• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Daerah

Muslimnya Toleran, Alasan Digelarnya The 15Th Zhenghe Internasional Peace Forum di Indonesia

12 July
22:41 2019
0 Votes (0)

KBRN, Surabaya: Zhenghe International Peace Foundation (ZIPF) bekerja sama dengan Yayasan Haji Muhammad Cheng Hoo Indonesia (YHMCHI) akan mengadakan acara The 15Th Zhenghe Internasional Peace Forum di Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya, 15-17 Juli 2019.

Konferensi bergengsi ini terselenggara atas kerjasama antara Pemerintah Propinsi Jawa Timur, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UIN Sunan Ampel, Yayasan Haji Muhammad Cheng Ho Surabaya dan Banyuwangi, Zhenghe International Peace Forum (ZIPF), Ma Chung University, PWNU Jawa Timur, dan PWM Jawa Timur.

Kegiatan ini mengambil tema Indonesia and China: Sharing Values of Religions, Cultures, and Societies sebagai frame utama pembahasan.

Direktur ZIPF Prof Ma mengatakan, forum yang ditujukan sebagai jembatan bagi terwujudnya relasi atau tata hubungan yang baik antara Tiongkok dengan dunia Islam ini sebelumnya terselenggara di Malaysia, Dubai (Uni Emirat Arab), Khazakhstan dan Pakistan.

“The 15Th Zhenghe Internasional Peace Forum ini kita pilih tempatnya di Jawa Timur, Indonesia,” katanya dalam konferensi pers persiapan acara di UINSA, Jumat (12/7/19).

Prof Ma menyebutkan, salah satu alasan forum diadakan di Indonesia adalah karena agama Islam di salah satu negara Asia Tenggara ini mampu menampilkan ekspresi keberagamaan yang relatif damai, toleran, dan inklusif.

Maka, Prof Ma merasa, The 15Th Zhenghe Internasional Peace Forum penting untuk diadakan di Indonesia untuk sebuah harapan dapat membangung tata hubungan perdamaian dunia yang baik di masa depan.

“Kita ingin ada relasi yang baik antara Tiongkok dengan dunia Islam, terutama antara Muslim Indonesia dan Muslim Tiongkok dalam berbagai aspek. Baik itu agama, budaya, sosial dan lainnya,” tandasnya. 

ZIPF ini merupakan kegiatan tahunan rutin yang sudah dilakukan sebelumnya di beberapa negara. Konferensi pertama dilakukan di Malaysia, seterusnya di Dubai, Kazakhtan, kemudian Pakistan.

Maka konferensi internasional ZIPF di Surabaya ini merupakan kegiatan rutin kelima yang dihadiri oleh sebanyak 58 peserta dari dalam dan luar negeri, yaitu USA, Tiongkok, Malaysia, dan India. Para peserta itu akan terbagi dalam dua kelompok sub tema. Kelompok pertama membahas tema Chinese-Indonesian Historical and Cultural Lingkage: From the 15 Century to the 21 Century, sedang kelompok kedua bertema Zhenghe Legacies Southeast Asia: Local Presentations and Representations.

Dua tema tersebut akan dibahas dengan mengeksplorasi berbagai makalah dari peserta konferensi internasional pada hari pertama dan kedua. Sebelumnya, pada pagi tanggal 15 Juli 2019 ZIPF ke-5 ini dibuka secara akademis di Ruang Amphitheatre Twin Tower UIN Sunan Ampel yang dihadiri oleh Rektor dan para pejabat Kementerian Agama RI. Sedianya Rektor dan Prof. Haiyun Ma (Founder ZIPF) akan memberikan sambutan setelah Prof. Akh. Muzakki sebagai Ketua Panitia dan juga Dekan FISIP UINSA menyampaikan laporan kepanitiaan pada hadirin. 

Setelah itu, kegiatan diteruskan dengan penyampaikan poin-poin strategis dalam tema Konferensi Internasional. Ada tiga Keynote Speakers pada sesi ini, yaitu Prof. Masdar Hilmy, MA., Ph.D yang juga Rektor UINSA, Prof. Song Xiuju (Central China Normal University), Mark and Laurie Nickless (independent researcher USA).

Forum ini menjadi ajang penyampaian gagasan akademik terkait tema Konferensi Internasional dari para akademisi yang hadir. Forum parallel pada hari pertama ini berakhir pada sore hari.

“Saya ikut bangga dengan terselenggaranya ZIPF ke-5 di UINSA atas upaya dari teman-teman dari FISIP.” Ujar Prof. Masdar. 

Pada kesempatan lain, Prof. Muzakki selaku ketua panitia sekaligus Dekan FISIP UINSA menyampaikan bahwa isu hubungan antara Indonesia dan China memiliki dasar historical yang mapan, sehingga perlu dieksplorasi demi menjaga hubungan kedua bangsa ke depan. 

“ZIPF ke-5 ini menjadi momentum akademis untuk menggali dan merumuskan pola relasi Indonesia-China ke depan dalam perspektif kemanusiaan, agama, dan budaya.” Ujarnya.

Masih pada hari pertama, ZIPF ke-5 ini akan dimeriahkan dengan gebyar budaya antara Indonesia dan China di Jatim Expo dengan dukungan dari Pemerintah Propinsi Jawa Timur.

 Beberapa hari sebelum pelaksanaan, panitia menghadap Gubernur Jatim sekaligus melaporkan agenda kegiatan dan memohon restu. Pada saat itulah Ibu Khofifah Indar Parawansa sebagai Gubernur Jatim menyambut dengan gembira dan bahkan memberikan dukungannya. 

Bentuk dukungan tersebut adalah dengan menganjurkan agar ZIPF ke-5 tersebut harus dimeriahkan dan disosialisasikan pada khalayak luas, khususnya masyarakat Jatim agar mereka dapat belajar tetang keindahan jalinan persaudaraan dan toleransi antara bangsa Indonesia dan China.

 “Saya sangat bangga atas terselenggaranya ZIPF ke-5 ini di Surabaya Jawa Timur. Kita harus tunjukkan pada waraga kita sekaligus masyarakat dunia bahwa dari dulu sampai kini Indonesia dan China sudah bersaudara dalam banyak hal.” Ujarnya ketika menerima rombongan panitia pada Senin Malam (8/7) di kantor gubernuran. Gebyar budaya di JX tersebut dihadiri oleh 3000 hadirin dari berbagai kalangan sebagai wujud multikulturalisme relasi Indonesia-China. Juga tampil berbagai kesenian yang menampilkan kolaborasi antara Indonesia dan China pada kesempatan itu seperti kolaborasi antara Tarian Sufi Darwish dan Barongsai, Orkesta Kemuning, Grup Tari Sekar Giri, dan sebagainya.

Hari berikutnya pada Selasa (16/7) diteruskan diskusi parallel dari presenter dengan makalah-makalah yang telah dikirimkan. Pada siang hari kegiatan ini akan dilanjutkan dengan pleno kedua dengan pembicara Prof. Zhou Chuanbin dari Lanzhou University, dan Veronika Saraswati Ph.D dari CSIS. Setelah sessi itu, ZIPF ke-5 ditutup secara formal dengan closing ceremonial yang dipandu oleh Prof. Muzakki.

 Sebelumnya disampaikan beberapa testimony oleh beberapa peserta tentang kegiatan ini. ZIPF ke-5 ini juga dilengkapi dengan berbagai kunjungan peserta di PWNU Jatim dan Masjid al-Akbar, Masjid Cheng Ho Surabaya, dan PWM Jatim. Di hari Rabu (17/7) peserta diajak melakukan city tour dengan mengunjungi berbagai destinasi wisata di Surabaya. Beberapa di antaranya peserta diajak berziarah ke makam Sunan Ampel, Jembatan Suramadu, Masjid Cheng Ho, dan sebagainya. 

Konferensi internasional ini merupakan kegiatan rutin kelima yang dihadiri oleh sebanyak 58 peserta dari dalam dan luar negeri yaitu,  Tiongkok,  Malaysia,  Taiwan dan Amerika Serikat. Selama tiga hari konferensi peserta akan menghadiri kegiatan akademik yang terbagi dalam plenary session dan parallel session. 

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00