• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Teknologi

Dunia Industri Perlu Tingkatkan Pendanaan Inovasi

25 July
20:45 2019
1 Votes (5)

KBRN, Jakarta : Pendanaan Inovasi untuk mencapai kemandirian bangsa membutuhkan jembatan antara dunia pendidikan dan dunia industri yang harmonis, dengan fokus untuk peningkatan nilai tambah produk. 

Hal itu dikemukakan Direktur Sistem Inovasi Ditjen Penguatan Inovasi Kemenristekdikti, Ophirtus Sumule pada diskusi dengan sejumlah stakeholder dengan tema "Kebijakan Pendanaan Inovasi Nasional" di Jakarta, Kamis (25/7/2019).

Diskusi ini melibatkan berbagai pihak seperti perwakilan dari Pusat Penerimaan dan Anggaran Belanja Negara (BKF Kemenkeu), perwakilan dari Direktorat Pendidikan Tinggi, IPTEK dan Kebudayaan Bappenas, perwakilan Presiden University, perwakilan dari Direktorat Perusahaan Pemula Berbasis Teknologi, Direktorat Inovasi Industri dan berbagai stakeholder lainnya. 

Menurut Ophirtus, kebutuhan pendanaan ini telah disadari oleh semua pihak, namun pada pelaksanaannya, masih diperlukan terobosan baru guna menumbuhkan bisnis pemula.

"Hal ini dikarenakan situasi bisnis saat ini belum memungkinkan untuk melakukan link and match dengan industri secara optimal, baik karena industrinya belum ada maupun karena principal industry tersebut berada di luar negeri," terang Ophirtus. 

Kasubdit Pengembangan Sistem dan Jaringan Inovasi Kemenristekdikti, Wihatmoko Waskitoaji menjelaskan, inovasi dalam artian menjadikan produk tersebut ada di pasar merupakan hal yang tidak mudah, karena ketika sebuah produk telah selesai pada tahap riset diperlukan investasi yang tidak sedikit ketika mengupayakan invensi tersebut menjadi sebuah inovasi. Hal itu

"Ini berkaitan dengan kebutuhan biaya  yang timbul untuk pilot dan commercial, serta tahapan commercial support dan competitive commercial bisa menjadi sangat besar," ungkapnya. 

Karena itulah, pendanaan inovasi perlu ditingkatkan dan diarahkan untuk mendukung pengembangan dan penciptaan nilai tambah, baik melalui aspek ekonomi, maupun sosio-kultural.

Pada 2019, alokasi dana abadi untuk riset sebesar Rp 1 trilyun,  sehingga seyogianya pendanaan untuk mendorong hasil riset menjadi inovasi yang masuk ke industri dapat di alokasikan dana yang lebih besar . 

Strateginya, menurut Ophirtus Sumule, pengalokasian dana abadi untuk inovasi dapat dikelola dengan mengacu pada pola kerangka penggunaan dana untuk pengembangan SDM, yakni LPDP dengan menggunakan lembaga independen.

Diharapkan dengan menggunakan lembaga independen sebagai pengelola dana abadi untuk inovasi, maka penggunaan dana abadi lebih terarah dan tidak terpaku pada sistem penganggaran negara yang bersifat rigid.

Dampak yang diharapkan adalah munculnya produk-produk invensi Perguruan Tinggi menjadi inovasi atau semakin meningkatnya kualitas dan kuantitas produk nasional yang siap bersaing di tataran global.

"Pendanaan dana abadi inovasi selain bersumber dari pemerintah juga dapat berasal dari pihak swasta. Oleh karena itu, FGD ini dilakukan untuk menyatukan persepsi  tentang sebuah sistem yang yang dapat menghimpun seluruh sumber pembiayaan, baik yang berasal dari bisnis dan masyarakat. Sumber pembiayaan tersebut dapat bergabung dalam skema pembiayaan dana abadi jika memungkinkan," pungkas Ophirtus. 

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00