• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Kumham

KPK Tetapkan 4 Tersangka Baru Terkait Kasus Dugaan Korupsi KTP Elektronik

13 August
18:07 2019
2 Votes (5)

KBRN, Jakarta : Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Saut Situmorang saat meggelar accara jumpa pers di Jakarta kembali mengumumkan penetapan 4 orang tersangka baru dalam kasus dugaan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) proyek pengadaan Kartu Tanda Penduduk (KTP) yang berbasis Nomor Induk Kependudukan (NIK) atau e-KTP. 

Kasus dugaan korupsi itu diperkirakan berpotensi merugikan anggaran keuangan negara sebesar Rp 2,3 triliun. Sebelumnya penyidik KPK diketahui telah menetapkan 8 orang tersangka dalam kasus ini.

"KPK meningkatkan penanganan kasus perkara ini ke tahap penyidikan dengan menetapkan 4 orang sebagai tersangka,” ujar Saut di Gedung KPK Jakarta, Selasa (13/8/2019).

Ia menjelaskan, keempat orang tersangka tersebut masimg-masing adalah Miryam S Haryani, Isnu Edhi Wijaya, Husni Fahmi dan Paulus Tannos.

Keempat tersangka itu disangkakan telah melanggar  Pasal 2 ayat 1 atau Pasal 3 Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi junctoPasal 55 ayat 1 ke-1junctoPasal 64 ayat 1 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP).

Tersangka Miryam diketahui merupakan mantan Anggota Komisi II Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Republik Indonesia.

Tersangka Isnu diketahui merupakan mantan Ketua Konsorsium Percetakan Negara Republik Indonesia (PNRI) pada saat proyek tersebut bergulir. Konsorsium PNRI terdiri dari Perum PNRI, PT Sandipala Arthaputra, PT LEN Industri, PT Quadra Solution, dan PT Sucofindo.

Tersangka Paulus Tannos diketahui merupakan Direktur Utama (Drut) PT Sandipala Arthaputra. Dalam Akta Perjanjian Konsorsium disebutkan perusahaan itu bertanggung jawab atas pekerjaan pembuatan, personalisasi, dan distribusi blangko e-KTP.

Tersangka Husni diketahui merupakan pegawai Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT). Husni berperan sebagai Ketua Tim Teknis Proyek KTP elektronik atau e-KTP.

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00