• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Feature

Sapi Sonok, Si Cantik yang Beruntung Setiap Idul Adha

10 August
13:39 2019
0 Votes (0)

KBRN, Jakarta : Jelang Idul Adha, hewan ternak sapi menjadi salah satu yang dijual sebagai hewan kurban. Tak main-main, untuk sapi jenis Limosin besar harga bisa dibanderol mulai Rp28 juta - Rp30 juta per ekor. Kemudian, jenis Brahmam seharga Rp16 juta - Rp17 juta per ekor, Simetnal Rp20 juta - Rp25 juta per ekor, dan Pegon Rp15 juta - Rp16 juta per ekor. 

Berdasarkan data Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, proyeksi kebutuhan hewan kurban untuk Idul Adha 2019 diperkirakan mencapai 1.346.712 ekor. Dari angka kebutuhan hewan kurban tersebut, perinciannya adalah 376.487 ekor sapi, 12.958 ekor kerbau, 716.089 ekor kambing dan 241.178 ekor domba.

Artinya, ternak sapi menjadi nomor dua terbesar yang akan dibeli masyarakat seluruh Indonesia untuk menunaikan ibadah kurban saat Idul Adha yang jatuh pada Minggu, 11 Agustus 2019 besok.

Meski begitu, siapa yang menyangka, ada jenis sapi yang lolos alias tidak diperjualbelikan untuk Hari Raya Kurban atau Idul Adha yakni Sapi Sonok (hias).

Sapi Sonok merupakan sapi betina yang dipersiapkan khusus untuk lomba kerapihan dan keserasiannya saat berjalan dan berpijak pada sebuah tumpuan. Masyarakat Pamekasan, Jawa Timur adalah pelopor kesenian ini.

Baru-baru ini, Sapi Sonok mulai dipajang saat Apel Sapi Hias di Desa Tlonto Ares, Pamekasan, Jawa Timur, Jumat (9/8/2019).

Para pemilik Sapi Sonok ikut serta dalam Apel Sapi Hias Desa Tlonto Ares, Pamekasan, dengan membawa sapi andalannya masing-masing untuk persiapan dilombakan.

Kontes Sapi Sonok

Seperti diberitakan RRI sebelumnya, Kontes Sapi Sonok adalah lomba kecantikan untuk sepasang sapi Madura betina, yang mana sapi dirangkai atau diapit menggunakan pangonong serta terampil mengikuti instruksi pawang. Sapi juga harus bisa berjalan dengan langkah jalan neter kolenang untuk menuju atau memasuki sebuah gapura. 

Berbicara tentang kebudayaan Madura, yang paling diingat dalam kebanyakan orang bahkan di kancah internasional adalah Karapan Sapi. Namun saat ini ada seni budaya lain di Madura yang tidak kalah menariknya bahkan juga sudah mulai mendunia, yakni Kontes Sapi Sonok.

Cantik, dihias berwarna-warni, serasi, begitulah nantinya yang ditampilkan Sapi Sonok dalam perlombaan. Kesenian ini diiringi lantunan suara sinden, musik gamelan serta saronen, di bawah panas matahari yang menyengat kulit. 

Walau perhelatan kontes masih setingkat Kecamatan sampai Kabupaten, namun daya tarik kesenian lokal ini berhasil menarik perhatian para pelancong yang ada di Pamekasan serta warga setempat.

Berbeda dengan Karapan Sapi yang merupakan lomba adu kecepatan untuk sapi jantan,  Kontes Sapi Sonok hanya diikuti oleh sapi betina saja dan tidak menilai kecepatan sapi saat berlari. Istilah sonok merupakan singkatan dari sokona nongkok yang berarti kakinya berpijak. 

Dalam Kontes Sapi Sonok, sepasang sapi betina harus berjalan di lintasan sekitar 15 sampai 20 meter tanpa menyentuh garis pembatas.

Dua ekor Sapi Sonok diikat sebilah kayu melengkung yang disebut pangonong dan badan sapi juga diberi hiasan kain warna merah dan emas. Bahkan kepala sapi juga diberi mahkota  agar semakin terlihat cantik mempesona. 

Sebelum masuk arena kontes,  sapi diarak mengelilingi lapangan terlebih dahulu dengan diiringi musik saronen.

Keunikan kesenian ini makin mengemuka saat Sapi Sonok mulai merambah lintasan diiringi musik gamelan, dan di depan sapi-sapi itu menari dan menyanyi seorang sinden yang membuat penarik tali kendali juga ikut menari. 

Kemudian, di garis akhir nanti sapi akan masuk di sebuah gapura kayu dan memijakkan kakinya pada balok kayu.

Seorang juri Kontes Sapi Sonok, Abdul Rahman mengutarakan, ada tiga aspek penilaian dalam kontes kecantikan sapi betina tersebut.  

“Yang pertama dinilai, langkah-langkah sapi atau kecantikannya. Kedua, (bagaimana) setiap kaki sapi menyentuh rambu-rambu ini, (karena) itu satu langkah satu pelanggaran. Yang ketiga, setelah sapi itu masuk pintu gapura, kalau melintas satu kali itu (dianggap) pelanggaran,” papar Abdul Rahman kepada RRI, Rabu (27/2/2019). 

Salah satu pemilik Sapi Sonok di Kabupaten Pamekasan, Udin Damira mengungkapkan,  bahwa Kontes Sapi Sonok pertama kali muncul dari Kecamatan Waru, Kabupaten Pamekasan, pada 1960-an.

“Pertama kali Sapi Sonok itu dari Kecamatan Waru, sedangkan (musik) keseniannya dulu tidak seperti sekarang, tapi pakai terompet yang besar,” ujarnya.

Udin lanjut menuturkan, guna menghindari permusuhan antar pemilik, saat ini kontes sapi sonok tidak lagi mementingkan menang atau kalah. Akan tetapi sudah lebih mengedepankan bagaimana mempererat tali silaturahmi sekaligus menjaga kesinambungan populasi sapi lokal Madura.

“Sapi Sonok itu sesungguhnya sebagai budaya Madura terutama di wilayah pantura, dan memupuk tali silaturahmi sesama penggemar Sapi Sonok di Kabupaten Sumenep, Pamekasan dan Sampang,” katanya melanjutkan.  

Perawatan khusus dilakukan para pemilik untuk mendapatkan Sapi Sonok yang ideal. Perlakuan rawat piara berbeda dibanding hewan sapi pada umumnya. Oleh karena itu tak heran jika dua ekor (atau diistilahkan sepasang) Sapi Sonok betina bisa dihargai hingga ratusan juta rupiah.

“Jadi walaupun postur tubunnya dari kecil itu bagus, tapi perawatannya kurang, itu nanti akan rusak. Makanannya itu harus dijamin, seperti dibuatkan bubur. Jamu juga dibuatkan dari bahan kelapa muda dan telur. Dan setiap hari harus dimandikan. Seperti sapi milik saya, itu sudah ditawar Rp200 juta sepasang,” jelasnya.  

Budaya merupakan identitas bangsa yang harus dihormati dan dijaga kelestariannya agar lestari sebagai warisan anak cucu kelak. Apalagi Indonesia negara yang mempunyai kebudayaan yang sangat beraneka ragam, sehingga menjadi daya tarik tersendiri bagi bangsa dari belahan dunia lain untuk mengetahui dan mempelajarinya.

Akan tetapi, Sapi Sonok ini beruntung sekali, karena jenis ini salah satu yang tidak dikurbankan saat Hari Raya Idul Adha.

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00