• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Feature

Kenali Sejarah Kota Karawang Sebelum Berkunjung

4 July
10:29 2019
0 Votes (0)

KBRN, Jakarta : Karawang merupakan salah satu kabupaten yang terletak di Propinsi Jawa Barat, yang berbatasan dengan Kabupaten Bekasi dan Kabupaten Bogor. 

Sekaligus, Karawang merupakan kota kelahiran saya. Bertahun-tahun saya tinggal di kota yang dijuluki kota padi itu, saya baru tahu bahwa ternyata banyak sekali peninggalan sejarah Indonesia yang tertampung di Kota Karawang.

Namun sayang sekali, Kota Karawang sedikit peminat wisatawan untuk mengunjungi objek wisata sejarah yang ada di kota yang sekarang dijuluki Kota Pangkal Perjuangan itu. 

Baiklah, karena saya mencintai kota saya, untuk itu saya ingin menuliskan peninggalan-peninggalan sejarah di Kota Karawang yang saya ketahui, dan tentunya ada beberapa yang sudah pernah saya kunjungi.

Untuk menambahkan informasi dan mudah-mudahan banyak peminat untuk ingin mengunjunginya, sehingga Kota Karawang dapat memberikan kesan baik untuk semua bangsa Indonesia.

Karawang yang berjuluk kota padi atau sekarang di sebut dengan kota pangkal perjuangan, memang memiliki beberapa objek wisata alam dan objek wisata sejarah, mulai dari curug Cijalu yang terletak di selatan Karawang, sampai objek wisata sejarah yang berkaitan erat dengan kemerdekaan Negara Republik Indonesia. 

Seperti  peristiwa penculikan Soekarno Hatta ke Rengas Dengklok dan peristiwa pembantaian warga sipil di Rawa Gede, ada juga wisata candi peninggalan Kerajaan Tarumanegara di daerah Batujaya.

Dimulai dari sejarah Monumen Rawagede yang terletak di Kecamatan Rawamerta. Objek wisata Monumen Rawa Gede ini di bangun untuk memperingati  peristiwa pembantaian masyarakat sipil oleh tentara Belanda.

Monumen ini di bangun seperti piramida. Sekilas mirip seperti Monumen Jogja Kembali, namun ukurannya lebih kecil. Di komplek monumen ini terdapat puluhan makam warga sipil yang menjadi korban pembantaian Belanda. Bangunan monumen ini memiliki 2 lantai dan di sisi dinding luarnya di hiasi relif perjuangan warga Rawa Gede. 

Di lantai dasar ada diorama peristiwa pembantaian warga sipil oleh Belanda, sementara di lantai atas terdapat patung seorang perempuan  yang  memangku tubuh anak dan suaminya  yang tewas akibat peristiwa ini, dan di belakang patung ini terdapat puisi yang sudah terkenal milik Chairil Anwar yang berjudul “Karawang Bekasi”. 

Destinasi berikutnya adalah monumen kebulatan tekad dan rumah tempat penculikan Soekarno Hatta dan yang ada di Rengas Dengklok.  Monumen kebulatan tekad ini dibuat untuk mengenang peristiwa Rengas Dengklok, yaitu peristiwa “penculikan” Soekarno Hatta, di mana pada peristiwa tersebut telah terjadi kesepakatan untuk memproklamirkan Kemerdekaan RI dengan secepatnya.

Di sini sekarang terdapat 2 buah Monumen kebulatan tekad, satu buah monumen lama dan satu lagi monumen baru yang belum selesai pengerjaannya. Di bawah ini bisa kita lihat gambar monumen kebulatan tekad yang baru, yaitu patung tiga tangan yang bersamaan menjunjung tinggi ke atas sebagai bentuk semangat para pejuang Indonesia di zaman dulu, yang berharap bisa menjadi inspirasi semangat juang bagi generasi muda masa kini.

Monumen ini lebih dikenal dengan sebutan Tugu Bojong, karena terletak di daerah Bojong Rengas Dengklok. Daerah yang letaknya tidak begitu jauh dari rumah saya. (Hanya dengan mengendarai motor selama 30 menit dari rumah saya bisa sampai ke daerah yang bersejarah itu). Di dekat monumen itu terdapat sebuah pandopo, yaitu tempat duduk yang melingkar seperti rumah, namun tidak berdinding, guna untuk persediaan bagi para pengunjung objek wisata.

Di tengahnya ada sebuah lapangan yang setiap tahun dijadikan tempat upacara kemerdekaan. Setiap sore tempat itu selalu ramai oleh anak muda, dan anak-anak sekolahan. Karena tempatnya yang sejuk dan nyaman, dan tempat itu pula sebagai tempat tongkrongan favorit bagi anak-anak daerah Bojong, termasuk saya sendiri suka sekali nongkrong di tempat itu, sambil melihat pemandangan monumen kebulatan tekad peninggalan pahlawan Negara Indonesia ini.

Setiap wisatawan yang berkunjung ke Monumen kebulatan tekad (khususnya yang lama) di haruskan mengisi buku tamu dan membayar sumbangan suka rela. Dulunya Monumen kebulatan tekad ini adalah rumah tempat “penculikan”  Soekarno Hatta, namun setelah terjadi  musibah banjir besar sungai citarum, rumah itu rusak dan di pindahkan ke tempat yang lebih aman.  Di monumen ini terdapat relif yang menggambarkan proses pembacaan teks proklamasi oleh Soekarno Hatta.

Tak jauh dari sana,  sekitar 500 meter terdapat rumah bekas “penculikan”  Soekarno Hatta yang sudah di pindahkan. Bangunan rumah ini masih di pertahankan bentuk aslinya yang bergaya betawi dan  di dominasi warna putih dan hijau. Di rumah ini terdapat tiga ruangan yang bisa di lihat (sementara ruangan yang lain di pergunakan oleh pemilik rumah).  

Tiga ruangan itu terdiri dari dua buah kamar bekas Soekarno Hatta, semetara satu ruangan lagi adalah ruang tamu. Di kamar yang menjadi bekas  Soekarno Hatta masih dipertahankan bentuk aslinya, sementara di ruang tamu terdapat foto – foto Soekarno Hatta serta pemilik rumah yang bernama Djiaw Kie Siong.

Demikianlah peninggalan-peninggalan sejarah Indonesia yang terdapat di Kota Karawang. Sebetulnya sangat disayangkan karena peminat wisatawan sangat sedikit untuk mengunjungi tempat-tempat bersejarah itu.

Apalagi banyak rumor yang menyatakan bahwa banyaknya tempat-tempat yang bersejarah kini menjadi tempat pelecehan dan sangat tidak terhormat. Namun, sebagai Warga Negara Indonesia yang baik, kita harus tetap melestarikan dan merawat peninggalan warisan sejarah dari leluhur kita atau para pahlawan yang sudah berjuang membela Negara Indonesia, sehingga menjadi merdeka. 

Dari peninggalan-peninggalan sejarah Indonesia di berbagai kota, membuktikan bahwa peristiwa-peristiwa peperangan merebut kemerdekaan pada zaman dulu memang benar-benar ada dan terjadi. Untuk itu kita semua harus tetap mengenang para pahlawan dengan tetap menjaga, menghargai, serta melestarikan warisan peninggalan sejarahnya.

                              

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00