• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Daerah

Era Digital, Revolusi Industri 4.0 serta Soceity 5.0, Guru dan Dosen Harus Mempesona

19 July
19:55 2019
0 Votes (0)

KBRN, Bandung: Direktur Pembelajaran Kementrian riset, Teknologi dan Pendidikan (Kemenristek) Paristiyanti Nur Wandi mengungkapkan, dalam meningkatkan kualitas tenaga pendidik, khususnya menyongsong era revolusi industri 4.0 dan society 5.0 pihaknya saat ini terus melakukan berbagai upaya.

“Memang sekarang gurunya dipaksa harus selalu belajar. Guru dan para dosen itu diminta oleh kami minimal 3 literasi baru. Kopetensi tentang literasi data, letarasi teknologi dan literasi tentang manusia. Jadi tidak boleh kaget lagi kalau guru dan dosen kalau tiba – tiba kedatangan tamu dari luar negeri yang ingin berdiskusi tentang standarisasi pendidikan guru maupun kita belajar satu ruang kelas dengan berbagai intitas warga negara,”ujarnya disela Seminar Nasional Refleksi Penyelenggaraan Program Pendidikan Profesi Guru, di Kota Bandung, Jumat (19/7/2019).

Selain itu juga, terbitnya Permenristekdikti nomor 55 tahun 2017 membawa dampak yang luar biasa serta memberikan angina segar untuk program pendidikan profesi guru.

 “Jadi bagaimana mulai dari melakukan seleksi secara nasional, online dan tidak ada dua standar. Semuanya satu standar secara nasional. Kemudian kurikulum secara nasional, modul standar nasional kemudian proses pendidikan dari mulai melakukan program lokakarya sampai dengan ppl secara nasional diakhiri dengan ujian kompetensi guru secara nasional,”ungkapnya.

Lebih lanjut ia juga mengatakan, yang paling membanggakan bagi Kemenristekdikti yang berkoloborasi dengan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan RI, adalah satu – satunya pendidikan profesi yang dikelola secara terpusat, sejak seleksi hingga ujian kompetensi.

“Karena kita sudah punya permenristekdikti nomor 55, jadi dosennya juga seleksi, yang mempunyai kapasitas, kapabilitas sesuai dengan permen 55. Kami sama untuk tenaga kependidikannya juga harus mendapatkan petunjuk atau ditunjuk oleh para rektor penyelenggara. Yang paling penting adalah standar penyelenggara pendidikan profesi guru,”jelasnya.

Ia juga mengungkapkan, dengan terbitnya aturan baru tersebut yang paling berdampak adalah  442 Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK)  yang ada harus bebenah diri memperbaiki kualitasnya terlebih dahulu. Kemdian setelah itu LPTK tersebut baru  mengajukan izin untuk menyelenggarakan Pendidikan Profesi Guru (PPG).

“Dari 2014 sampai dengan sekarang peningkatan akreditasi dari B ke A atau baik sekali ke unggul itu lebih dari 284 persen naiknya melonjak sekali. Kemudian dari yang mempunyai AIPTnya  C menjadi baik sekali itu 380 persen. Jadi ini berita yang sangat luar biasa,  karena kebijakan, peningkatan kualitas dan kapabilitas LPTK dikawal dengan baik oleh dua kementrian,”ucapnya.

Selain itu juga menurutnya, saat ini sosok guru sendiri harus mempesona dan hebat, sesuai dengan era digital serta menyongsong era revolusi industri 4.0 dan society 5.0.

Sementara dalam seminar tersebut diikuti 750 peserta mahasiwa dan tenaga pendidik. Acara tersebut bertujuan untuk mengevaluasi program pendidikan profesi guru di Indonesia.

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00