• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Kuliner Nusantara

Nasi Bumbung, Hidangan Unik Warisan Leluhur Masyarakat Mojokerto

27 July
11:39 2019
0 Votes (0)

KBRN, Mojokerto: Warga Desa Begagan Limo, Kecamatan Gondang, Kabupaten Mojokerto memiliki hindangan warisan leluhur yang hingga kini masih dilestarikan, nasi bumbung namanya.

Nasi bumbung awalnya hanya dinikmati warga saat mereka pergi ke hutan untuk mencari nafkah, tanpa membawa bekal makanan apapun.

Untuk membuat hidangan unik ini, biasanya cukup menggunakan beras dengan ikan asin atau klotok sebagai lauk pelengkapnya.

Nasi tersebut ditanak menggunakan bumbung alias bambu yang banyak ditemukan di sekitar hutan lereng Gunung Anjasmoro. Sehingga saat warga pergi ke hutan, tak kesulitan mencari bambu sebagai alat memasak. 

Anton, salah satu warga yang biasa membuat nasi bumbung mengatakan meski menggunakan bambu, namun cara masaknya tidak jauh berbeda dengan menggunakan panci.

“Beras yang sudah dibersihkan dimasukan ke dalam bumbung. Bambu yang diambil cukup satu ruas supaya beras tidak tumpah. Bambunya dibersihkan terlebih dahulu dan dilubangi,” ujarnya di Mojokerto, Sabtu (27/7/2019).

Ia menambahkan, lubang tersebut bertujuan untuk memasukkan beras yang sudah dibersihkan. Beras yang sudah dibersihkan dimasukkan bumbung kemudian diberi air secukupnya serta garam, tujuannya agar nasi yang dihasilkan lebih nikmat.

“Beras kemudian dimasukkan ke bumbung. Isi beras dibakar menggunakan kayu yang ada di hutan. Warga tak perlu membawa korek api karena saat mereka di hutan bisa menggunakan kayu kering untuk menghasilkan percikan api,” imbuhnya.

Ia menjelaskan, untuk mengecek nasi sudah masak atau belum, dapat terlihat dari lubang bumbung. Dari situ, terlihat nasi di pinggir bumbung akan terlihat seperti kerak. 

Dinikmati bersama ikan asin, nasi bumbung juga biasanya dilengkapi sambal gejrot. Sambal ini dibuat dari kemiri, bawang merah, bawang putih, asam dan cabai.

Warga lainnya, Kardi yang juga biasa menikmati nasi bumbung menuturkan bahwa makanan ini merupakan warisan nenek moyang warga Begagan Limo yang masak dengan bambu saat ke hutan.

“Kenapa dinamakan nasi bumbung karena masaknya pakai bambu, petung atau yang tidak terlalu muda. Ini tradisi Begagan Limo,” katanya.

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00