• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Ekonomi

Waste Paper Impor Tertahan, Pabrik Kertas di Jatim Terancam Berhenti Operasi

15 July
23:58 2019
0 Votes (0)

KBRN, Surabaya : Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa menyebut, pabrik kertas di Jawa Timur, masuk lima besar di Indonesia. Dan eksport industri kertas dari Jawa Timur, menyumbang 23 persen industri kertas nasional. 

"Industri kertas di Jawa Timur, sebagian besar menggunakan waste paper (limbah kertas, red)," jelasnya, Senin (15/7/2019).

Persoalan yang kini sedang dihadapi pabrik kertas di Jatim adalah, kata Khofifah, ketika sampah kertas dari impor tersebut terdapat plastiknya. Sehingga, per tanggal 20 Juni lalu sampah kertas yang diimpor itu dikembalikan ke negara asal.

"Akhirnya sampah kertas yang diimpor akhirnya di re-ekspor," tambahnya. 

Akibatnya, rata-rata pabrik kertas di Jawa Timur yang bahan bakunya menggunakan sampah kertas impor tersebut, bahan bakunya semakin menipis. Salah satunya pabrik kertas di Ngoro, Mojokerto. 

"Termasuk pabrik ini, ternyata bahan bakunya sekitar bertahan sampai 10 hari kedepan," paparnya. 

Berdasarkan informasi yang diterima Khofifah, sekurangnya ada 305 kontainer sampah kertas impor yang tertahan di pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya. Dan ini, lanjut Khofifah, juga berpotensi dikembalikan ke negara asal. 

"Ini akan menjadi PR kami untuk mengkoordinasikan dengan Kementerian KLHK (Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan) dan Kementerian Perindustrian," katanya.

Khofifah menegaskan, jika pihaknya dan seluruh masyarakat Jatim, menolak impor sampah plastik. Tetapi kemudian impor sampah kertas yang menjadi bahan baku pabrik kertas itu menjadi tertahan, lantaran bercampur dengan plastik, maka pihaknya segera mencari solusi.

"Supaya industri kertas di Indonesia lebih khusus industri kertas di Jawa Timur yang menggunakan bahan baku kertas bekas itu tidak berhenti beroperasi," tegasnya. 

Khofifah menjelaskan, bahan baku kertas lainnya adalah Pulp (serat kayu). Bila menggunakan pulp, lanjut Khofifah, berarti penebangan kayu di hutan itu akan masif. Tetapi, apabila menggunakan kertas bekas, baik Permendag maupun konvensi basil itu sesuatu yang diseyogyakan. 

"Tetapi problem pada saat itu adalah ikutan plastiknya. Oleh karena itu ikutan sampah plastik ini harus dipisahkan dari kepentingan kita untuk bisa membangun industri kertas kita supaya tetap bisa berlangsung dan kompetibel di antara negara-negara lain yang juga melakukan masifikasi dari industri kertas yang ada," tandasnya. 

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00