• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Daerah

Dalam Sehari, 3 Orang di Maluku Terinfeksi HIV/AIDS

16 July
11:46 2019
1 Votes (5)

KBRN, Ambon : Penyebaran HIV/AIDS di Maluku terbilang cukup tinggi, bila dirata-ratakan dalam sehari terdapat 2-3 orang terinfeksi virus membahayakan itu. Data Dinas Kesehatan Provinsi Maluku menyebutkan hingga saat ini tercatat 5.330 kasus HIV/AIDS terdeteksi. Kota Ambon menempati urutan teratas yaitu 3.529 kasus. 

Direktur Yayasan Pelangi Maluku, Rosa Pentury mengatakan jumlah kasus HIV/AIDS di lapangan justru melebihi data Dinkes. Masih banyak yang belum terdeteksi, penderita HIV/AIDS cenderung menutup diri dan enggan memeriksakan kesehatannya. 

Sejauh ini, yayasan yang dipimpinnya membuka link dengan semua rumah sakit, klinik dan puskesmas. Setiap pasien yang positif melalui hasil periksa darah, langsung didata oleh yayasan, guna melakukan advokasi. 

"Setiap ada pasien yang terinfeksi pihak puskesmas maupun rumah sakit menginformasikan ke kami, untuk kami data. Kami memberikan dukungan untuk mereka agar bisa menerima status sebagai ODHA (orang dengan HIV/AIDS)," jelas Rosa saat ditemui Selasa (16/7/2019)

Yayasan Pelangi Maluku per Juni 2019 telah mengadvokasi 1.107 kasus HIV/AIDS. Setiap ODHA baru, Rosa bersama lima stafnya membuka konseling, biasanya setiap ODHA memiliki penyakit penyerta seperti TBC, diare, getah bening dan bintik-bintik pada kulit, ODHA harus terhubung layanan kesehatan untuk mendapatkan obat rutin, serta therapy HRV atau obat yang menekan perkembangan virus. 

Dari berbagai kasus yang ditangani, kebanyakan ODHA adalah lelaki suka lelaki (LSL) dan ibu rumah tangga yang tertular melalui hubungan seksual. Pernah ditemukan balita meninggal karena HIV/AIDS. Awalnya balita itu dikira menderita busung lapar, karena ciri-ciri fisik antara busung lapar dan HIV/AIDS sama persis. 

Kecenderungan, ODHA yang meninggal dunia karena tidak rutin mengonsumsi ARV. Padahal ARV satu-satunya obat yang bisa menekan perkembangan virus. Waktu konsumsi obat pun tidak boleh terlambat harus sesuai anjuran dokter. 

"Kadang ada yang tidak patuh konsumsi obat atau sering telat minum obat. Padahal obat itu harus diminum terlambat malah buat virus mulai membelah diri dan semakin sulit dikendalikan. Jadi setiap saat pasien memang disuruh untuk pasang alarm jam minum obat," urainya

Penanganan kasus HIV/AIDS yang lamban dapat berujung kematian. Suatu kali Ia dihubungi petugas kesehatan Puskesmas Rijali, mereka menemukan seorang wanita tidak beridentitas tergolek lemah di Pasar Mardika Kota Ambon. Setelah dibawa ke RSUD Haulussy yang bersangkutan positif AIDS. Saat itu Yayasan Pelangi Maluku yang bertanggung jawab atas pasien. Pasien tidak dapat memberikan informasi apapun hingga yang bersangkutan meninggal dunia. 

Memandikan jenazah hingga pemakaman menjadi wewenang yayasan. Saat meninggal Wanita itupun dimakamkan diantara dua makam, di nisannya tertulis diantara yang tak bernama. Dengan harapan suatu saat ada keluarga yang mencarinya suatu hari, pihak keluarga dengan menyebutkan ciri-ciri fisik yang bersangkutan bisa menemukan makamnya. 

"Waktu dibawa ke rumah sakit kondisi pasien sudah drop ia bahkan lupa namanya. Sampai akhirnya meninggal saya yang bertanggung jawab dan dimakamkan. Beruntung setelah itu keluarga mencari dan ditunjukkan makamnya," ceritanya singkat

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00