• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Kumham

LPSK: Hukum Berat Pengacara 'D', Perbuatannya Menghina Pengadilan

19 July
22:55 2019
0 Votes (0)

KBRN, Jakarta : Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) mendorong kepolisian dan organisasi induk advokat yang menaungi oknum pengacara berinisial D agar bertindak tegas, memberikan sanski berat karena melakukan penyerangan terhadap Hakim PN Jakpus saat persidangan berjalan.

Perbuatan tersebut, menurut Ketua LPSK Hasto Atmojo Suroyo, masuk dalam kategori contempt of court (penghinaan terhadap pengadilan).

“Pengacara merupakan bagian penegakan hukum, seharusnya dapat menjaga tindakannya dan menghormati persidangan,” ucap Hasto dalam rilis pers yang diterima RRI, Jumat (19/7/2019).

Hasto menyayangkan ulah oknum pengacara tersebut. Kejadian ini, menurutnya, bisa menjadi preseden buruk terhadap lembaga peradilan ke depan.

“Kalau perilakunya seperti itu, tentu kepercayaan masyarakat terhadap proses hukum bisa hilang,” ungkapnya.

Hasto memastikan pihaknya siap memberikan pendampingan jika dibutuhkan untuk menjaga keamanan Hakim yang menjadi korban pasca kejadian tersebut.

“Baik hakim (PN Jakarta Pusat-red) atau pihak-pihak lain yang potensial terancam, LPSK siap berikan perlindungan," tegasnya. 

Menyambung hal tersebut, Wakil Ketua LPSK, Edwin Partogi Pasaribu menjelaskan mekanisme hukum dibuat karena hal itu merupakan cara damai dalam menyelesaikan suatu masalah.

“Karena itulah, sudah seharusnya hakim mendapatkan perlindungan agar putusan yang dibuat, berdasarkan fakta-fakta yang ditampilkan di persidangan, bukan karena adanya ancaman,” ucapnya.

Edwin menyarankan jika majelis hakim yang menjadi korban penganiayaan merasa terancam, atau mendapatkan intimidasi dan teror agar segera meminta perlindungan ke LPSK.

“LPSK siap memberikan perlindungan sesuai dengan peraturan perundang-undangan,” tutupnya. 

Sebelumnya, dua hakim Pengadilan Negeri Jakarta Pusat mendapat serangan saat membacakan putusan perdata dengan penggugat Tomy Winata melawan PT Geria Wijaya Prestige (GWP). Penyerangan dilakukan kuasa hukum penggugat, D.

Gugatan perdata Tomy Winata sebagai penggugat teregistrasi dengan nomor perkara 223/Pdt.G/2018/Jkt.Pst

"Bermula ketika majelis hakim tengah mengadakan putusan, yang mana pertimbangan mengarah uraian bermuara petitum ditolak, sehingga kuasa dari pihak TW selaku penggugat berinisial D berdiri dari tempat kursi duduknya. Sebagai kuasa penggugat melangkah ke depan majelis hamim yang sementara membacakan pertimbangan," ujar Humas Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Makmur di Jakarta, Kamis (18/7/2019).

Makmur menjelaskan, sebelum hakim ketok palu dari putusan, Desrizal langsung mendatangi meja hakim sembari melepas ikat pinggang dan kemudian menyerang hakim.

Dari tiga hakim yang memimpin sidang, dua di antaranya terkena sikap tidak terpuji Desrizal. Hakim berinisial HS terkena bagian dahi, sementara hakim anggota 1 terkena di bagian lengannya.

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00