• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Internasional

Pusat Detensi Migran Tripoli Diserang, Banyak Pihak Tuding Mantan Jenderal Khalifa Haftar Bertanggungjawab

3 July
20:57 2019
0 Votes (0)

KBRN, Tripoli : Masyarakat dunia dikejutkan dengan serangan udara di pusat detensi migran yang terletak di selatan kota Tripoli, Libya, Rabu (3/7/2019).

Dalam serangan itu setidaknya lebih dari 40 orang meninggal dunia serta 80 lebih lainnya luka-luka. Para korban tersebut berasal dari sejumlah negara di Afrika seperti Sudan, Eritria dan Somalia. 

Pusat detensi yang menjadi serangan itu berlokasi tidak jauh dari kamp militer di pinggiran timur Tajoura.

Nama Khalifa Haftar menjadi yang paling banyak disebut oleh sejumlah pihak untuk bertanggungjawab, pasca serangan yang terjadi Rabu dini hari tersebut.

Khalifa Haftar sendiri merupakan mantan Jenderal era kepemimpinan presiden Muammar Gaddafi, yang saat ini memimpin Tentara Nasional Libya (LNA) dalam upaya merebut ibukota Tripoli.

Melansir The Guardian, utusan khusus Libya di PBB, Ghassan Salame mengatakan, bahwa serangan tersebut dilakukan oleh pasukan setia Haftar yang disebutnya sangat jelas dapat menyebabkan “kejahatan perang”.

Dimana menurut Salame, hal itu merujuk pada serangan yang secara mengejutkan membunuh orang-orang tidak bersalah yang berada dalam kondisi mengerikan dan memaksa mereka untuk berada di tempat penampungan.

Sebelumnya, para migran dan pengungsi tersebut ditangkap oleh otoritas Libya sebelum berusaha masuk ke wilayah Eropa dengan cara menyeberang lautan.

Serangan terhadap pusat detensi migran di Tripoli juga turut mendapatkan respon dari Uni Afrika, yang disampaikan oleh ketua Komisi Uni Afrika, Moussa Faki Mahamat.

Seperti dilansir dari France 24, Mahamat, menyatakan Uni Afrika mengutuk serangan udara dan mengharapkan adanya tanggungjawab atas serangan yang disebut sebagai “kejahatan mengerikan” itu.

Mahamat juga mengharapkan akan dilakukan investigasi mandiri segera, guna memastikan serangan “kejahatan mengerikan” terhadap warga sipil turut diadili.

Sementara, Amnesty Internasional, Magdalena Mughrabi, pada sesi dialog khusus dengan Al Jazeera, Rabu (3/7/2019), menegaskan, selain menuntut diadakannya investigasi internasional terkait serangan udara Rabu dini hari yang menyebabkan 40 orang meninggal dunia itu.

“Investigasi internasional tentu saja dibutuhkan bagi insiden ini, untuk mengetahui siapa yang bertanggungjawab dibelakang serangan udara ini,” ungkap Mughrabi.

Mughrabi, juga menyatakan, kedua pihak yang terlibat konflik di Libya saat ini yaitu tentara Pemerintah Kesepakatan Nasional (GNA) dan Pasukan yang dipimpin oleh Khalifa Haftar, memiliki tanggungjawab untuk melindungi warga sipil dari area-area yang menjadi target serangan militer.

“Tapi, apa yang menjadi jelas dalam hal ini adalah kedua belah pihak memiliki tanggungjawab untuk melindungi warga sipil dari serangan seperti itu. Serta, mereka memiliki tanggungjawab untuk memindahkan mereka dari area mana saja yang bisa saja menjadi sasaran dari target militer,” tegasnya.

Serangan udara yang terjadi di pusat detensi migran di selatan Tripoli itu disebut pula sebagai serangan udara paling tinggi dilaporkan kepada publik, sejak pasukan setia Khalifa Haftar tiga bulan lalu meluncurkan serangan dengan pasukan darat dan udara untuk merebut ibukota Tripoli yang dikuasai oleh pemerintahan yang diakui secara internasional (GNA).

Konflik yang terjadi juga disebut-sebut sebagai bagian dari kekacauan produksi nasional minyak dan gas, sejak NATO menggulingkan Muammar Gaddafi pada tahun 2011. (Foto:The Guardian)

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00