• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Nasional

FPS BUMN: Kenaikan Tunjangan Dewas dan Direksi BPJS Tak Beretika, Segera Batalkan!

13 August
18:10 2019
0 Votes (0)

KBRN, Jakarta : Langkah Kementerian Keuangan yang menaikkan tunjangan cuti tahunan bagi anggota dewan pengawas (Dewas) dan anggota direksi Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) dinilai sebagai langkah yang tidak tepat. Bahkan dibilang putusan yang tidak beretika. Maka dari itu, harus segera dibatalkan.

Ketua Umum Federasi Serikat Pekerja (FSP) Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Arief Poyuono menilai, kebijakan tersebut tak beretika karena muncul di saat keuangan BPJS, lebih tepatnya BPJS Kesehatan defisit.

"Waduh benar-benar enggak punya etika, nih. Kok tunjangan dan bonus Direksi BPJS dan Dewas BPJS naik di saat penglelolaan keuangan BPJS yang defisit akibat buruknya pengelolaan Keuangan BPJS. Masa kinerjanya buruk kok malah dikasih reward ya, dengan bonus dan tunjangan," sesalnya kepada wartawan di Jakarta, Selasa (13/8/2019).

Perlu diketahui, berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan (PMK) No.112/PMK.02/2019, tunjangan cuti tahunan bagi anggota dewan pengawas dan anggota direksi BPJS dinaikkan dua kali gaji yang diterima per bulannya. Ketentuan tunjangan itu paling banyak satu kali dalam satu tahun. Jumlah tunjangan tersebut naik dua kali lipat dibandingkan dengan yang diatur dalam PMK Nomor 34 Tahun 2015 tentang Manfaat Tambahan Lainnya dan Insentif bagi Anggota Dewan pengawas dan Anggota Direksi BPJS.

Arief yang juga Wakil Ketua Umum Partai Gerindra ini menilai, sebenarnya defisit BPJS Kesehatan hingga Rp 28 triliun lebih buruk dari mis-management. Pasalnya, dia menduga ada juga pratek-pratek kotor 'kongkalikong' oknum di BPJS Kesehatan dengan provider-provider sasa kesehatan yang nakal. "Karena itu kenaikan bonus dan tunjangan Direksi BPJS kesehatan dan Dewan Pengawas harus dibatalkan. Reward itu di mana-mana harus berdasarkan prestasi bukan didasarkan pada kebutuhan manajemen ya. Wong bonus dan tunjangan Presiden dan Wapres saja tidak dinaikan," pungkasnya.

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00