• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Mitigasi Bencana

Mitigasi Bencana, Presiden Ajak Semua Pihak Bersatu Perbaiki Kekeliruan

24 July
09:41 2019
0 Votes (0)

KBRN, Jakarta : Untuk mengurangi risiko-risiko yang ada, sebagai negara yang termasuk paling rawan bencana, Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengingatkan bahwa kebijakan nasional dan daerah harus bersambungan atau berkaitan, harus sensitif satu sama lain, kemudian harus antisipatif semuanya terhadap kerawanan bencana apapun yang terjadi.

“Risiko-risiko yang dimiliki ini bisa diminimalkan, bisa dikurangi apabila ada peringatan-peringatan dini terhadap daerah-daerah yang rawan bencana, terhadap lingkungan-lingkungan yang rawan bencana,” kata Presiden Jokowi saat Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) 2019, di Istana Negara, Jakarta, Rabu  (24/7/2019).

Untuk itu, Presiden mengingatkan BMKG harus menjalin hubungan yang baik dengan pemerintah Daerah. 

“Tolong beritahukan apa adanya, supaya setiap pembangunan itu juga mengacu,” tegas Presiden.

Kalau daerah-daerah yang rawan bencana, Presiden menegaskan agar diberitahukan, sampaikan bahwa daerah ini rawan gempa, lokasi ini rawan banjir, jangan dibangun bandara, jangan dibangun bendungan, jangan dibangun perumahan.

“Tegas harus disampaikan. Jangan sampai mengulang-ulang kesalahan yang sudah jelas,” tutur Presiden.

Jokowi lanjut menuturkan, jika memang di daerah tersebut jelas terdapat garis lempengan tektonik, sampaikan apa adanya bahwa ini tidak boleh, ini lokasi merah. 

“Harus berani menyampaikan itu kepada pemerintah daerah, baik kepada gubernur, maupun kepada bupati dan walikota,” ujar Jokowi.

Ada Potensi Bukan Prediksi, Kepala BMKG Ajak Masyarakat Tidak Cemaskan Megathrust

Berkaitan dengan pesan dan amanat Presiden Jokowi, Kepala Badan Metereologi, Klimatologi, dan Geofisikan (BKMG) Dwikorita Karnawati memastikan pihaknya siap untuk segera menindaklanjuti.

Menurut Dwikorita, sebagai negeri cincin api dan sabuk gunung api yang berada di atas lempeng-lempeng tektonik yang aktif, BMKG mengakui adanya potensi terjadinya megathrust di Indonesia yang berdasarkan hasil kajian, riset, ada potensi untuk mengalami gempa dengan kekuatan lebih dari 7 bahkan sampai lebih dari 8 Skala Richter (megathrust).

“Itu harus dipahami bukan untuk ketakutan karena itu namanya potensi. Potensi itu beda dengan prediksi, kalau prediksi itu kepastiannya lebih tinggi,” kata Dwikorita menjawab wartawan usai mengikuti Rakornas BMKG di Istana Negara, Jakarta. 

Potensi itu, lanjut Kepala BMKG, ada kemungkinan. Tetapi ia mengingatkan, ilmu pengetahuan sampai saat ini belum bisa menjawab seberapa besar kemungkinannya serta kapan terjadinya.

Karena itu, dari pada ketakutan, mengandai-andai kejadiannya kapan, dirinya menyarankan, selama masih berada di Indonesia, semua mesti meningkatkan kewaspadaan dan pengetahuan akan kerawanan bencana.

“Mau tinggal di Lombok, mau tinggal di Jogja, mau tinggal di Jakarta, mau tinggal di manapun di Indonesia itu kalau dengan gempa (pasti) akan mengalaminya, entah kapan,” tegas Dwikorita.

Oleh karena itu, lata dia, yang penting adalah mitigasi dan persiapan untuk menghadapi. Mitigasi, antisipasi, dan adaptasi. Selain itu, nantinya pihak-pihak terkait dari pemerintah dan lembaga berwenang, juga akan mempersiapkan jalur evakuasi.

Jadi, lanjut Dwikorita, sekarang adalah era untuk persiapan, baik jalur evakuasi, tempat berkumpul, tempat berlindung, dan yang paling penting persiapan itu akan lebih ringan kalau tata ruangnya sejak awal sudah mengikuti zona yang aman dari bahaya.

“Jadi yang penting itu, bukan cemas kapan kalau nanti ada gempa, tsunami. Jadi lebih baik seperti itu, mengedukasi diri bersama-sama masyarakat, pemerintah daerah bekerja sama,” tutur Dwikorita.

Dengan tegas Dwikorita mengatakan, BMKG hadir di daerah juga dan salah satu tugasnya adalah bagian dari sistem edukasi, bagian dari sistem mitigasi, dan juga bagian dari sistem peringatan dini akan bencana alam. (Foto: Setkab RI)

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00