• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Politik

Ini Strategi Regenerasi PDI Perjuangan

10 August
16:52 2019
3 Votes (5)

KBRN, Sanur : Megawati Soekarnoputri terpilih secara aklamasi sebagai Ketua Umum PDI Perjuangan periode 2019-2024. Terpilihnya Megawati membuktikan, putri proklamator Soekarno itu terlalu kuat dilengserkan dari kursi ketua umum.

Hal itu dibuktikan dari kepemimpinannya di partai banteng yang tidak tergantikan sejak 33 tahun lalu. Megawati memimpin Partai Demokrasi Indonesia (PDI) mulai tahun 1986 hingga 1996, dan menakhodai PDI Perjuangan sejak tahun 1999 sampai tahun 2024 mendatang. 

Muncul pertanyaan besar, pasca dipercayanya Megawati kembali mendapuk jabatan ketua umum. Pertanyaan itu soal regenerasi PDI Perjuangan yang terkesan stagnan. Sebelumnya muncul wacana penambahan struktur kepengurusan yaitu wakil ketua umum dan ketua harian. 

Dua nama yaitu Muhammad Prananda Prabowo dan Puan Maharani Nakshatra Kusyala digadang-gadang akan menempati posisi strategis tersebut. Namun proyeksi untuk membidik calon figur nakhoda baru PDI Perjuangan kandas dalam Kongres V di Sanur (8-10 Agustus 2019). 

Menjawab pertanyaan tersebut, Megawati Soekarnoputri mengaku PDI Perjuangan telah memiliki regulasi regenerasi partai. Dikatakan, untuk menjadi pengurus baik ditingkat anak ranting, maupun di dewan pimpinan pusat harus melewati proses yang panjang. 

"Jadi dari sejak mulai yang lebih proper itu, sejak berganti nama menjadi PDI Perjuangan, itu sudah ada sebuah proses baku didalam regenarasi. Artinya dikami itu karena semuanya itu dimulainya dari bawah. Jadi memang kalau saya tanya kepada partai lain, itu mereka tidak pernah melakukan seperti apa yang telah dilakukan oleh PDI Perjuangan selama ini," kata Megawati usai menutup Kongres V PDI Perjuangan di Sanur, Sabtu (10/8/2019). 

Tidak sebatas dikepengurusan, proses panjang juga harus dilalui kader yang menjadi peserta (utusan) dalam kongres. Utusan yang hadir dalam kongres disebut harus mendapatkan persetujuan dan mandat dari akar rumput.

"Nah, itu yang pertama dalam berjenjangnya. Lalu yang berikutnya, untuk mengambil, merekrut mereka-mereka yang nantinya itu akan dijuruskan, kami punya namanya tiga pilar, yaitu struktur, lalu legislatif, dan eksekutif," bebernya. 

"Ini yang mereka mengakui cukup berat, yaitu ada selalu fit proper, jadi ditanya pengetahuannya secara idelogi kemantapannya sebagai kader partai, lalu yang berikutnya selain fit proper itu ada wawancara untuk mempertajam," imbuhnya. 

Strategi terakhir regenarasi di partai "banteng moncong putih" adalah pola kristalisasi. Pola itu diwujudkan melalui psikotest. Megawati menyebut, psikotest menjadi indikator penentuan calon pemimpin yang memiliki integritas, dan komitmen kuat terhadap partai serta rakyat.

"Saya katakan, psikotest itu seperti cermin diri. Seperti kita melihat muka kita, badan kita dicermin. Ya begitulah hasilnya. Nah sehingga dengan demikian, maka kami selalu berupaya untuk mereka yang setelah mengetahui dengan fit proper, wawancara lalu psikotest itu, mana yang masih kurang. Kami memang berupaya untuk supaya mereka mau menambah pengetahuan," ungkap Presiden kelima Republik Indonesia tersebut.

"Oleh sebab itulah sudah ada namanya kursus kader. Jadi mereka-mereka yang memang akan direkrut dan sudah terrekrut itu akan dimasukkan ke sekolah partai. Nah itulah cara PDI Perjuangan merekrut yang namanya makin memperbanyak mereka-mereka yang bisa dijadikan nantinya pemimpin maupun calon-calon pemimpin yang didatangkan dari PDI Perjuangan," lanjutnya. 

Terlepas dari itu semua, Megawati Soekarnoputri menyebut mengantongi rekam jejak seluruh kader PDI Perjuangan. Rekam jejak itu tidak banyak diketahui kader lainnya, karena menjadi rahasia Ketua Umum PDI Perjuangan. Bermodal rekam jejak, Megawati memiliki otoritas penuh untuk menugaskan kadernya masuk ke jajaran legislatif, eksekutif, termasuk menjabat sebagai pengurus teras PDI Perjuangan. 

"Dari seluruh yang telah diproses seperti tadi yang saya katakan, kami sudah mempunyai suatu catatan yang ada. Yang tersimpan, didalam data kami, yang hanya saya ketahui, dan kalau saya mau melihatnya itu baru ada yang saya suruh dan boleh mengetahui. Sehingga saya dapat memutuskan bahwa orang ini bisa menjadi bukan hanya seorang menteri saja, tetapi orang ini harus ditugasi kesini, orang itu ditugasi kesana, dan lain sebagainya, dan kemungkinan akhirnya, karena berpolitik itu kan sebenarnya adalah sebagai sebuah alat untuk mengambil kekuasaan," pungkasnya.

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00