• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Feature

Jejak Hotel Shalimar, Tempat Nongkrong Sosialita Zaman Belanda Hingga Bekas Gedung RRI

25 July
12:53 2019
1 Votes (4)

KBRN, Malang : Kota Malang memiliki sejarah panjang yang berkaitan erat dengan zaman penjajahan Belanda. Di kawasan Jalan Ijen dan sekitarnya misalnya, banyak bangunan peninggalan kolonial Belanda yang masih bertahan hingga saat ini. Kini, sejumlah bangunan peninggalan Belanda telah diusulkan menjadi bangunan cagar budaya.

Salah satunya Shalimar Boutique Hotel yang terletak di Jalan Cerme 16, Kota Malang. Ketika memasuki hotel tersebut, nuansa klasik terasa dari arsitektur bangunan. Bangunan hotel bernuansa warna putih ini ternyata memiliki sejarah panjang sejak zaman penjajahan Belanda hingga perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia. Restoran hotel yang berada di gedung utama juga masih bangunan asli peninggalan Belanda. Lagu-lagu nuansa Eropa juga masih diperdengarkan hingga kini melalui gramophone yang terpasang di taman depan bangunan hotel. 

Tahun ini, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Malang mengusulkan hotel ini bisa ditetapkan menjadi salah satu banguna cagar budaya yang dilindungi melalui SK Walikota Malang. Penunjukan bangunan Hotel Shalimar menjadi aset cagar budaya dilatarbelakangi beberapa alasan. Konon, bangunan seluas 500 meter persegi ini sekitar tahun 1942 menjadi tempat berkumpul dan berdansa societeit di zaman penjajahan Belanda.

"Secara historis, hotel ini punya sejarah panjang yang tidak bisa dipungkiri. Dulu kawasan Jalan Ijen dan sekitarnya merupakan perumahan elit Belanda, sekaligus tempat untuk bersosialisasi. Sedangkan bangunan hotel ini dulunya  memang didesain untuk tempat bertemu dan pestanya pejabat Belanda yang tinggal di Ijen," papar Kasi Promosi Wisata Disbudpar Kota Malang, Agung Harjaya Buana, Kamis (25/7/2019).

Pada saat pendudukan Jepang, gedung tersebut lantas berubah menjadi rumah bagi tahanan Belanda atau kamp interniran sekitar tahun 1942 hingga 1945, sebelum para tahanan tersebut dipindah ke Cimahi. "Gedung ini dulunya juga pernah tertulis logo Freemansory, bisa jadi menjadi tempat berkumpulnya penganut kepercayaan ini," ungkapnya.

Kemudian di era tahun 1945 pasca kemerdekaan, bangunan ini menjadi Gedung Radio Republik Indonesia (RRI) Malang. Hingga akhirnya RRI melepas asetnya, dan berubah menjadi bangunan hotel Graha Cakra, sebelum menjadi Hotel Shalimar. "Saat itu, RRI menjadi radio perjuangan. Karena sejarah panjang ini, maka tim volunteer cagar budaya Kota Malang mulai melakukan pendataan dan survei agar bangunan hotel ini bisa ditetapkan menjadi cagar budaya," tutur Agung. 

Dalam survei tersebut, para volunter didampingi Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) diminta melakukan beberapa penguatan data. Mulai dari penggambaran secara geografis lokasi, hingga identifikasi bangunan. "Didata terkait tipologi bangunan dan letak geografis misal arah bangunan, di jalan apa, dan lain-lain. Kami juga mengumpulkan keterangan pengelola untuk mengetahui mana bangunan asli, atau mana bangunan tambahan," tandasnya.

Genneral Affair Manager Shalimar Boutique Hotel, Agoes Basoeki siap mendukung langkah pemerintah untuk menjadikan bangunan Shalimar menjadi salah satu cagar budaya. Terlebih lagi, hotel berbintang lima ini memang sengaja dikonsep nuansa klasik.

"Dengan senang hati, kepedulian manajemen dan owner melestarikan bangunan heritage ini akhirnya direspons oleh Pemkot. Kami memang senang melestarikan bangunan heritage. Sebelum menjadi Hotel Shalimar,  dulu Hotel Graha Cakra konsepnya tradisional," tutur Agoes. 

Konsep bangunan klasik ala Belanda ini menarik perhatian wisatawan asal Eropa yang berkunjung ke Malang. Ketika musim liburan tiba atau akhir pekan, tak jarang wisatawan asing yang memilih menginap di tempat ini. Total, ada 44 kamar tersedia di Hotel Shalimar dengan okupansi sekitar 50 persen di hari biasa, dan 100 persen di musim liburan. "40 persen tamu kami merupakan wisatawan elit asal Eropa, ada juga yang dari Asia. 60 persennya tamu dari lokal," tandas Agoes. 

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00