• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Kumham

Tambah Basirun, KPK Tangani 107 Kasus Korupsi Melibatkan Kepala Daerah

12 July
13:21 2019
0 Votes (0)

KBRN, Jakarta : Kasus Tangkap Tangan Provinsi Kepulauan Riau menyeret Gubernur Nurdin Basirun sebagai tersangka dugaan suap proyek reklamasi. Kasus ini menambah deretan jumlah kepala daerah dan jajaran dibawahnya, yang kasusnya diproses KPK dengan berbagai modus korupsi. 

Sampai sekarang, KPK sudah menangani 107 kasus dugaan korupsi yang terkait dengan kepala daerah, apakah itu Gubernur, Bupati, bahkan sampai Wali Kota.

Hal ini diungkapkan Kabiro Humas KPK Febri Diansyah dalam konferensi pers resmi malam ini, mendampingi Wakil Ketua KPK, Basaria Pandjaitan, di Gedung KPK Jakarta, Kamis (11/7/2019) jelang tengah malam.

Perizinan juga menjadi salah satu fokus dalam Strategi Nasional (Stranas) Pencegahan Korupsi yang dicanangkan Presiden Joko Widodo (Jokowi). Dan seperti diketahui bersama, Stranas Pencegahan Korupsi memiliki 3 (tiga) fokus, yakni sektor perizinan dan tata niaga, keuangan negara, serta penegakan hukum dan reformasi birokrasi. Pembenahan perizinan ini diharapkan bisa memberikan kesempatan pengembangan investasi di daerah dan bukan malah menjadi ajang mengeruk keuntungan untuk kepentingan tertentu.

Operasi Tangkap Tangan (OTT) yang digelar Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) di Kepulauan Riau (Kepri) pada Rabu, 10 Juli 2017, terkait dugaan suap izin prinsip dan lokasi pemanfaatan laut, proyek reklamasi, di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil Kepulauan Riau 2018/2019 serta gratifikasi yang berhubungan dengan jabatan.

Dalam tangkap tangan, total KPK mengamankan 7 (tujuh) orang, yakni Gubernur Kepri 2016/2021 Nurdin Basirun (NBA), Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Pemprov Kepri Edy Sofyan (EDS), Kepala Bidang Perikanan Tangkap Pemprov Kepri Budi Hartono (BUH), pihak swasta Abu Bakar (ABK), Kepala Dinas Lingkungan Hidup Pemprov Kepri (NWN), Staf Dinas Kelautan dan Perikanan Pemprov Kepri (MSL), serta Staf Dinas Kelautan dan Perikanan Pemprov Kepri (ARA).

Dari tujuh orang terperiksa, KPK menetapkan Gubernur Kepulauan Riau Nurdin Basirun (NBA) sebagai tersangka utama dugaan penerimaan suap dan gratifikasi. Berikutnya, Edy Sofyan (EDS) dan Budi Hartono (BUH) juga ditetapkan menjadi tersangka, yang juga diduga sebagai penerima suap dan gratifikasi. Sementara Abu Bakar (ABK) dari pihak swasta, ditetapkan sebagai tersangka terduga pemberi suap dan gratifikasi.

Kronologi Tangkap Tangan Nurdin Basirun

Sebelumnya, Tim KPK menerima informasi akan ada penyerahan uang di Pelabuhan Sri Bintan Tanjung Pinang. Setelah dilakukan cross check informasi dengan turun ke lapangan, berhasil didapati adanya dugaan penyerahan uang. Tim lapangan lantas dipecah dua untuk melakukan operasi tangkap tangan.

Gerakan pertama, Tim KPK mengamankan tersangka Abu Bakar (ABK) dari pihak swasta di Pelabuhan Sri Bintan Tanjung Pinang, Rabu (10/7/2019), sekitar pukul 13.30 WIB. Kemudian, Tim lapangan lainnya berhasil mengamankan Kepala Bidang Perikanan Tangkap Pemprov Kepri Budi Hartono (BUH) saat yang bersangkutan berusaha keluar dari area pelabuhan Sri Bintan Tanjung Pinang.

Tak bisa mengelak, BUH akhirnya menunjukkan uang tunai SGD 6.000 yang akhirnya disita menjadi barang bukti dugaan suap. Setelah 'membungkus' BUH dan ABK, selanjutnya KPK membawa hasil OTT ke Mapolres Tanjung Pinang, Batam, untuk menumpang tempat penyelidikan awal.

Dari Mapolres Tanjung Pinang, Tim KPK memanggil 2 (dua) orang, yakni MSL, Staf Dinas Kelautan dan Perikanan Pemprov Kepri, serta ARA, Staf Dinas Kelautan dan Perikanan Pemprov Kepri. Keduanya hadir memenuhi panggilan penyidik KPK sekitar pukul 18.30 WIB.

Sementara itu, secara paralel, Tim mengamankan Gubernur Kepri Nurdin Basirun (NBA) di rumah dinasnya daerah Tanjung Pinang pada pukul 19.30 WIB. Di sana, KPK juga berhasil mengamankan Kepala Dinas Lingkungan Hidup Pemprov Kepri (NWN). Dari sebuah tas di rumah Basirun, KPK mengamankan uang sejumlah :

SGD 43.942 (empat puluh tiga ribu sembilan ratus empat puluh dua dolar singapura).
USD 5.303 (lima ribu tiga ratus tiga dolar amerika).
EURO 5 (lima euro).
RM 407 (empat ratus tujuh ringgit malaysia).
Riyal 500 (lima ratus riyal Saudi Arabia).
Rp 132.610.000 (seratus tiga puluh dua juta enam ratus sepuluh ribu rupiah).

Jika ditotal menggunakan kurs masing-masing mata uang terhadap rupiah yang berlaku pada Kamis malam, sekitar pukul 10.00 WIB, total uang tunai yang diamankan KPK dari OTT Kepri (dalam rupiah) adalah Rp 666,812,189,56.

"Secara keseluruhan, total nilai uang yang disita dari rumah tersangka Nurdin Basirun sebesar Rp 666.812.189,56,” ucap Wakil Ketua KPK Basaria Pandjaitan dalam konferensi pers di Gedung KPK Jakarta Selatan, Kamis (11/7/2019) tengah malam.

Setelah itu, Tim KPK membawa Basirun dan NWN ke Mapolres Tanjung Pinang, bergabung dengan pihak terperiksa lainnya, hingga total terkumpul 7 (tujuh) orang.

Para terperiksa lantas dibawa ke Gedung Merah Putih KPK menggunakan penerbangan Kamis, 11 Juli 2019, pukul 10.35 WIB dari Bandara Internasional Raja Haji Fisabilillah. Rombongan terperiksa bersama penyidik KPK tiba di Gedung Merah Putih, Jakarta Selatan, pukul 14.25 WIB untuk menjalani pemeriksaan selanjutnya hingga penentuan tersangka. (Foto: EKOS)

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00