• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Info Haji 2019

Masyarakat Harus Waspadai Tawaran Haji Tidak Resmi

19 July
23:02 2019
0 Votes (0)

KBRN, Madinah : Masyarakat Indonesia yang diminta berhati-hati terhadap tawaran ibadah haji tidak resmi, dengan menggunakan visa di luar haji.

Hal itu ditegaskan Kepala Daerah Kerja (Daker) Madinah, Akhmad Jauhari terkait adanya warga Indonesia yang tidak menggunakan visa haji untuk melaksanakan rukun Islam kelima tersebut.

Kantor Urusan Haji Indonesia di Madinah mendapati seorang jemaaj calon haji tersesat dan terpisah dari rombongannya, Kamis (18/7/2019). Wanita paruh baya tersebut mengaku haji khusus dengan membayar ONH plus. Namun setelah diperiksa, visanya ternyata bukan visa haji, melainkan visa ziarah atau berkunjung.

“Bila ada tawaran untuk melaksanakan ibadah haji yang visanya tidak masuk dalam kuota resmi, itu yang perlu diperhatikan,” kata Jauhari di Kantor Urusan Haji Indonesia di Madinah, Jumat (19/7/2019).

Jauhari menuturkan, ada beberapa hal yang harus diperhatikan saat mendapatkan tawaran tersebut. Pertama, pastikan bahwa agen perjalanan yang memberangakatkan memiliki izin resmi.

Kemudian, sebelumm berangkat pastikan juga bahwa visa yang digunakan adalah visa haji bukan visa lainnya, seperti visa ziarah yang memiliki tenggang waktu hanya 30 hari.

"Ada juga visa pekerja musiman.
Pemerintah Arab Saudi mulai tahun 2014 gencar melakukan penertiban pada saat Armuzna (Arafah, Muzdalifah, Mina), akan dilakukan sweeping pemeriksaan secara ketat terhadap orang-orang yang akan masuk ke wilayah perhajian, hanya diperbolehkan bagi orang yang memiliki visa haji. Sedangkan orang yang tidak memiliki visa haji, potensinya besar untuk ditangkap dan tidak bisa masuk ke Armuzna," ujarnya.

Akhmad Jauhari menambahkan, hal lain yang harus diperhatikan adalah kelengkapan identitas agen perjalanan atau lembaga yang memberangkatkan jemaah tersebut.

“Agar apabila jemaah tersebut terpisah dari rombongannya, Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi bisa segera mengomunikasikannya untuk segera mengembalikan jemaah tersebut ke kelompoknya," ujarnya.

Dia mengatakan, bahwa bila jemaah tersebut tidak dibekali dengan identitas, maka proses pengembaliannya akan memakan waktu cukup lama.

"Dan tentu saja akan menimbulkan beban psikologis terhadap jemaah tersebut. Sebab, ketika terpisah dari rombongan, maka terjadi kecemasan. Apalagi, bila tidak bisa ditemukan dengan segera," pungkasnya.

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00