• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Feature

Berawal dari Keprihatinan, Polisi ini Bangun Mushalla dan MCK untuk Warga

15 July
22:32 2019
1 Votes (4)

KBRN, Tanah Datar : Berawal dari keprihatinan terhadap warga yang hanya memanfaatkan sungai untuk kegiatan Mandi Cuci Kakus (MCK), atau mandi bercampur buang air pada lokasi yang sama, menarik hati salah seorang anggota Satuan Lalu Lintas Polres Tanah Datar Bripka Firman Zulkarnain, untuk merubah kondisi yang sangat tidak nyaman itu.

Firman Zulkarnain menceritakan, lingkungan di sungai Batang Tompo atau yang biasa disebut warga dengan Batang Selo, tepatnya di daerah Sitangkai Jorong Taruko Nagari Taluak Kecamatan Lintau Buo Kabupaten Tanah Datar terlihat tidak kondusif, sehingga perlu dilakukan perubahan.

“Warga Sitangkai tidak memiliki kamar mandi serta air bersih di rumah masing-masing. Satu-satunya tempat sentral bagi warga Sitangkai kala itu adalah sungai Batang Selo ini, Di lokasi itulah  warga melakukan kegiatan Mandi Cuci kakus (MCK), namun yang namanya sungai tentu saja tidak ada pembatas, warga mandi bercampur serta buang air di lokasi yang sama,” ulasnya, Senin (15/7/2019).

Sitangkai merupakan satu daerah di Nagari  Taluk, Kecamatan Lintau Buo yang menjadi jalur persinggahan. Kawasan Simpang tiga yang memiliki ikon jembatan yang dibangun zaman colonial Belanda. Di pinggir jembatan itulah warga melakukan kegiatan MCK, serta tempat bagi anak-anak setempat mandi dan belajar berenang. Di situlah berdiri sebuah pos polisi Unit Laka Lantas Satuan Lalu Lintas Polres Tanah Datar.

Sejak dahulu menurut Firman Zulkarnain, warga setempat menjadikan sungai sebagi satu-satunya sumber air untuk kebutuhan, termasuk untuk air minum. Kawasan ini merupakan persimpangan yang selalu disinggahi oleh warga sekitar Tanah Datar, baik yang ke Kabupaten Sijunjung ataupun ke arah Kota Payakumbuh. Disitulah, warga menanti angkutan umum untuk bepergian dan masih bertahan hingga saat ini.

Namun sayangnya, di daerah itu, tidak memiliki fasilitas bagi warga setempat maupun bagi warga yang tengah menunggu kendaraan umum untuk membuang hajat serta tempat shalat. Hingga pada tahun 2009 lalu, Firman Zulkarnain yang kala itu masih berpangkat Briptu mendapat tugas menjaga pos tersebut.

Awal bertugas ditempat tersebut, Firman Zulkarnain mengaku bahwa dirinya terpaksa bolak balik Batusangkar-Lintau Buo. Karena Sang istri Helvi Desyanti dan ketiga anaknya Azzah Syarifah F, Muhammad Fadlan F, dan Innayah Rafifah tinggal di Batusangkar. Selama sebulan itu pulalah, Firman mengamati kehidupan warga setempat yang melakukan segala aktifitas di sungai Batang Selo.

Tidak tahan melihat kondisi itu, keprihatinan Firman Zulkarnain semakin mencuat saat melihat warga mandi berbaur tanpa pembatas. Apalagi susahnya untuk buang hajat semakin memperumit keadaan. Disaat itulah, sanubarinya tersentuh untuk mendirikan sebuah mushallah dan tempat kamar mandi serta WC muncul. Apalagi surau dari lokasi tersebut berada jauh dan membutuhkan waktu untuk ke situ.

Setelah berkoordinasi dengan atasannya Kasat Lantas yang saat itu dipegang oleh AKP Ariffin Daeulay, Bripka Firman Zulkarnain meminta izin untuk fokus mengerjakan keinginannya itu. Setelah melalui segenap prosedur, akhirnya menetap dan tinggal di pos penjagaan yang luasnya hanya cukup untuk tidur berbaring.

Meski tidak tahu mendapatkan dana dari mana, namun keinginan baik tersebut mulai mendapatkan respon dari warga setempat, terutama dari si pemilik lahan Asnibar yang rumahnya berada disebelah pos jaga, menghibahkan lahan miliknya yang berada dibelakang pos dan rumahnya untuk dijadikan Mushalla.

Meski keinginan baik itu semakin kuat, namun tentu saja untuk mendirikan mushallah butuh dana yang tidak sedikit. Apalagi, harus mendam tebing dan mendirikan tonggak dari bibir sungai Batang Selo yang tingginya mencapai empat meter lebih.

“Saat itulah saya menemui sebuah toko bangunan, saya utarakan niat saya kepada pemilik toko. Alhamdulillah mendapat sambutan baik, padahal saya sendiri tidak tahu harus mencari dana kemana,” sebutnya.

Warga setempat yang mengetahui niat baik Firman Zulkarnain tidak mau berdiam diri, mereka mulai mengumpulkan dana untuk membeli semen pertama. Kemudian bersama mengambil batu dari sungai tersebut. Mulailah pembangunan Mushalla itu yang kemudian siap setelah satu setengah tahun kemudian.

Beruntung selama dibangun, tidak banyak kendala yang ditemui meski berada diposisi tepi sungai. Termasuk selama dibangun air sungai jarang sekali besar dan melimpah. Padahal sungai Batang Selo jika sudah meluap dapat merusak tanaman warga ataupun lahan warga karena saking besarnya meski hanya sesaat.

Perlahan, bantuan dari berbagai pihak juga mulai berdatangan, namun tetap saja Firman Zulkarnain yang tetap berkorban lebih. Setidaknya, secara pribadi dia telah mengeluarkan dana sebesar Rp150 juta.

Niat itu, benar-benar dilaluinya sendiri, termasuk mengerjakan bangunan Mushalla yang dia sendiri menjadi tukangnya. Dia mengerjakan bangunan tersebut selepas dinas jika pekerjaan wajibnya telah selesai dikerjakan. Hingga kemudian bangunan itu selesai dibangun dan diresmikan oleh Kasat Lantas sendiri pada tahun 2010.

Bangunan tersebut dibuat dengan luas 5x5 meter dengan beberapa kamar mandi. Untuk airnya, diambil dari sumur yang berada di seberang sungai yang kemudian di sedot dengan mesin air dan dilalui memakai selang yang membentang sepanjang sungai.

Sejak saat itulah, perubahan kebiasaan terjadi bagi warga Sitangkai. Mereka tidak lagi buang air di sungai, apalagi mandi bercampur baur. Sekarang, mereka dapat memakai beberapa kamar mandi yang ada tepat disebelah Mushalla tersebut. Warga pun tidak perlu lagi mengangkut air dengan ember yang harus dijemput jauh karena terpaksa memutar keseberang sungai. Selain itu, manfaat lebih utama yang dirasakan warga adalah dapat shalat berjamaah di mushalla itu termasuk pada bulan puasa untuk taraweh.

Usaha dan niat baik Firman Zulkarnain kemudian disambut baik oleh Pemerintah Kabupaten Tanah Datar melalui pemerintah Nagari, dan dengan Dana Alokasi Khusus (DAK), pemkab membantu membuatkan dam tebing serta jenjang untuk jalan menuju Mushalla.

Dapat Penghargaan pada HUT Bhayangkara ke 73

Pada peringatan HUT Bhayangkara ke 73 pada Rabu 10 Juli 2019 lalu untuk wilayah Polres Tanah Datar bertempat di Mapolsek Tanjung Baru, beberapa anggota kepolisian Resort mendapatkan penghargaan dari Kapolres AKBP Bayuaji Yudha Prajas.

Penghargaan juga diterima Bripka Firman Zulkarnain yang saat ini menjabat sebagai Kaurmintu Satlantas Polres Tanah Datar, yang telah mewujudkan mimpinya dan masyarakat membangun mushalla seluas 5x5 meter di daerah Sitangkai Jorong Taruko Nagari Taluak Kecamatan Lintau Buo.

Kapolres Tanah Datar AKBP Bayuaji Yudha Prajas memberi apresiasi kepada beberapa anggotanya yang berdedikasi, loyal, dan memiliki kinerja serta inovasi dan bermanfaat bagi masyarakat.

"Sebagai angota kepolisian kita harus berperan dalam memelihara keamanan dan ketertiban serta memastikan terciptanya penegakkan hukum. Memberikan pengayoman dan pelayanan kepada masyarakat yang membutuhkan perlindungan dan keselamatan tanpa terkecuali. Selain itu dengan semangat Promoter, Polri juga harus bermanfaat bagi masyarakat, mengabdi untuk bangsa dan negara,” sebutnya.

Menurut Bayuaji Yudha Prajas, Firman Zulkarnain adalah salah satu contoh dari anggota kepolisian yang mendedikasikan dirinya bagi masyarakat sekitar, hal ini menjadi motivasi dan patutu di contoh oleh anggota polres lainnya, karena disamping melaksanakan tugas sebagai polisi, yang bersangkutan juga ikut berperan membangun mushalla dan sarana MCK yang sangat bermanfaat bagi masyarakat.

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00