• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Internasional

Mata uang Cina merosot dampaknya bagi perdagangan Indonesia

7 August
23:42 2019
0 Votes (0)

KBRN, : Mata uang China kini telah mencapai titik terendah selama lebih dari satu dekade sehingga Amerika Serikat (AS) memberikan predikat kepada pemerintah Cina sebagai manipulator mata uang.

Pemberian cap itu akan menambah ketegangan antara dua raksasa ekonomi dunia.

Amerika Serikat memberikan predikat kepada China pada Senin (05/08/2019), setelah mata uang China turun di bawah angka tujuh untuk setiap dolar AS untuk pertama kalinya sejak 2008.

Beijing sebelumnya berusaha keras mencegah mata uangnya turun ke bawah tingkat simbolis.

Eskalasi perang dagang, yang dipicu oleh ancaman baru penerapan tarif oleh AS, dianggap menjadi pendorong perubahan kebijakan.

Pada Senin (05/08/2019), Bank Rakyat China sebagai bank sentral mengatakan penurunan tajam yuan disebabkan oleh "tindakan sepihak dan proteksi perdagangan dan pemberlakuan kenaikan tarif terhadap China".

Perkembangan ini terjadi setelah Presiden Donald Trump mengatakan ia akan memberlakukan tarif 10% bagi barang-barang China senilai US$300 miliar, yang sejatinya mengenakan pajak bagi semua barang dari China yang masuk ke AS.

Yuan bukanlah mata uang yang bebas dijuarbelikan dan pemerintah Cina membatasi pergerakannya terhadap dolar AS.

Tidak seperti bank sentral pada umumnya, Bank Rakyat China tidak independen dan dilaporkan mendapat campur tangan ketika nilai mata uang yuan mengalami gejolak.

Ekonom senior masalah China di Capital Economics, Julian Evans-Pritchard mengatakan dengan cara mengaitkan devaluasi yuan dengan ancaman tarif terbaru, bank sentral China "sebenarnya mempersenjatai nilai tukar, sekalipun tidak secara proaktif memperlemah mata uang melalui campur tangan langsung".

Yuan yang lemah membuat barang-ekspor China lebih kompetitif, atau lebih murah jika dibeli dengan mata uang asing.

Dari kaca mata Amerika Serikat, hal itu dianggap sebagai upaya untuk mengimbangi dampak dari penerapan tarif yang lebih tinggi terhadap barang-barang China yang masuk ke Amerika Serikat.

Meskipun tampak menguntungkan bagi konsumen di seluruh dunia - yang sekarang dapat membeli produk China dengan harga lebih murah - devaluasi menyebabkan risiko-risiko lain.

Melemahnya yuan juga akan membuat impor ke China lebih mahal, berpotensi mendongkrak inflasi dan memberikan tekanan lebih lanjut kepada ekonomi yang memang sudah melambat, dan sekaligus mendorong para pemegang mata uang untuk menggunakan uangnya membeli aset-aset lain.

Karena perdagangan antar regional kuat, pelemahan mata uang Cina juga diikuti oleh penurunan mata uang negara-negara mitra dagangnya, tak terkecuali rupiah, karena munculnya sentimen negatif.

Kepala Ekonom di Samuel Aset Manajemen, Lana Soelistianingsih, mencatat dampak nyata dari penurunan mata uang China bagi Indonesia jika penurunan berlangsung lama adalah sektor perdagangan, baik dampak menguntungkan maupun merugikan.

"Kalau kita melihat dari rasio antara rupiah-yuan, rupiah-dolar yang akhirnya sebetulnya rupiah itu melemah terhadap yuan juga, sebetulnya positif bagi kita karena barang Indonesia menjadi lebih murah buat importir China," jelasnya dalam wawancara dengan wartawan BBC News Indonesia, Rohmatin Bonasir, pada Rabu (07/08/2019).

Namun sayangnya ada faktor yang tidak mendukung analogi tersebut sebab sebagian besar ekspor Indonesia ke China berupa komoditas.

"Karena harga komoditas sekarang sedang turun. Jadi katakanlah nilai rupiah melemah terhadap yuan atau terhadap dolar Amerika, tetapi harga juga turun di saat yang sama, nettonya di mana?

"Ketika harga turunnya lebih besar daripada depresiasi rupiah maka kita tidak diuntungkan," terang Lana Soelistianingsih.

Di antara komoditas Indonesia yang dikirim ke China adalah batu bara, tembaga dan minyak kelapa sawit.

Sementara itu, ekonom Universitas Indonesia, Fithra Faisal Hastiadi berpendapat dampak negatif dari penurunan mata uang China terhadap perekonomian Indonesia tidak terlalu signifikan, meskipun untuk jangka pendek patut diwaspadai.

"Devaluasi yuan akan membawa efek rombongan bagi mata uang regional, terutama di Asia, yang mana cenderung lebih menekan atau terdepresiasi. Jadi rupiah juga akan terbawa arus itu," kata Fithra Faisal Hastiadi.

Ya. Pada tahun 2015, bank sentral China merendahkan nilai mata uangnya ke tingkat terendah terhadap dolar AS dalam tempo tiga tahun, antara lain untuk menekan laju pertumbuhan ekonomi. Bank sentral mengatakan tindakan itu diambil untuk mendukung reformasi pasar.

Yuan terakhir kali diperdagangkan pada angka tujuh terhadap dolar AS adalah ketika terjadi krisis keuangan global.

Ekonom di Capital Economics, Julian Evans-Pritchard mengatakan China telah lama berpendirian bahwa 'level tujuh yuan per satu dolar AS' merupakan ambang batas semaunya, "tetapi sebelumnya turun tangan untuk mencegah mata uang merosot di bawah ambang batas".

Membuat harga barang-barang China lebih kompetitif menyerang inti masalah perang dagang AS-China yang dikobarkan oleh Presiden Trump.

Presiden AS itu telah lama menuduh China menurunkan mata uangnya untuk mendorong ekspor, tetapi Beijing menepisnya.

Meskipun mengaitkan kemerosotan terbaru yuan dengan perang dagang, China terus menyatakan tidak akan melibatkan diri dalam "devaluasi kompetitif".

Gubernur Bank Rakyat China, Yi Gang mengatakan pada Senin bahwa China akan "menahan diri dari devaluasi kompetitif, dan tidak akan menggunakan nilai tukar demi mencapai tujuan kompetitif". (BBC)

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00