• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Feature

Kenduri Toleransi Desa Balun Satukan Perbedaan

31 July
16:00 2019
5 Votes (4.6)

KBRN, Surabaya : Sutrisno merasa bangga ada di Desa Balun Lamongan, Jawa Timur. Meski minoritas, yakni pemeluk agama Kristen, Ia justru merasa nyaman. Sikap intoleransi yang semakin meluas di Indonesia, justru tak ia rasakan didesa yang sudah ia tinggali puluhan tahun itu.

Ia menuturkan, sudah sejak lama keberagaman dan toleransi terpatri di desa Balun. Sutrisno yang dipercaya sebagai Ketua Gereja Kristen Jawi (GKJ) Desa Balun ini menjelaskan selain agama Kristen, agama minoritas lain Hindu juga hidup berdampingan dengan penduduk yang mayoritas 76 persen Muslim.

Sembari berbincang santai di teras rumah, Sutrisno menceritakan harmonisasi antar warga meski berbeda keyakinan, tidak hanya seputar berdirinya tempat peribadatan tiga agama yang saling berdekatan, namun lebih dari itu interaksi sosial dengan simbol-simbol budaya kearifan lokal masih terus dipegang.

“Di Balun ini masih ada istilah budaya kenduri atau ngaturi. Itu tiga hari sebelum hari H hajatan, yang diundang sekitar 300-400 orang, misal yang punya hajat orang Kristen, semua membaur jadi satu, ya Kristen, Islam maupun Hindu, yang datang juga pakai songkok meski beda agama, ada ceramahnya juga, kalau Kristen kita datangkan Pendeta, Islam kita datangkan Kyai atau Ustad untuk ceramah, begitu juga Hindu sama dihadirkan pemuka agama,”ungkap Sutrisno ketika ditemui di kediamannya belum lama ini.

Sutrisno percaya tradisi kenduri atau kumpul warga menjadi kunci, selain merekatkan antar warga, kenduri toleransi antar pemeluk agama juga bisa menjadi cara membendung berita-berita bohong atau hoax yang marak mengemuka selama beberapa tahun terakhir.

"Kerukunan banyak yang menunjang pada kegiatan kenduri, setelah pembukaan ada sambutan pemerintah desa yang mewakili yang punya hajat. Nah disitu diselipkan seputar toleransi dan keguyuban. Budaya-budaya itu sudah tertanam sehingga ada berita-berita yang tidak sesuai dapat segera diatasi, termasuk berita hoax yang marak di medsos," ujar Sutrisno.

Lain lagi ketika setiap ada orang yang meninggal, tradisi dengan menjunjung kearifan lokal juga masih terus dipelihara, meski setiap agama mempunyai keyakinan beda, mereka percaya bahwa apa yang dilakukan secara turun temurun itu bisa menjadi pintu mengatasi perbedaan, sebab warga percaya tidak ada agama yang mengajarkan permusuhan, semua mengajarkan kebaikan.

“Slametan orang meninggal juga ada, di Kristen kan sebenarnya itu tidak ada, kalau sudah meninggal ya sudah lepas dari yang hidup, tapi itu disiasati supaya tertanam di Balun, kalau ada orang Kristen meninggal bukan nylameti yang meninggal supaya selamat, tapi acara itu untuk menghibur orang yang ditinggalkan,” terangnya.

Budaya-budaya kearifan lokal memang diakui Sutrisno terus dijaga, bahkan di Balun toleransi dan hidup pluralisme antar keluarga juga ada. Ia mencontohkan ada dalam satu rumah tiga pemeluk agama berbeda dan itu tidak menjadi masalah.

“Banyak juga satu keluarga beda agama, mungkin itu juga yang membuat kita semakin solid ya, orang-orang tuanya, begitu juga yang muda-muda, kebersamaan itu sudah terjaga,” ujar Sutrisno.

Tidak hanya itu, sikap saling menghargai di Desa Balun juga terlihat ketika ada warga non muslim mempunyai hajat, ketika ada penyembelehan hewan untuk dimasak, warga baik beragama Kristen maupun Hindu justru meyerahkan kepada muslim untuk melakukan penyembelehan, sebab mereka paham ketika hajatan tidak hanya satu agama yang datang tapi lintas agama.

“Unik lagi itu pada saat punya hajat, apakah itu memotong  kambing atau sapi, itu yang memotong Mbah Modin sekaligus untuk mendoakan. Natalan juga begitu kita minta tolong Mbah Modin, itu kan yang diundang tidak hanya orang Kristen tapi semua, dan itu secara otomatis semua pemuda lintas agama juga bergerak,” terangnya.

Di perkembangan zaman seperti sekarang ini, Sutrisno mengakui untuk menumbuhkan semangat kebersamaan mengedepankan toleransi bukan hal mudah, dibutuhkan contoh yang baik, termasuk memberikan tuntunan bukan tontonan yang buruk. Bapak dua anak ini menerangkan sebagai bangsa dengan keberagamannya kasanah kearifan lokal, Balun harus mampu memberi arah perkembangan, khususnya dalam kehidupan masyarakat terlebih lagi dalam membendung penyebaran hoax.

“Sudah lama berjalan, saya sendiri merasa tidak mungkin yang tua memimpin terus, harus ada regenerasi, yang muda harus napak tilas tapi tidak mungkin dilepas juga. Jadi ketika tanggal 17 Agustus, untuk menumbuhkan kekompakan, kita ada kegiatan kolaborasi untuk menumbuhkan semangat kebersamaan, itu juga dilakukan lintas agama. Hal-hal kecil ini, termasuk, apa ya kalau orang menyebut jagongan (red: kumpul bersama), bisa jadi cara juga, kalau ada yang tidak sesuai kita bersama-sama meluruskan,” ujarnya.

Pun juga untuk kegiatan keagamaan, toleransi ditengah keberagaman juga terlihat, Pemuka agama Hindu Adi Wiyono mengatakan apa yang dicontohkan di Desa Balun dengan semangat pluralisme tak hanya bermakna simbolik, melainkan harapan nyata bagaimana semestinya keberagaman berkeadaban dalam semangat persaudaraan dan persatuan.

“Contoh ketika ada acara ogoh-ogoh semua berpartisipasi. Ini sangat luar biasa, yang buat ogoh-ogoh bukan orang Hindu saja, tapi umat Muslim dan Kristen ada. Bahkan ketika diarak itu lintas agama juga ikut mikul,” urai Adi Wiyono.

Pria yang memasuki masa pensiun guru SD ini mengakui secara sadar atau tidak sadar Desa Balun menjadi mercusuar kecil-kecilan akan pluralisme, apabila ada orang luar memasukkan ide merusak kerukunan, hal itu dapat diatasi karena peran semua lini. Adi mengaku tidak ada kegiatan formal untuk menyatukan itu, semua berjalan secara alami tanpa paksaan.

“Semua alami berjalan dengan sendirinya, bahkan ketika membangun Pura juga tidak ada kendala. Itu aturannya kan harus ada tanda tangan 90 orang untuk umat Hindu, 60 dari Muslim, dan 30 Kristen, semua saling bantu bahkan ketika membangun tidak ada pertentangan,” paparnya.

Pria kelahiran Banyuwangi ini melihat keberagaman multi agama toleransi tanpa adanya  masalah perbedaan menjadi hal yang khas, sebab menurutnya yang beda hanya cara, tempat dan waktu dalam  menjalankan keyakinan, diluar itu masyarakat Balun berbaur menjadi satu tanpa adanya sekat.

“Kalau saya melihat dan merasakan keberagaman  memang  multi agama, itu menunjukkan toleransi yang baik dengan tidak mempermasalahkan perbedaan. Toleransi disini sudah berjalan sejak lama yakni adanya Hindu dan Kristen, itu sudah hampir 50 tahun lalu,” terang Adi.

Agama Hindu di Desa Balun terdapat 70 Kepala Keluarga dengan 325 jiwa. Sebagai orang yang ditokohkan, mantan guru agama Hindu itu menekankan pentingnya merawat dan menjaga toleransi menghormati antar sesama, sebab diakui pemandangan nyata kehidupan di luar Balun dengan berbagai permasalahannya menjadi perhatian, maka tidak heran para orang tua selalu memberikan gambaran atas fenomena yang berkembang di tengah masyarakat.

“Kita beri contoh pada anak-anak muda disini kejadian diluar, ini lho contohnya jika tak menghargai toleransi, ini lho contoh tatanan yang morat-marit, ini lho contoh-contoh jika informasi di terima tanpa secara sepihak, kita lebih menonjolkan dampaknya, jadi dengan pemahaman itu secara sendirinya sudah terpatri,” Ungkap Adi.

Sebagai agama mayoritas, umat Muslim di Balun juga paham betul apa yang menjadi tugas dan kewajibannya. Meski tak ada perjanjian tertulis, bagi warga Muslim, kultur budaya leluhur yang mengajarkan pentingnya sebuah toleransi menjadi pondasi kuat dan terus dipertahankan.

Bagi Suwito Ketua Takmir Masjid Miftahul Huda, Desa Balun, masyarakat nya sudah dewasa dalam memahami suatu permasalahan antar agama. Kendati diakui riak-riak kecil itu ada, semua bisa diatasi dengan yang namanya kenduri atau kumpul antar warga membicarakan hal ringan.

Wito ingat betul bagaimana konflik sempat terjadi antar pemuda gara-gara postingan di media sosial yang tidak jelas beritanya, Semua itu diakui dapat diredam dengan duduk bersama tanpa ada perselisihan.

“Saya harus jujur kemarin lima tahun lalu ada lewat Media Sosial, itu menjelang hari Natal, ada postingan dari Pemuda agama lain terkait ayat  Al-quran. Itu tidak berlangsung lama, karena lintas lini bergerak, ternyata itu bukan ayat Al-quran. Selain itu yang memposting itu setelah diselidiki ternyata mempunyai masalah, jadi kita selesaikan secara bersama-sama dan itu yang terus kita pegang sampai sekarang,” ungkap Suwito.

Tidak hanya itu, ikatan keluarga yang erat juga menjadi faktor, tidaklah heran di Desa Balun dalam satu keluarga memeluk agama berbeda dan itu merupakan hal biasa.

“Saya sendiri dari Ibu saya itu lima bersaudara, pertama laki-laki, Pakde saya itu penganut Hindu, Ibu saya sendiri Muslim, Bibi saya, adek Ibu saya Kristen, walaupun kita beda agama karena satu keluarga itu yang buat guyub,” kata Suwito.

Suwito juga mengaku warga Desa tidak melarang siapa saja masuk didesanya. Sikap terbuka selalu dijunjung, bahkan memfasilitasi, termasuk mempersilahkan siapapun untuk berdakwah, tidak hanya dari ajaran Islam, tapi juga dari agama lain. 

“Kita tidak menolak, bahkan ada yang pernah dari Pakistan, India, sampai ada yang dua minggu kita tidak menolaknya, secara garis besar mereka kan juga mengajak kebaikan, itu sudah ada sejak 2002, tapi ya gitu warga tidak ada yang ikut dan terpengaruh, itulah yang membedakan desa Balun dengan khasanahnya yang tetap terjaga,” urainya.

KENDURI DAN BUDAYA KEARIFAN LOKAL

Pengamat Budaya asal Surabaya Kukuh Setyo Budi Akhrianto, membeberkan filosofi kenduri bisa sebagai perekat antar masyarakat. Semangat berkumpul yang dilakukan bersama-sama dalam kenduri dijelaskan Kukuh bisa menjadi cara mempersatukan sesama. Bagi Kukuh Kenduri simbol persatuan bukan identitas suatu agama.

"Ulang tahun itu juga disebut kenduri, kan konotasinya memang kenduri adalah sarana berkumpul. Kalau disitu medianya ada kue tart misalnya ya tidak apa-apa," ujar Kukuh.

Kukuh juga mengupas lebih dalam siapa saja yang berhak memanjatkan atau memimpin doa dalam tradisi berkumpul atau kenduri. Semua itu tidak harus meihat agamanya apa, selama dinilai mampu itu lebih dari cukup.

“Dalam kenduri itu dipanjatkan aneka doa. Siapakah yang bisa memanjatkan doa? Biasanya ada satu orang yang dituakan berfungsi  sebagai pemimpin doa, itu tidak harus dari agama Islam ya. Kalau yang punya hajat misal Nasrani ya itu bisa memimpin doa juga,” papar Kukuh.

Persoalan akan muncul ketika kenduri yang berangkat dari sebuah tradisi dibenturkan dengan agama. Hal itu tidak akan membesar ketika masing-masing dengan kerendahan hati menempatkan kenduri dalam kerangka sebuah tradisi budaya masyarakat. Sebuah tradisi budaya adalah sebuah tradisi yang melintasi agama. Dalam budaya, semua dilebur menjadi satu.

“Dalam kenduri akan terlihat jelas bagaimana kebersamaan dan keutuhan tercipta, suasana penuh kerukunan, sendau gurau antar sesama, bagi-bagi berkat dari nasi tumpeng yang baru didoakan, atau ketika bersalam-salaman dengan tulus, itu gambarannya, tidak melihat agama juga, karena semua keyakinan apapun bisa menggelar kenduri,” terangnya.

BALUN DESA PANCASILA

Harmoni kerukunan antar umat beragama di Desa Balun, Kecamatan Turi, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur memang mengundang decak kagum. Saat toleransi dirasa mulai luntur, Desa ini justru seakan mampu menampilkan wajah Indonesia yang sebenarnya. Tak berlebihan, jika Balun ini mendapatkan predikat "Desa Pancasila".

Gambaran guyub dan toleransi yang diperagakan warganya tentunya menjadi tanya? Ada apa di Desa Balun?.

Desa Balun terletak sekitar 1 kilometer dari jalan Surabaya-Tuban. Di Desa ini penduduknya beragama Muslim, Kristen dan Hindu, semua bisa hidup berdampingan. mereka memiliki tempat ibadah masing-masing, tanpa harus saling mengganggu. 

Wilayah Balun seluas 621,103 hektar dan berpenduduk 4.730 jiwa dari 1.234 keluarga. Di Desa itu berdiri kokoh Masjid Miftahul Huda dengan menaranya menjulang tinggi, di depan Masjid tergambar jelas patung Yesus dengan latar belakang Gereja Kristen Jawi Wetan, sedangkan tepat disamping Masjid berdiri Pura Sweta Maha Suci.

Pemandangan jamak memang, para pemeluk agama berbeda disuatu wilayah. Namun yang bikin pembeda didesa ini yakni sikap toleransi yang dilakukan dari hal sekecil apapun agar kerukunan tetap terjalin dengan baik, termasuk salah satunya menangkal berita hoax.

Khusyaeri Kepala Desa Balun menceritakan peran tokoh utama hingga toleransi dan keberagaman di desanya terjaga sampai sekarang. Semua itu katanya tidak lepas dari seorang prajurit TNI bernama Bati.

Bagi warga Balun, Pak Bati adalah pelopor, ditengah konflik G30 S yang menyertai sebelum 1967 ketika warga dihadapkan pada ketidak pastian dan ketakutan, Bati hadir.

“Saat itu Pak Bati baru pulang tugas dari Irian Jaya menikah dengan warga desa sebelah dan memeluk Kristen. Ya tidak ada paksaan warga disuruh memeluk agama, Pak Bati juga tidak dari pintuk ke pintu mengajak. Pak Bati mengatakan orang Balun boleh memeluk agama apa saja, selama diakui diresmikan negara,” terangnya.

Apa yang disampaikan waktu itu bagi warga merupakan angin segar, kebebasan beragama seakan menjadi modal dasar meneguhkan persatuan.

Atas kemajemukan dan toleransi antar agama yang digambarkan itu, banyak pihak menilai Balun layak disebut Desa Pancasila. Bukan hanya rasa persatuan dan kesatuan yang kuat, namun lebih dari itu menjaga kearifan lokal dengan tradisi dan budayanya juga menjadi alasan.

“Kalau saya tidak lupa kampung Pancasila itu tahun 2012. Pluralitas itu tahun 1967. Jadi yang memberi nama bukan  kami, tapi yang telah datang kesini,” ungkap Khusyaeri.

Sebutan Desa Pancasila merupakan ide dari para pendatang dan mahasiswa, melihat keberagaman dan toleransi yang terjalin akhirnya disepakati bahwa Balun layak disebut kampung Pancasila.

“Kalau kita rata-rata empat sampai lima kampus seluruh Indonesia pernah datang ke sini, jadi mereka menyepakati bahwa desa ini memang pantas disebut Desa Pancasila. Kami waktu itu kumpulkan masyarakat, ketika itu kita sepakati bersama, julukan Kampung Pancasila kita terima tahun 2012,” terangnya.

Bagi Khusyaeri citra Balun Kampung Pancasila perlu dijaga dan dirawat, bukan karena rona-rona kehidupan keberagaman warganya, namun bagaimana menepis stikma yang selama ini berkembang bahwa Lamongan dianggap banyak melahirkan teroris.

“Ya stikma itu memang masih ada, tapi kondisi yang ada sekarang ini salah, di Tenggulun desanya Amrozy sekarang juga sudah bagus. Kemarin juga ada dari BPIP (Badan Pembinaan Ideologi Pancasila) yang kesini juga melihat stikma yang dialamatkan itu salah,” urainya.

PENTINGNYA TOLERANSI DAN KEBERAGAMAN

Apa yang menjadi ciri Desa Balun, bisa menjadi inspirasi daerah lain, toleransi dan kebersamaan yang digambarkan bisa menjadi cara merajut perbedaan, ibarat satu kandung Ibu Pertiwi waktunya menyatukan perbedaan atas nama Indonesia.

“Kedepan jika seandainya ada perbedaan biarkan perbedaan itu ada diranah kaidah karena keyakinan mereka dan kita tentunya berbeda tidak harus kita menyingkirkannya. Zaman Rasulallah ada agama selain Islam, nyatanya di Madina bisa rukun, amat sangat perlu daerah lain mencontoh itu. Bukan berarti ada gereja dan Pura, kaidah mereka rusak, bahkan itu justru semakin merekatkan keyakinan mereka,” ujar Solchun Ghozali peneliti keberagaman Desa Balun.

Solchun optimis jika setiap daerah lebih terbuka akan keberagaman dengan budaya kearifan lokal yang dimiliki, maka rasa persatuan, persaudaraan dan spirit berketuhanan dalam Pancasila akan terpatri. 

Dosen Universitas Sunan Giri (UNSURI) Surabaya ini juga yakin berita hoax yang berdampak pada konflik permusuhan akan terkikis jika masyarakatnya selalu menjalin kebersamaan dan toleransi.

“Toleransi itu berarti kita menerima perbedaan tanpa pertentangan. Perbedaan silakan saja, tapi tidak lantas menjurus kepada permusuhan dan kehancuran,” pungkasnya.
       

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00