• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Nasional

Wartawan Negara-negara Pasifik dan Afrika Belajar Tentang Pemilu RI

11 July
17:16 2019
0 Votes (0)

KBRN, Yogyakarta: Sejumlah wartawan dari negara-negara Pasifik dan Afrika tertarik belajar tentang penyelenggaraan pemilihan umum di Indonesia yang dinilai berhasil dan berlangsung damai dan adil.

Sejumlah wartawan dari negara-negara dikawasan Pasifik dan Afrika Kamis siang menghadiri Diplomatic Forum yang diselenggarakan oleh Kemnterian Kominfo dan Kementerian Luar negeri dan Radio Republik Indonesia, berlangsung di Yogyakarta.

Wahyu Setiawan, Komisioner KPU mengatakan, secara umum para wartawan dari negara sahabat tersebut ingin tahu lebih banyak tentang penyelenggaraan pemilu yang juga dinilaipaling rumit di dunia.

“Forum jurnalis Pasifik dan Afrika yang hadir pada prinsipnya mereka mau belajar tentang pemilu 2019 di Indonesia yang dinilai sukses, aman dan damai serta demokratis. Saya  menceritakan keada merek bahwa pemilu RI serentak 2019 adalah pemilu paling rumit di dunia. Jumlah pemilih yang besar mencapai hampir 193 juta dengan 800.000 TPS lebih, dilaksanakan serwntak daam satu hari. Mereka umumnya kaget,” kata Wahyu Setyawan kepada wartawan usai diskusi, Kamis (11/7).

Wartawan asal Fiji, misalnya,ingin mengetahui bagaimana proses transparansi bisa dilakukan dengan baik mengingat jumlah pemilih di Indonesia mencapai lebih dari 190 juta. Di Fiji sendiri penduduknya kurang dari 1 juta, mereka masih dihadapkan dengan persoalan transparansi.

“Saya tertarik untuk mengetahui bagaimana transparansi bisa dicaapai dengan jumlah pemilih yang sangat besar, lebih dari 192 juta jiwa. DI Fiji, bahkan jumlah penduduk kami kurang dari 1 juta tetapi kami dihadapkan dengan persoalan transparansi,” kata wartawan koran terkemuka Fiji.

Prof. Sri Yunanto, Tim Ahli dari Menkopolkam menjelaskan, keterbukaan yang telah membudaya di Indonesia memudahkan proses transparansi dalam pelaksanaan pemilu.

“Saya kira Indonesia memiliki kebebasan informasi yang memadahi bahkan sering dirasakan berlebih karena orang bebas menyuarakan pendapatnya. Kampanye berlangsung berbulan-bulan tetapi tetapi berlangsung damai karena ada pers yang bebas tetapi bertanngng jawab, ada regulasi yang dihormati dan informasi di ruang publik tidak didominasi oleh penguasa,” jelas prof. Sri Yunanto.

Sementara itu, wartawan lainnya menanyakan tentang peran media dalam mendukung suksesnya pemiluserentak di Indonesia, besarnya biaya yang dikeluarkan serta keterwakilan perempuan sebagai calon anggota legislatif.

Diplomatic Forum dihadiri kalangan akademisi, mahasiswa dan wakil lembaga pemerintah dan swasta. 

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00