• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Feature

Meneladani Tradisi Warga Kota Kediri Tangkal Penyakit Musiman

15 July
09:41 2019
1 Votes (5)

KBRN, Kediri : Kota Kediri merupakan salah satu daerah, dari 38 kabupaten/kota di Provinsi Jawa Timur dengan jumlah penduduk sekitar 350 ribuan jiwa.

Secara geografis, wilayah ini dibelah oleh Sungai Brantas yang membujur dari Selatan ke Utara sepanjang 7 kilometer. Di area ini, daerah di bagian Timur Sungai Brantas adalah dataran rendah dan terdiri dari 2 kecamatan, yakni Kecamatan Kota dan Kecamatan Pesantren, sedangkan di bagian Barat Sungai Brantas termasuk dataran tinggi yang meliputi daerah lereng Gunung Klotok dengan tinggi 472 meter dan Gunung Maskumambang setinggi 300 meter di atas permukaan laut. Jika dilihat secara umum, dataran Kota Kediri itu sendiri berada pada ketinggian 68 meter di atas permukaan laut.

Dari sisi ekonomi, sebagian besar masyarakat di area ini bekerja menjadi buruh di pabrik PT Gudang Garam Tbk. Namun ada pula warga, yang memilih berkecimpung di sektor perdagangan. Misalnya meneruskan usaha warisan keluarga yakni memproduksi oleh-oleh khas Kediri, berupa Tahu Kuning atau dikenal Tahu Takwa.

Tak ayal, seiring banyaknya pedagang tahu dengan bahan pewarna alami memakai bumbu dapur, kunir atau kunyit ini, maka Kota Kediri dijuluki Kota Tahu.

Di sisi lain, meskipun kawasan ini hanya memiliki 3 kecamatan yakni Kecamatan Mojoroto, Kecamatan Pesantren, dan kecamatan Kota, tapi permasalahan kesehatan kerapkali dialami oleh masyarakat setempat. Khususnya penyakit musiman, yang sering bermunculan tatkala perubahan cuaca tiba, dan salah satunya penyakit Demam Berdarah (DB).

Namun, sejak digalakkannya Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) melalui Program Pemerintah melalui Kementerian Kesehatan RI bertajuk Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas) kasus Demam Berdarah, bukan lagi menjadi momok bagi warga setempat.

Perlu diketahui, bahwa Pemerintah RI diwakili Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan RI, Puan Maharani, telah mencanangkan Germas, pada 15 November 2016 di Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Gerakan ini juga dicanangkan di sembilan wilayah lainnya yaitu Kabupaten Bogor (Jawa Barat), Kabupaten Pandeglang (Banten), Kota Batam (Kepulauan Riau), Kota Jambi (Jambi), Surabaya (Jawa Timur), dan Madiun (Jawa Timur). Lalu juga dilakukan, di Pare-pare (Sulawesi Selatan), Kabupaten Purbalingga (Jawa Tengah), dan di Kabupaten Padang Pariaman (Sumatera Barat).

"Tujuan pencanangan Germas ini agar masyarakat Indonesia mempunyai pola hidup lebih sehatdan bersih, serta terhindar dari penyakit tidak menular atau PTM yang berbahaya bagi tubuh," kata Kepala Seksi Pemberantasan Penyakit Menular (Kasi P2M) Dinas Kesehatan Kota Kediri, Hendik Suprianto, di Kota Kediri, Senin (15/7/2019).

Penerapan Program Germas di Kota Kediri, tercermin dari meningkatnya, kesadaran warga untuk memiliki gaya hidup sehat.

Bahkan terbukti, dari Perilaku Hidup Bersih dan Sehat ini, terlihat jumlah penderita Demam Berdarah pada bulan Februari 2019 yang turun menjadi 29 orang. Angka ini lebih rendah, jika dibandingkan pada bulan Januari lalu sebanyak 69 penderita.

Penurunan kasus DB ini, sekaligus bukti keberhasilan Pemerintah Kota Kediri dan segenap Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait yang tak henti-henti, mengajak masyarakat setempat membersihkan barang bekas di luar rumah. Kemudian juga ditunjang oleh banyak warga Kota Kediri, yang berperan sebagai Kader Juru Pemantau Jentik alias disebut Kader Jumantik.

Kehadiran kader inilah, yang juga memegang peranan penting dan lebih sering memantau di lingkungan dalam rumah. Seperti bak kamar mandi dan sejumlah titik genangan air di berbagai sudut rumah.

Langkah preventif ini, juga mengingat potensi perkembang-biakan nyamuk, penyebab Demam Berdarah sangat cepat di luar rumah. Misalnya, yang berada di genangan air, ban bekas, kaleng, maupun penampungan air lain di luar rumah.

Di samping itu, pada musim tak menentu seperti sekarang pengoptimalan Program Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dan 3M Plus, juga tampak digalakkan oleh warga di sejumlah desa di Kota Kediri.

Salah satunya, dari penerapan tujuh Pesan Germas yang dikenalkan oleh Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan (Poltekkes Kemenkes) RI Malang di Kota Kediri. Lembaga ini, aktif mengajak warga setempat agar mempunyai Perilaku Hidup Bersih dan Sehat/ PHBS hingga menjadi sebuah tradisi masyarakat.

Ketua Program Studi Kebidanan Poltekkes Kemenkes Malang di Kediri, Susanti Pratamaningtyas, mencontohkan, pada bulan Maret lalu civitas akademi ini, menggelar Sosialisasi Germas dan pencanangan MoU Pola Hidup Sehat di Kelurahan Tosaren, Kecamatan Pesantren, Kota Kediri.

Pada acara ini turut disebarluaskan, beberapa aspek Program Germas di antaranya, melakukan aktivitas fisik, mengonsumsi sayur dan buah, tidak merokok, dan tidak mengonsumsi alkohol. Lalu, juga rutin memeriksa kesehatan diri sendiri, membersihkan lingkungan, dan buang air besar menggunakan jamban.

Sementara itu, terkait upaya pencegahan penyakit DBD, maka pada ajang penting ini juga diadakan penanaman sejumlah Tanaman Serai dan Bunga Lavender. Melalui kegiatan penanaman tumbuhan penangkal nyamuk ini, sekaligus sebagai simbol Pencanangan Germas serta Penanda-tanganan Kesepakatan (MOU) Melaksanakan Pola Hidup Sehat di Kelurahan Tosaren, Kota Kediri.

Menanggapi hal ini, Anggota Komisi IX DPR RI, Budi Yuwono, juga ikut mendorong masyarakat di Kediri dalam menerapkan pola hidup sehat.

Upaya ini, diungkapkan Budi Yuwono, saat memberikan edukasi dan Instruksi Presiden RI tentang Program Germas kepada Masyarakat Desa Badal, Kecamatan Ngadiluwih, Kabupaten Kediri.

"Sangat besarnya pembiayaan terhadap jaminan sosial dari Badan Penyelenggara Jaminan Sosial/ BPJS Kesehatan sekarang ini, ya karena kebiasaan warga di Indonesia yang kurang memahami pentingnya menjaga kesehatan sedini mungkin. Ini tampak, saat memeriksakan tubuhnya ketika sudah mengalami sakit," katanya.

Di lain pihak, keberadaan ibu rumah tangga di Indonesia, bisa berperan lebih dalam menjaga keluarganya agar tidak terkena penyakit, terutama mencegah gagal tumbuh atau dikenal dengan Stunting. Misalnya saja, kepada ibu yang sedang hamil harus mengonsumsi makanan bergizi tinggi, vitamin penambah darah, dan terus memperhatikan tumbuh kembang anak terutama sejak di dalam rahim hingga mereka memasuki usia Golden Age alias pada 1.000 hari pertumbuhan pertama.

Upaya lain, dalam meningkatkan kesehatan masyarakat dapat dilakukan dengan menyederhanakan agenda Sosialisasi Program Germas. Seperti, dengan cara meningkatkan peran masyarakat dan perangkat desa setempat, untuk ikut menggalakkan Program Germas hingga mendorong munculnya Undang-undang Jaminan Kesehatan.

Dengan payung hukum inilah, Budi Yuwono berharap, maka potensi masyarakat Indonesia yang mengalami sakit atau setara 30 persen dari total penduduk di pelosok Nusantara, akan merasakan manfaat lebih dan kemudahan akses layanan kesehatan, mulai dari tingkat puskesmas hingga rumah sakit.

Ke depan, dengan perilaku hidup sehat ini pula masyarakat akan terhindar dari risiko meluasnya penyakit tidak menular, seperti stroke, diabetes, dan jantung yang mengancam jiwa manusia sewaktu-waktu. (ac)

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00