• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Info Publik

Refleksi HUT KNPI, Pemuda Berliterasi akan Merawat Indonesia

23 July
08:25 2019
0 Votes (0)

KBRN, Jakarta : Sungguh sangat mencemaskan ketika menengok minat baca masyarakat Indonesia masih sangat minim. Pada dasarnya kondisi darurat literasi dan minat baca yang rendah dalam suatu komunitas masyarakat tentu selalu berbanding lurus dengan terpuruknya kualitas SDM. Hal itu diungkap Pengurus DPP KNPI, Tri Sasbianto Muang.

Dikatakan Tri Sasbianto, banyak faktor yang menyebabkan SDM rendah.  Diantaranya adalah kesejahteraan, kesehatan, pendidikan dan ekonomi.

"Kualitas SDM yang rendah dalam suatu komunitas pada prinsipnya bertalian kuat dengan banyak faktor mulai dari kesejahteraan, kesehatan, pendidikan, ekonomi bahkan konflik horizontal. Dari berbagai konflik yang terjadi, entah atas nama ego kedaerahan, agama, warna kelompok hingga bendera politik tertentu. Hulunya selalu sama, yakni kualitas SDM yang buruk," kata Tri Sasbianto Muang, Selasa (23/7/2019).

Ia pun mengutip Wiji Thukul yang berkata, "kamu calon konglomerat yah? Kamu harus rajin belajar dan membaca tapi jangan ditelan sendiri. Berbagilah dengan teman-teman yang tak dapat pendidikan". 

Menurut survei dari Central Connecticut State University mengenai Most Literate Nations in the World, Indonesia menempati peringkat ke-60 dari total 61 negara. Pengamat banyak menyebutnya sebagai kondisi darurat literasi. 

Masalah SDM, menurutnya, adalah perkara kemanusiaan yang tentu saja merupakan tanggung jawab bersama sebagai warga Negara namun, yang paling bertanggung jawab tentu adalah penyelenggara negara (baca : Pemerintah).

Dalam amanah UUD 1945 pemerintah memiliki kewajiban untuk meningkatkan kualitas manusia yang berada dibawah kekuasaannya. Mandat menjadi penyelenggara Negara tentu dibarengi tanggung jawab memperbaiki kualitas hajat hidup masyarakat. Sejauh yang kita ketahui, tingkat minat baca orang Indonesia menurut data UNESCO, hanya 0,001%. Artinya, dari 1000 orang Indonesia, cuma 1 orang yang rajin membaca. Hasil penelitian yang melibatkan organisasi berskala internasional cukup menampar wajah banyak orang di Indonesia.

Dikatakan Tri, banyak akademisi dan pakar pendidikan yang prihatin tentang persoalan ini namun, sekedar prihatin itu tak cukup. 

"Kita butuh terobosan yang jauh lebih efektif untuk terus meningkatkan minat baca masyarakat. Namun sebelum melakukan kampanye literasi kita tentu bertanya pada pokok persoalan. Kenapa minat baca bisa rendah ?" tanyanya.

Ia pun mengajak agar siapapun aktor yang bisa diandalkan diluar dari instrument pemerintah untuk mewujudkan Indonesia melek literasi dan mengembangkan apa tujuan Indonesia untuk kuat dalam berliterasi.

Menurut pengamatan Tri yang juga sebagai penulis adalah masih terbentur pada frasa bahwa urusan literasi adalah urusan sekolah, kampus-kampus atau institusi pendidikan yang "formal". Urusan membaca adalah urusan para pelajar, mahasiswa, guru, dosen dan akademisi. 

"Membaca masih dianggap tabu untuk ibu rumah tangga, pengusaha, pegawai, youtuber dan dunia profesi lainnya. Seolah orang yang berada diluar dari sistem pendidikan tidak memiliki kewajiban moril untuk memperkaya bacaan," imbuhnya. 

Padahal membaca merupakan aktifitas yang bisa dilakukan oleh siapa saja dan dimana saja. Paradigma seperti ini yang sejatinya harus kita lenyapkan dalam benak kita, benak masyarakat. Buku-buku dan aktifitas membaca bukanlah milik kalangan tertentu, namun ia adalah permenungan pintu peradaban yang setiap orang berhak memiliki demi meningkatkan kualitas diri masing-masing. Selain kampanye literasi dalam meningkatkan persatuan dan kesatuan bangsa, tak kalah penting adalah aktor yang akan terlibat langsung didalam kampanye tersebut. 

"Hari ini kita mungkin tak bisa berharap banyak pada tokoh elite yang sudah mulai “menua” karena ribut berebut jabatan pasca pilpres. Satu-satunya elemen masyarakat yang masih bisa diharapkan dalam merekatkan persatuan bangsa melalui gerakan dan kampanye literasi adalah kalangan pemuda terpelajar," jelasnya. 

Pemuda yang terpelajar seringkali menjadi tokoh kunci di tiap pergolakan zaman. Kita mungkin pernah mendengar sejarah yang mengurai bagaimana gerakan pemuda di Indonesia, namun belum tentu akrab dengan langkah-langkah perjuangannya di masa itu. Kita hanya mengetahui dari dokumen sejarah yang tersebar dan beredar luas. Lebih daripada itu, kita mesti mewarisi semangatnya di era industri 4.0 hari ini. 

Adalah sebuah kekeliruan jika hanya sekedar mengetahui tanpa pernah mencoba untuk memodifikasi atau memperbaharui apa yang pernah mereka lakukan untuk bangsa ini. Dahulu, pemuda bergerak karena akal budi dan kesadaran politis meronrong penindasan bangsa asing terhadap kaum pribumi, hari ini dapatkah kita sadar bahwa bangsa Indonesia yang darurat literasi justru menjadi sasaran empuk terjadinya perpecahan berkepanjangan yang diakibatkan minimnya literasi dan SDM yang terpuruk. Jika pemuda adalah jawaban masa depan bangsa, maka ia harus terpelajar dan berliterasi lebih dulu.

Sementara, berbicara soal pemuda Indonesia tentu benak kita akan tertuju pada satu nama yang mampu mempersatukan berbagai warna didalamnya yakni KNPI (Komite Nasional Pemuda Indonesia) yang berdiri sejak tanggal 23 Juli 1973. Di sanalah beragam pemuda terbentang dari Sabang sampai Merauke; berbagai daerah, warna, suku, agama, ras dan kebudayaan berkumpul sebagai mitra kerja sekaligus mitra kritis mengawal arah pemerintahan.

Ditambahkannya, tahun ini Rakernas DPP KNPI mengusung Tema : Indonesia Satu Tak terbagi, tentu sebagai langkah taktis pemuda akan terus mengawal sekaligus berkolaborasi dengan pemerintah dibidang Industri dan ketahanan informasi. Dari itu, hal yang paling mendasar dalam mencapai cita-cita luhur bangsa Kita satu di antaranya ialah mendorong 'gerakan literasi' (moral force). Gerakan literasi sejatinya akan semakin mempermulus kolaborasi pemuda dibidang industri dan ketahanan informasi. 

Ia pun mengajak agar pemuda tak boleh berhenti mengurusi dan mengawal peradabannya. Tak pernah lengah membela dan memperjuangkan tanah airnya. Besar harapan kita kiranya SDM masyarakat Indonesia ke depan dapat lebih bermartabat berkompetisi di dunia internasional, di sisi lain mampu meminimalisir jargon sentimental dalam derasnya konflik horizontal yang tak mendidik. Hingga bersama pemuda di masa-masa akan datang hadir sebagai pioner dalam merawat Indonesia satu tak terbagi. (rills)
 

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00