• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Politik

Hasto Patahkan Budaya "Partai Banteng"

10 August
16:50 2019
3 Votes (5)

KBRN, Sanur : Hasto Kristiyanto kembali didapuk sebagai Sekretaris Jenderal Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) masa bhakti 2019-2024. Ini artinya, politisi kelahiran Yogyakarta, 7 Juli 1966 tersebut untuk kedua kalinya menjabat orang nomor dua di partai berlambang "banteng moncong putih".

Penunjukkan ini sekaligus mematahkan budaya PDI Perjuangan, dimana jabatan sekjen biasanya hanya dijabat satu periode. Bahkan sejak era Sabam Sirait hingga Tjahjo Kumolo, kursi sekretaris jenderal selalu diemban selama lima tahun. 

Sekjen PDI Perjuangan periode 2019-2024, Hasto Kristiyanto mengaku, amanat tersebut bukanlah perkara ringan. Hal itu beralasan, mengingat dalam lima tahun kedepan banyak agenda politik yang harus dihadapi. 

Belum lagi Kongres V yang berlangsung di Sanur (8 - 10 Agustus 2019), PDI Perjuangan mengeluarkan 23 poin rekomendasi. Inti dari 23 rekomendasi tersebut yaitu kader PDI Perjuangan berkewajiban mewujudkan Indonesia sebagai negara yang berdaulat secara politik, berdikari dibidang ekonomi, dan berkepribadian didalam budaya. Seluruh semangat itu menurutnya harus tetap didalam bingkai Pancasila. 

"Saya sendiri merasa terhormat ditugaskan kembali sebagai sekretaris jenderal dengan tugas yang tidak ringan. Justru pada periode kedua ini tugasnya semakin berat. Terlebih dengan tantangan-tantangan ideologis dan besarnya harapan terhadap PDI Perjuangan," ungkapnya usai penutupan Kongres V PDI Perjuangan, di Sanur, Sabtu (10/8/2019). 

Hasto menyebut, seluruh struktur kepengurusan dewan pimpinan pusat periode 2019-2024 memiliki kewajiban mengawal 23 rekomendasi tersebut. Bahkan dikatakan, pasca dilantik dalam Kongres V, jajaran elite DPP harus gerak cepat menjalankan sikap politik partai. 

"Maka kami langsung bergerak cepat menjalankan seluruh sikap politik, program internal partai dan juga program eksternal partai. Partai selalu hadir ditengah rakyat membangun peradaban dan mempercepat terwujudnya kesejahteraan bagi rakyat," tukasnya. 

"Ibu Mega tadi mengatakan bahwa tanah adalah nafas, kehidupan bagi rakyat. Salah satu sikap politik tersebut menegaskan bagaimana negara juga melindungi tanah-tanah rakyat. Sehingga rakyat punya kemampuan untuk berproduksi dengan menggunakan nafas kehidupannya yaitu tanah itu," lanjut Hasto. 

Melihat beban yang diemban, Hasto menyampaikan kembali sikapnya yang menolak tawaran sebagai menteri di Kabinet Kerja jilid II. 

"Karena itulah untuk saya pribadi, mengingat tugas sekjen sebagai pembantu ketua umum, menjalankan perintah-perintah ketua umum dan juga perintah-perintah yang diberikan oleh kongres partai, memerlukan sebuah konsentrasi yang besar, sebuah fokus. Sehingga energinya tidak terbagi. Saya pribadi menyatakan untuk mohon izin tidak ikut didalam proses di eksekutif tersebut," tegasnya. 

Hasto mengaku memilih berkonsentrasi dikepengurusan PDI Perjuangan. Ia menyebut ingin membangun kultur partai, dimana seluruh pengurus baik ditingkat pusat hingga ke anak ranting memiliki tanggung jawab yang sama. 

"Kami tidak pernah membedakan seseorang atas dasar pangkat politik, utusan yang datang disini (di Kongres V PDIP) mewakili demokrasi arus bawah, kami harus mendengarkan aspirasi dari para utusan itu, dan disinilah PDI Perjuangan akan kuat, apabila kami tidak pernah membeda-bedakan pangkat politik, tidak pernah membeda-bedakan suku, agama, status sosial, jenis kelamin, karena kita adalah negara yang satu," pungkasnya.

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00