• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Info Publik

Tidak Diakui Pemerintah, Begini Tantangan Waria HIV Positif di Kota Depok

19 July
22:07 2019
0 Votes (0)

KBRN, Depok : Adalah AN (38) seorang waria HIV positif sejak 2013. Sejak saat itu, dia selalu meminta pelanggannya untuk menggunakan pengaman atau kondom sebelum berhubungan seks.

"Kalau pelanggannya ngga mau pakai pengaman, lebih baik aku tolak. Aku ngga butuh duit, karena aku butuh sehat," tutur AN kepada RRI di acara Pelatihan Media & CSO oleh Indonesia Aids Coalition (IAC) di Bumi Wiyata, Jalan Raya Margonda, Kota Depok, Jumat (19/07/2019).

Tantangan terberat AN sebagai waria adalah ketika mendapat pelanggan yang sedang mabuk. Resikonya bisa kena aniaya dan meminta uang kembali.

"Tantangan terberat aku ketika harus melayani orang mabuk, yang benar-bebar memaksa harus dilayani sampai puas. Resikonya ya gitu, seumpama ngga keluar, uang yang udah keluar diminta lagi," kisahnya.

Tantangan lainnya adalah kehidupan sosial mereka yang tidak diakui oleh pemerintah, imbasnya lingkungan masyarakat juga memperlakukan mereka sebagai warga dengan kelainan.

Meskipun AN dapat menjalin hubungan baik dengan warga sekitar tempatnya tinggal, seperti RT, tetangga di sekitar Kecamatan Pancoranmas, namun semua itu semu tanpa pengakuan dari pemerintah.

"Kalau sehari-hari mereka sih baik, tapi kita kan ngerasa itu cuman fenomena gunung es yang sewaktu-waktu dapat berubah dengan cepat dan drastis. Jadi kita tetap aja was-was, makanya harapan kita itu kita diakui oleh pemerintah," harapnya.

Keluar rumah, sekitar pukul 22:00 WIB, AN sadar dengan usianya yang sudah mulai tua, dia tidak merasa iri dengan waria pendatang baru. Kadang dapat pelanggan, kadang semalaman bahkan tidak ada sama sekali, sudah menjadi nasib yang diterima AN dengan ikhlas.

Namun hal itu, tidak membuat AN minder dipojokan tempatnya biasa mangkal di daerah Pancoranmas, Kota Depok. Sebab di rumah dia memiliki pasangan yang dapat menerima kondisinya dengan tulus apa adanya.

"Kadang dapet pelanggan, kadang ngga, ya udah nongkrong aja disitu ngopi mbari ngobrol dengan teman-teman dan pedagang. Pacar dan keluargaku dapat menerima kondisiku apa adanya buat aku itu sudah cukup bahagia," katanya.

Sebagai waria HIV positif, AN gencar melakukan sosialisasi bahaya HIV/Aids kepada pendatang baru di lokalisasi tempat mereka mangkal. Dia bahkan mengajak mereka untuk konseling hingga test untuk memonitor dan proteksi diri.

"Cuman ya gitu, karena mungkin mereka masih baru, masih cantik, masih muda, ah aku baru turun ko. Jadi kebanyakan ngga mau. Belum siap aja kali," pikirnya.

AN pernah mencoba sesuai yang baru, seperti kursus menjahit, bikin tas bahkan dagang dengan kakak kandungnya. Namun, setelah dijalani, AN merasa panggilannya tidak pada area tersebut.

"Waktu 2003-2005 keluarga belum tahu ya bahwa aku nongkrong dijalan segala macem. Kesini-kesininya aku tunjukkan bahwa hidupku, nadiku ada di tubuhku ini seperti ini. Aku ngga mau jadi boneka jiwa laki terperangkat dalam perempuan, jiwa perempuan terperangkat dalam laki dan kehidupan harus diatur seperti itu aku ngga bisa. Dan kebetulan mereka nerima aku sampai saat ini," ungkapnya.

  • Tentang Penulis

    Rido Lingga, S.Kom

    Jurnalis Radio Republik Indonesia | RRI Jakarta | email: lin99a@gmail.com

  • Tentang Editor

    Heri Firmansyah

    Redaktur RRI-Online

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00