• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Ekonomi

BI Ajak Milenial Pahami Stabilitas Sistem Keuangan dan Makroprudensial

26 June
22:02 2019
0 Votes (0)

KBRN, Jakarta: Krisis moneter yang terjadi pada tahun 1998 dan tahun 2008, menjadi pelajaran berharga bagi Indonesia, untuk lebih meningkatkan kewaspadaan dalam mengelola sistem keuangan maupun intitusi-institusi keuangan yang ada agar keduanya dalam kondisi sehat. Sehingga krisis keuangan serupa tidak terjadi lagi, karena dampaknya bisa meluas menjadi krisis sosial bahkan krisis politik. Selain itu, krisis keuangan membutuhkan biaya yang besar, dan waktu yang lama untuk mengatasinya. Kondisi itu tentu saja tidak menguntungkan bagi perekonomian sebuah negara.

Di Indonesia ada dua institusi yang mengawal stabilitas sistem keuangan, yaitu Otoritas Jasa Keuangan yang melakukan pengaturan dan pengawasan mikroprudensial terhadap institusi-institusi keuangan, serta Bank Indonesia yang melakukan pengaturan dan pengawasan makroprudensial, dengan tanggung jawab mencegah menularnya risiko dalam sistem keuangan dan menghindari terjadinya ‘boom’ dan ‘bust’ dalam sistem keuangan.

Demikian penjelasan Kepala Departemen Kebijakan Makroprudensial Bank Indonesia Juda Agung, saat melakukan sosialisasi mengenai “Menjaga Stabilitas Sistem Keuangan, Makroprudensial Aman Terjaga” di kalangan pegiat media sosial, blogger, dan anak muda milenial di Jakarta, Rabu (26/6/2019).

“Ini adalah aktivitas Bank Indonesia untuk lebih mengenalkan pada masyarakat, apa itu kebijakan makroprudensial. Dengan lebih memahaminya, diharapkan kesadaran masyarakat semakin meningkat, untuk bersama-sama menjaga stabilitas sistem keuangan,” ujar Juda Agung.

Menurut Juda, makroprudensial sendiri sebenarnya sebuah terminologi baru, karena istilah ini baru muncul setelah krisis keuangan global di tahun 2008.  “Ketika itu, tidak ada yang mengira akan terjadi krisis, karena kondisi ekonomi global terlihat baik-baik saja. Inflasi rendah, dan pertumbuhan ekonomi global juga tinggi,” kisah Juda.

“Tapi tiba-tiba ‘boom’! krisis terjadi, dan menyadarkan bahwa inflasi rendah, dan kebijakan moneter saja, tidak cukup untuk menjaga stabilitas sistem keuangan. Dibutuhkan pula kebijakan makro ekonomi, yang kemudian disebut makroprudensial dan menjadi trend serta standar kebijakan makro ekonomi di dunia dalam menjaga stabilitas sistem keuangan,” tukas Juda.

Saat ini, Bank Indonesia dan OJK menjalin kordinasi yang kuat dalam menjaga stabilitas sistem keuangan di tanah air.  “Tujuan akhir dalam menjaga stabilitas sistem keuangan ini, adalah untuk mendukung pertumbuhan ekonomi nasional,” tegasnya.

Terkait kondisi stabilitas keuangan saat ini, Juda Agung menyatakan masih aman dan terjaga.  Bank Indonesia menerapkan kebijakan makroprudensial yang akomodatif untuk mendukung pertumbuhan ekonomi nasional, serta countercyclical sebagai upaya untuk merespon kondisi dan risiko sistem keuangan.

Selain di Jakarta, sosialisasi tentang Stabilitas Sistem Keuangan dan Kebijakan Makroprudensial bagi kalangan generasi milenial ini, juga akan digelar di Palembang, Yogyakarta, dan Bali. 

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00