• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Kumham

Jaksa Dakwa Markus Nari Korupsi Prioyek KTP Elektronik Sebesar 1,4 Juta USD

14 August
14:00 2019
1 Votes (5)

KBRN, Jakarta : Jaksa Penuntut Umum (JPU) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPk) dalam persidangan mendakwa Markus Nari mantan Anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Republik Indonesia didakwa memperkaya diri sendiri. Menurut jaksa, Markus Nari menerima uang sebesar 1,4 juta Dolar Amerika (USD).

Aliran dana itu diduga berasal dari proyek pengadaan Kartu Tanda Penduduk (KTP) yang berbasis Nomor Induk Kependudukan (NIK) atau yang dikenal dengan sebutan e-KTP. Jaksa menduga Markus Nari juga memperkaya orang lain dan korporasi.

Jaksa Ahmad Burhanudin mengatakan “melakukan perbuatan memperkaya diri sendiri, atau orang lain, atau suatu korporasi yaitu memperkaya terdakwa sebesar USD 1.400.000” jelasnya di Gedung Pengadilan Tipikor Jakarta, Jalan Bungur Besar Raya, Kemayoran, Jakarta, Rabu (14/8/2019). 

Berikut daftar sejumlah nama pihak yang diperkaya terkait kasus e-KTP berdasrkan surat dakwaan jaksa :

1. Setya Novanto 7,3 juta USD

2. Irman sebesar Rp 371.250.000, 877.700 USD dan 6.000 Dolar Singapura (SGD)

3. Sugiharto 3.473.830 USD 

4. Andi Agustinus alias Andi Narogong 2.500.000 USD dan Rp 1.186.000.000.

5. Gamawan Fauzi Rp 50.000.000 dan 1 unit Ruko di Grand Wijaya dan sebidang tanah di Jalan Brawijaya III melalui Asmin Aulia.

6. Diah Anggraeni 500.000 USD dan Rp 22.500.000.

7. Drajat Wisnu Setyawan USD 40.000 USD dan Rp 25.000.000.

8. Miryam S Haryani 1.200.000 (USD).

9. Ade Komarudin 100.000 USD

10. M Jafar Hafsah 100.000 USD

11. Husni Fahmi 20.000 USD dan Rp 10.000.000.

12. Tri Sampurno Rp 2.000.000.

13. Sejumlah Anggota DPR RI periode 2009 hingga 2014 12.856.000 USD dan Rp 44.000.000.000

14. Abraham Mose, Agus Iswanto, Andra Agusalam, dan Darma Mapangara selaku Direksi PT. LEN Industri masing-masing Rp 1.000.000.000 serta untuk kepentingan gathering masing-masing Rp 1.000.000.000.

15. Wahyudin Bagenda selaku Direktur Utama PT LEN Industri Rp 2.000.000.000.

16. Johannes Marliem sejumlah 14.880.000 USD dan Rp 25.242. 546. 892 

17. Beberapa anggota Tim Fatmawati, yakni Jimmy Iskandar Tedjasusila alias Bobby, Eko Purwoko, Andi Noor, Wahyu Supriyantono, Setyo Dwi Suhartanto, Benny Akhir, Dudy Susanto, dan Mudji Rachmat Kurniawan, masing-masing Rp 60.000.000.

18. Mahmud Toha Rp 3.000.000.

19. Manajemen Bersama Konsorsium PNRI Rp 137. 989.835. 260 

20. Perusahaan Umum (Perum) Percetakan Negara Republik Indonesia (PNRI) Rp 107.710.849.102

21. PT Sandipala Artha Putra Rp 145.851.156.022 


22. PT Mega Lestari Unggul yang merupakan holding company PT Sandipala Artha Putra Rp 148.863.947.122

23. PT. LEN Industri Rp 3.415.470.749.

24. PT Sucofindo Rp 8.231.289.362.

25. PT Quadra Solution Rp 79.000.000.000. 
26. Johanes Marliem 14.800.000 USD dan Rp 15.242.546.892

27. Anggota panitia pengadaan barang/jasa sebanyak 6 orang masing-masing Rp 10.000.000.

Jaksa menjelaskan perbuatan Markus Nari, mantan Anggota Badan Anggaran (Banggar) DPR RI ikut membahas terkait pengusulan anggaran proyek e-KTP sebesar Rp 1,045 triliun. Markus Nari menemui sekaligus meminta uang sebesar Rp 5 miliar kepada Irman Direktur Jenderal (Dirjen) Kependudukan dan Catatan Sipil (Dukcapil) Kementrian Dalam Negeri (Kemendagri) Republik Indonesia. 

Jaksa menyebut Irman kemudian memanggil Sugiharto sebagai Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) untuk memberikan uang kepada Markus Nari. Sugiharto kemudian  meminta uang Anang Sugiana Sudihardjo Dirut PT Quadra Solution sebesar 400.00 ribu USD.

“Terdakwa Markus Nari yang saat itu ikut dalam rapat kerja antara Komisi II DPR RI dengan Kemendagri kemudian menyetujui terkait pengusulan kembali anggaran proyek e-KTP Rp 1,045 triliun. Namun ternyata anggaran itu belum dialokasikan pada RAPBN Tahun Anggaran 2012, namun karena terdakwa Markus Nari telah menerima uang sebesar 1.400.000, maka dirinya kemudian menyetujui usulan tersebut” kata JPU KPK.

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00