanan oleh Ketua Pengadilan Negeri (pertama) sejak 27 Mei 2019 sampai dengan 25 Juni 2019. Perpanjangan  penahanan oleh Ketua Pengadilan Negeri (kedua), berlangsung sejak 26 Juni 2019 sampai dengan 24 Juli 2019.

Kemudian oleh Penuntut Umum, Bowo lanjut ditahan di Rutan Klas I Jakarta Timur Cabang KPK di Jakarta, sejak 25 Juli 2019 sampai dengan perkara dilimpahkan ke Pengadilan Tindak  Pidana Korupsi pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat.

Dakwaan Bowo Sidik Pangarso :

Bowo Sidik Pangarso baik sendiri maupun bersama dengan M. Indung Andriani K (penuntutan dilakukan secara terpisah), sekitar Mei 2018, Juli 2018, Agustus 2018, 24 September 2018, 1 Oktober 2018, 29 Oktober 2018, 1 November 2018, 14 November 2018, 20 Desember 2018, Desember 2018, 26 Februari 2019 dan 27 Maret 2019 atau setidaknya dalam kurun 2018 dan 2019.

Tempat transaksi ada di Hotel Mulia Senayan Jakarta, di Rumah Sakit Pondok Indah Jakarta, di Hotel Grand Melia Jakarta, di KCP Bank Mandiri Tanjung Priok-Yos Sudarso Jakarta Utara, di parkiran komplek Gedung DPR-RI Senayan Jakarta dan di Kantor PT Humpuss Transportasi  Kimia (HTK) di Gedung Granadi Jl. HR. Rasuna Said Jakarta Selatan.

Dalam kegiatannya tersebut, Bowo selaku pegawai negeri atau penyelenggara negara, yaitu Anggota  Dewan  Perwakilan  Rakyat  Republik Indonesia (DPR-RI) periode 2014-2019, dianggap telah melakukan atau turut serta melakukan beberapa perbuatan yang ada hubungan sedemikian rupa berkelanjutan, menerima hadiah yaitu berupa uang sejumlah USD 163,733.00 (seratus enam puluh tiga ribu tujuh ratus tiga puluh tiga dolar Amerika Serikat) dan Rp311.022.932,00 (tiga ratus sebelas juta dua puluh dua ribu sembilan ratus tiga  puluh dua rupiah) dari Asty Winasty dan Taufik Agustono, yang diterima terdakwa Bowo secara langsung maupun melalui M. Indung Andriani K, serta uang sejumlah Rp300.000.000,00  (tiga  ratus  juta  rupiah) dari Lamidi Jimat.

Seperti diketahui atau patut diduga bahwa hadiah tersebut diberikan karena Bowo selaku anggota Komisi VI DPR RI yang bermitra dengan Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan seluruh BUMN di Indonesia telah membantu PT. Humpuss Transportasi Kimia (PT HTK) mendapatkan kerjasama pekerjaan pengangkutan dan/atau sewa kapal dengan PT Pupuk Indonesia Logistik (PT Pilog).

Terdakwa Bowo juga dinilai telah membantu PT. Ardila Insan Sejahtera menagihkan pembayaran utang ke  PT Djakarta Lloyd agar PT. Ardila Insan Sejahtera mendapatkan pekerjaan Penyediaan BBM (Bahan Bakar Minyak) jenis MFO (Marine Fuel Oil) kapal-kapal PT Djakarta Lloyd (Persero).

Perbuatan Bowo dianggap bertentangan dengan kewajibannya yaitu kewajibanTerdakwa sebagaimana diatur dalam ketentuan Pasal 5 angka 4 dan 6 Undang-Undang RI (UU RI) Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas dari Korupsi, Kolusi dan Nepotisme Junctis Pasal 236 ayat (3) UU RI Nomor 17 Tahun 2014 tentang MPR, DPR, DPD dan DPRD sebagaimana telah diubah terakhir dengan UU RI Nomor 2 Tahun 2018, Pasal 3 ayat (5) Peraturan DPR RI Nomor 1 Tahun 2015 tentang Kode Etik DPR RI.

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00