• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Sosok

Wali Nyatok Penyebar Islam Di Lombok Selatan

22 July
13:45 2019
0 Votes (0)

KBRN, Mataram : Penyebaran agama islam di Wilayah Selatan Lombok Tengah dilakukan oleh waliyulloh yang dimakamkan di makam kuno Rambitan.

Dari beberapa sumber menyebutkan bahwa yang menyebarkan agama islam di wilayah selatan adalah Wali Nyatok. Sejarawan NTB Doktor Jamaluddin, MA menyebutkan bahwa Wali Nyatok ini sebenarnya tidak ada yang tahu sejarah asal usulnya. Ada yang menyatakan jika Wali Nyatok berasal dari Arab. Namun pihaknya belum menemukan sumber yang menyatakan jika Wali Nyatok orang Arab.

“Itu tidak saya temukan. Begitu juga ada yang menyebutkan, seperti pak Tawal itu menyebutnya bahwa Wali Nyatok itu Said Ali atau Said Abdurrahman. Tapi saya juga tidak menemukan sumbernya dari mana,” katanya, kepada RRI, Senin (22/7/2019).

“Jika dilihat dari bukti – bukti arkeologi atau tinggalan – tinggalan yang ada di Lombok Selatan itu, misalnya tipologi batu nisan kemudian dari beberapa tinggal – tinggalan yang lain itu memang kalau kita lihat dari tipologi batu nisan, tipologi makam itu bisa jadi Wali Nyatok itu masih ada hubungannya dengan Selaparang Lombok Timur dan masih ada hubungannya dengan penyebar – penyebar agama islam di Bayan Lombok Utara,” tambahnya. Ini berarti jika Wali Nyatok dengan Selaparang dan Bayan masih ada hubungan keluarga.

Sementara itu Lalu Jelenge menyebut jika Wali Nyatok itu naman Deneq Mas Putra Pengendeng Segara Katon Rembitan. Tapi bahwa jika dilihat dari kajian – kajian arkeologis memang ada hubungan. Artinya dari tipologi itu mengindikasikan bahwa Rambitan ada hubungan di Selaparang.

“Nah Wali Nyatok ini adalah orang yang sangat luar biasa alim. Beberapa tulisan beliau yang masih kita temuka di wilayah – wilayah Rambitan itu mengindikasikan bahwa beliu termasuk orang – orang yang melanjutkan sebaran – sebaran islam yang menggantungkan mazhabnya ke mazhan Imam Syafii, ahlussunnah wal jamaah,” urainya.

Dari tinggalan arkeologis lainnya misalnya bangunan gedeng komplek makam Nyatok itu adalah simbol karena tiangny tidak boleh kurang dari 20. Dimana tiap – tiap satu gedeng tingganya berjumlah 10. Berarti ada dua gedeng tidak boleh kurang dari 20. “Makanya posisi tiang tidak beraturan. Nah pertanyaannya kenapa harus 20. Nah itulah simbol dari sifat 20,” tandasnya.

Yang sangat menarik dari Wali Nyatok ini kata Jamaluddin, yakni beliau adalah orang yang sangat luar biasa dalam berdakwah. Beliau terus berdakwah setiap harinya kecuali pada hari rabu. Pada hari rabu, menurutnya, Wali Nyatok tidak keluar dari kampung untuk berdakwah.

“Maka beliau selalu bilang pada murid – muridnya, siapa yang mau berziarah kepadaku maka datanglah pada hari rabu karena apa, karena pada hari lainnya mulai hari kamis hingga selasa beliau tidak ada ditempat. Artinya beliau keluar kalau hari jumat beliau jumatan dan beliau tidak mengadakan kegiatan atau bertamu sebab hari jumat beliu fokus beribadah,” ucapnya.

Beberapa manuskrif – manuskrif dan naskah – naskah yang ada di Rambitan dan naskah – naskah yang sama banyak ditemukan ditempat yang lain jika dilihat dari sisi tasawuf maka tasawufnya tasawud imam ghazali.

“Jadi tasawuf – tasawuf Al Ghazali sehingga beliau juga melaksanakan tarekat – terekat yang diajarkan Al Ghazali. Nah itu yang Wali Nyatok ajarkan ke masyarakat yakni mazhab ahlussunah wal jamaah mazhab Imam Syafii,” urainya.

Rambitan lanjutnya, merupakan salah satu pusat pengajaran islam waktu itu termasuk Selaparang, Bayan dan daerah lainnya di Lombok Tengah Selatan. Pada abad ke 18 daerah – daerah tersebut mengalami kemunduran dalam hal tradisi – tradisi keislaman.

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00