• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Teknologi

Kepala BPPT: UU Sisnas Iptek Tingkatkan Daya Saing Bangsa

23 July
17:40 2019
1 Votes (5)

KBRN, Jakarta : Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Hammam Riza mendukung penuh realisasi Undang-Undang Sistem Nasional Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Sisnas Iptek) yang telah disahkan oleh DPR-RI pada 16 Juli lalu 

Menurut dia, melalui undang-undang yang baru saja digolkan tersebut, Ilmu Pengetahuan dan teknologi (Iptek), memiliki posisi yang kuat dalam pembangunan nasional.

"Undang-Undang Sisnas Iptek merupakan tonggak sejarah kemajuan bangsa ke depan, sekaligus menjadi langkah awal untuk menciptakan lompatan kemajuan bagi bangsa Indonesia. Dengan adanya undang-undang ini, pengambilan kebijakan pembangunan nasional akan memerhatikan aspek ilmu pengetahuan dan teknologi," jelas Hammam dalam keterangan tertulis yang diterima RRI, Senin (23/7/2019) petang.

Ia juga menuturkan bahwa dengan adanya UU Sisnas Iptek, berarti untuk pertama kalinya hasil inovasi dan teknologi anak bangsa akan dijadikan landasan dalam pengambilan keputusan.

"Selama ini kaji terap teknologi dalam perumusan kebijakan pembangunan nasional, hanya dijadikan rekomendasi saja. Setelah UU Sisnas Iptek ini ada, maka kaji terap teknologi akan dijadikan salah satu dasar dalam perumusan kebijakan. Hal ini tentu akan meningkatkan daya saing dan  kemandirian bangsa," papar Hammam. 

Kehadiran UU Sisnas Iptek yang baru disahkan DPR pekan lalu ini juga menegaskan tujuh peran BPPT, yakni perekayasaan, kliring teknologi,  audit teknologi, alih teknologi, intermediasi, difusi, dan komersialisasi iptek.

Hammam berharap Undang-undang ini diimplementasikan di peraturan turunannya dan kuat, sehingga BPPT dapat lebih eksis dalam menghadirkan inovasi teknologi dalam pembangunan nasional.

"Kami terus berupaya agar inovasi dan teknologi menjadi penghela pertumbuhan ekonomi nasional. Jika semua penyelenggara iptek bergerak niscaya bisa visi Indonesia Emas akan terwujud dengan optimal,” ujar Hammam.

Batas pensiun

Terkait perpanjangan usia peneliti maupun perekayasa hingga 70 tahun seperti termaktub dalam UU Sisnas Iptek, Hammam pun setuju, asalkan tetap dapat berkontribusi maksimal. 

"Adanya perekayasa dan peneliti senior tetap dibutuhkan di suatu lembaga. Ini menunjukkan proses regenerasi, karena mereka dapat menjadi teladan sekaligus mentor bagi peneliti muda," imbuhnya.

Hammam lantas berharap agar keberadaan para senior itupun dapat menambah kemampuan SDM iptek untuk menggerakkan pertumbuhan ekonomi.

"Diharapkan banyak lulusan S3 yang bisa dipertahankan hingga 70 tahun sembari menguatkan pembangunan SDM yang baru melalui beasiswa dan diaspora," pungkasnya.

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00