• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Ekonomi

Inisiasi Pacific Exposition 2019, Indonesia “Lebarkan Sayap” di Kawasan Pasifik

12 July
23:38 2019
0 Votes (0)

KBRN, Jakarta : Sebagai negara yang berada di kawasan Pasifik, Indonesia ditahun 2019 mulai “melebarkan sayap” untuk menjajaki penguatan kerjasama bersama negara-negara di kawasan.

Salah satunya adalah dengan menginisiasi diselenggarakannya “Pacific Exposition 2019” pada 11 – 14 Juli di Auckland, Selandia Baru.

Eksposisi Pasifik yang baru kali pertama diselenggarakan di kawasan Pasifik tersebut dihadiri oleh perwakilan 19 negara.

Bagi Indonesia “Pacific Exposition” merupakan “jalan” untuk semakin menjaring kerjasama luas bersama negara-negara di kawasan.

Seperti yang disampaikan oleh menteri luar negeri RI, Retno Marsudi, di Auckland.

Retno menyatakan, dibawah semangat persahabatan dan energi positif, upaya Indonesia untuk lebih memperkuat kerjasama di Pasifik melalui eksposisi kali ini juga sebagai langkah menjadi bagian penting di kawasan bersama Selandia Baru dan Australia yang telah lama berperan.

Dibawah Indonesia di forum in adalah persahabatan dan energi positif. Dalam pertemuan-pertemuan bilateral saya hari ini negara-negara sangat mengapresiasi Indonesia, untuk mengadakan eksposisi ini. Karena, mereka mengatakan kita jadi lebih terbuka untuk melakukan kerjasama. Mereka jadi lebih paham soal indonesia. Selama ini selain Pasifik di selatan mereka bertemu dengan Selandia Baru dan Australia dan sekarang ditambah satu partner aktif yakni Indonesia. Dan, mereka sadar Indonesia memiliki kaitan dengan menjadi bagian di pasifik,”ujar Retno Marsudi di Auckland, Jumat (12/7/2019).

Dijelaskan Retno, dari berbagai pertemuan yang dilaksanakannya, bahkan sebagian besar negara-negara Pasifik menyatakan tertarik untuk bekerjasama maupun meningkatkan kerjasama diberbagai sektor terutama ekonomi perdagangan hingga pembangunan kapasitas bersama Indonesia.

“Dipertemuan bilateral kita banyak bahas isu-isu soal penanganan bencana, banyak dri mereka yang menghendaki kerjsama dalam bidang capacity building misal soal food processing. Karena, banyak negara-negara yang menghasilkan kelapa mereka tidak bisa mengolah kelapa. Kerjasama yang kita tawarkan adalah kerjasama konkrit. Kita hadir ingin menjadi penyelesaian dari tantangan yang mereka hadapi,”imbuhnya.

Untuk menjadi negara yang memiliki peran besar di kawasan Pasifik, Indonesia juga sadar betul perlu menggandeng Selandia Baru dan Australia yang telah lama berperan dan dikenal oleh negara-negara di kawasan.

Menurut Retno Marsudi, dengan Australia misalnya saat ini Indonesia tengah menegosiasikan finalisasi bagi rencana aksi dari Kemitraan Strategis Komprehensif Indonesia-Australia.

Sekarang kita sedang menegosiasikan finalisasi untuk plan of actions dari strategic comprehensive parnership Indonesia – Australia. Dengan keduanya ada kesepkaatan yang sangat kuat untuk memperkuat kerjasama di Pasifik, karena Selandia Baru dan Australia kehadirannya Pasifik sudah cukup lama dan kita akan memperkuat dengan Indonesia masuk,”papar Retno.

Duta besar RI di Auckland, Tantowi Yahya, mengatakan, Pacific Exposition seakan membuka lebar mata dan wawasan negara-negara Pasifik mengenai potensi Indonesia yang maju diberbagai bidang.

“Mereka terkaget-kaget ketika BUMN presentasi, tidak ada dibenak mereka bahwa Indonesia sedemikian maju industrinya. Bahwa kita bisa memproduksi peswat terbang, kendaraan-kendaraan perang, pesawat-pesawat seperti “airbus” komponennya banyak yang kita produksi. Jadi, satu pemenangan yang kita dapatkan adalah kita membuka wawasan negara-negara Pasifik bahwa Indonesia jauh lebih maju dibandingkan imajinasi mereka selama ini. Karena, tanpa kehadiran BUMN-BUMN tersebut jangan salahnya impresi mereka yang paling maju adalah australia. Kita datang dengan kekuatan tadi, membuka mata mereka bahwa Indonesia lebih maju. Ini akan menjadi modal untuk meyakinkan negara-negara Pasifik tersebut,”ungkap Tantowi.

Menurut Tantowi, misalnya saja terkait dengan kemampuan Indonesia memproduksi pesawat terbang, kendaraan perang hingga komponen bagi pesawat jenis Airbus.

“Produk-produk seperti produksi dari PT Dirgantara Indonesia, pesawat-pesawat berbadan kecil itukan cocok untuk coast guard, patrole illegal fishing, mereka kaget kita berhasil memproduksi kendaraan perang yang sdh digunakan PBB. Kita juga push betul adalah Perusahaan Umum Percetakan Uang Republik Indonesia atau Perum PERURI agar bisa meyakinkan negara-negara pasifik untuk pencetakan uang dan surat-surat berharga,”tambahnya.  

Sementara, “Pacific Exposition 2019” juga dimanfaatkan oleh Indonesia untuk menjajaki dibukanya hubungan diplomatik dengan Kepulauan Cook dan Niue.

Dengan Niue sendiri misalnya meskipun kedua negara belum membuka hubungan diplomatik secara resmi, namun nilai perdagangan kedua negara ditahun 2018 cukup signifikan.

Yaitu, mencapai 129,2 juta dolar Amerika Serikat atau naik 145 persen dari tahun 2017 sebesar 52,5 juta dolar Amerika Serikat.

Sebagai negara yang menginisiasi “Pacific Exposition” pertama kalinya di kawasan, Indonesia menekankan pula penyelenggaraannya bertujuan untuk mempercepat peningkatan kerjasama dibidang ekonomi, pariwisata dan budaya.

Serangkaian kegiatan diselenggarakan dalam 4 hari pelaksanaannya di Selandia Baru.

Diantaranya, forum bisnis dan investasi, forum budaya, dan festival seni budaya serta diakhiri dengan konser besar “Sound of Pacific”.

Sedangkan, potensi ekonomi di kawasan Pasifik dengan produk domestik bruto mencapai 2,6 triliun dolar Amerika Serikat dengan 300 juta penduduk.

Sedangkan, beberapa perusahaan Indonesia yang berpartisipasi pada “Pacific Exposition 2019” diantaranya Telkomsel, Pertamina, Garuda Indonesia, serta BUMN perbankan.

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00