• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Budaya dan Wisata

Tradisi Ngerebong, Cara Umat Hindu Bali Jaga Harmonisasi

12 August
12:15 2019
0 Votes (0)

KBRN, Jakarta : Umat Hindu Pulau Dewata menggelar Tradisi Ngerebong di Pura Dalem Pengrebongan, Denpasa, Bali, Minggu (11/8/2019).

Tradisi tersebut dilakukan bertujuan menyucikan alam sekitar dan menetralisir kekuatan negatif sekaligus berusaha menciptakan keharmonisan antar manusia dengan sesamanya, serta antara manusia dengan alam.

Setelah melewati upacara adat, sambil diiringi gamelan musik tradisional, seorang umat Hindu yang diistilahkan kesurupan roh gaib berusaha menusukkan keris ke tubuhnya sendiri Tradisi Ngerebong di Pura Dalem Pengrebongan, Denpasar, Bali, Minggu (11/8/2019).  

Kegiatan adat ini menjadi perhatian warga dan tentunya para wisatawan asing yang sebelumnya memang sudah menunggu momen upacara Ngerebong.

Tradisi Ngerebong

Seperti dikutip dari berbagai sumber, umat Hindu Bali memiliki sebuah tradisi unik yang disebut Ngerebong, yang masih dipegang teguh oleh masyarakat Bali, khususnya warga Desa Kesiman, Denpasar, sejak 1937. 

Ngerebong sendiri merupakan bahasa Bali yang artinya berkumpul. Pada saat tradisi Ngerebong diadakan, dipercaya para dewa juga sedang berkumpul. Tradisi Ngerebong diadakan setiap 6 (enam) bulan sekali sesuai kalender Bali, yakni setiap 8 (delapan) hari setelah Hari Raya Kuningan, biasanya jatuh pada Minggu / Redite Pon Wuku Medangsia.

Pusat diadakannya Tradisi Ngerebong Bali berada di Pura Petilan, yang terletak di daerah Kesiman. Sebelum dimulainya acara puncak, biasanya masyarakat sudah memenuhi area acara. Disana juga sudah tersedia beberapa suguhan seperti alunan musik tradisional, bunga-bungaan dalam tempayan cantik, serta penjor-penjor. 

Sebelum upacara dimulai, para pecalang atau yang biasa disebut polisi adat akan mengosongkan atau menutup jalan, dikarenakan upacara Ngerebong sangat sakral. 

Mengawali upacara ini, masyarakat akan sembahyang di Pura Petilan. Kemudian acara akan semakin ramai, karena dilanjutkan dengan adanya adu ayam di Wantilan atau bangunan yang menyerupai bale-bale. Setelah itu masyarakat mengarak barong yang merupakan lambang kebaikan bagi masyarakat penganut Hindu menuju Pura Pengerebongan. Kemudian masyarakat juga keluar dari pura dan mengelilingi tempat adu ayam atau wantilan tadi sebanyak tiga kali.

"Ngerebong adalah sebuah pangilen yang dilaksanakan di Pura Agung Petilan untuk menciptakan keseimbangan dunia,” ujar salah satu tokoh sekaligus budayawan Desa Kesiman, I Gede Anom Ranuara, seperti dikutip dari portal Pemerintah Kota Denpasar.

Lebih lanjut dijelaskannya, tradisi ini sudah dipatenkan sejak 1937, namun telah dilaksanakan dengan kapasitas yang lebih kecil di area Kerajaan atau Puri Kesiman. Ada beberapa rangkaian yang wajib dilaksanakan sehubungan dengan Ngerebong. Dari Ngerebek yang berlangsung pada Umanis Galungan, dilanjutkan Pamendakan Agung pada Paing Kuningan, dan terakhir adalah Ngerebong. Tradisi ini melibatkan semua Mangku Pepatih yang merupakan wilayah Desa Kesiman terdahulu. 

Dahulu diyakini Puri Kesiman memiliki wilayah yang sangat luas, hingga ke Desa Sanur dan Pemogan. 

Dalam pelaksanaan Ngerebong, yang unik adalah Keris, Ngurek dan Penjor yang megah. Dalam tradisi ini, sejumlah pamedek trance (kasurupan) dengan menusukkan keris ke tubuhnya. Bahkan ada yang menusukkan di bagian mata.

Berdasarkan buku hasil penelitian Sejarah Pura yang dilakukan IHD (kini UNHI) Denpasar pada 1979, Pangerebongan tergolong upacara bhuta yadnya atau pacaruan. Sehingga, upacara Pangerebongan itu bertujuan untuk mengingatkan umat Hindu melalui media ritual sakral untuk memelihara keharmonisan hubungan antarmanusia dengan Tuhannya, antara manusia dengan sesama umat manusia dan dengan alam lingkungannya.

Prosesi upacara Pangerebongan dilakukan Redite Pon Medangsia sejak pagi, melalui tabuh rah. Tujuannya untuk membangkitkan guna rajah untuk di-somia atau diharmoniskan agar patuh dengan arahan guna sattwam. Dengan demikian, guna rajah menjadi bersifat positif, memberi semangat untuk kuat menghadapi berbagai gejolak kehidupan. 

Selanjutnya para manca dan prasanak pengerob Pura Petilan di Kesiman dengan pelawatan berupa Barong dan Rangda semuanya diusung ke Pura Petilan untuk mengikuti upacara Pangerebongan. Sebelum ke Pura Petilan didahului panyucian di Pura Musen di sebelah timur Pura Petilan, di pinggir barat Sungai Ayung. Selanjutnya, setelah kembali ke pura, barulah upacara Pangerebongan dimulai. 

Diawali dengan upacara Nyanjan dan Nuwur. Tujuan upacara ini untuk memohon kekuatan suci Bhatara-Bhatari agar turun melalui pradasar-nya dari para umat, dari para manca dan prasanak pangerob. Umumnya para pengusung rangda dan pepatihnya setelah dilakukan upacara Nyanjan dan Nuwur itu dalam keadaan trance (karauhan) atau kesurupan.  
Selanjutnya semua pelawatan Barong dan Rangda serta para pepatih yang trance itu keluar dari Kori Agung, lantas mengelilingi wantilan dengan cara prasawia tiga kali.

Mengelilingi dengan cara prasawia itu adalah para pelawatan Barong Rangda dan pepatihnya bergerak dari timur ke utara, ke barat, ke selatan dan kembali ke timur. Terus demikian sampai tiga putaran. 

Saat melakukan prasawia itu, para pepatih melakukan ngunying atau yang dipakai ngurek itu keris tajam yang sungguhan, dada para pepatih itu tak sedikit pun terluka. Kalau sudah acara prasawia ini selesai, semuanya kembali ke Gedong Agung dengan upacara Pengeluwuran. Sementara mereka yang trance/kemasukan roh/kesurupan, kembali seperti semula.

Setelah upacara Pangeluwuran itu, dilanjutkan dengan Maider Bhuwana Bhatara-Bhatari para Manca dan Prasanak Pangerob dengan semua pengiringnya kembali mengelilingi wantilan tiga kali dengan cara Pradaksina. Mengelilingi dengan cara Pradaksina berlawanan dengan cara Prasawia tadi. Selanjutnya, dilakukan upacara mengelilingi wantilan dengan cara Pradaksina atau mengikuti arah jarum jam.

Pradaksina ini dilakukan tiga kali sebagai simbol pendakian hidup dari Bhur Loka menuju Bhuwah Loka dan yang tertinggi menuju Swah Loka, yaitu alam kedewatan. Karena itulah upacara ini disebut upacara Maider Bhuwana mengelilingi alam semesta. Setelah selesai mengelilingi wantilan dengan Pradaksina, semuanya kembali ke Jeroan Pura. 

Adanya prosesi Prasawia dan Pradaksina dalam upacara Pengerebongan di Pura Petilan Kesiman ini sangat menarik untuk dipahami makna filosofinya. Prosesi Prasawia bermakna untuk meredam aspek Asuri Sampad atau kecenderungan keraksasaan, sedangkan Pradaksina sebagai simbol untuk menguatkan Dewi Sampad, yaitu kecenderungan sifat-sifat kedewaan. 
Kalau kecenderungan keraksasaan (Asuri Sampad) berada di bawah kekuasaan Dewi Sampad, manusia akan menampilkan perilaku yang baik dan benar dalam kehidupannya sehari-hari.

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00