• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Sosok

Tembus Zona Demiliterisasi, Fotografer Korea Sampaikan Pesan Perdamaian

25 June
20:44 2019
0 Votes (0)

KBRN, Jakarta : Ada pepatah yang mengatakan, ‘A picture is worth a thousand words’ untuk mengungkapkan betapa sebuah gambar atau foto dapat mengungkapkan sebuah cerita tanpa harus diungkapkan dengan kata-kata. Kesan inilah yang terasa saat melihat 75 foto karya fotografer senior asal Korea Selatan Choi Byung Kwan dalam pameran fotonya yang bertema ‘Korea’s  DMZ In Search fot the Land of Peace and Life’ di Museum Nasional Jakarta,.

Sesuai dengan temanya, foto-foto yang dipamerkan, adalah foto hasil jepretan Choi di sepanjang 155 mil wilayah Zona Demiliterisasi atau Demilitarized Zone (DMZ) Korea pada tahun 1997-1998.  Ketika itu, Choi menjadi fotografer sipil pertama yang mendapat kesempatan untuk memotret di wilayah yang memisahkan Korea Selatan dan Korea Utara itu. Choi mendapat kesempatan memotret kembali pada tahun 2000-2003, kali ini ia memotret foto rel kereta api yang terputus antara Korea Selatan dan Korea Utara.

Sekadar informasi, Zona Demiliterisasi (DMZ) Korea merupakan satu-satunya zona demiliterisasi yang masih eksis di dunia, dan bisa dibilang masih merupakan zona yang berbahaya karena potensi konflik dan baku tembak antara tentara Korea Selatan dan Korea Utara yang bisa terjadi kapan saja. Karenanya, sampai saat ini, DMZ masih dijaga ketat dan menjadi ‘area terlarang’ dalam arti tidak sembarang orang boleh masuk ke wilayah itu kecuali mendapat izin dari pemerintah dan pimpinan militer Korea Selatan.  Kalaupun sudah mendapat izin, orang yang bersangkutan sudah bersedia kontrak mati, karena jika terjadi konflik atau baku tembak, dan orang yang bersangkutan menjadi korban, ia tidak bisa menuntut baik pada pihak Korea Selatan maupun pihak Korea Utara.

“Karenanya, saat saya mendapat kesempatan dan izin untuk memotret di wilayah ini, saya menulis surat wasiat,” ujar Choi saat berbincang dengan awak media di sela-sela pameran fotonya.  Choi harus menetap berbulan-bulan di DMZ untuk memotret.

“Selama menjalankan tugas memotret di sepanjang wilayah DMZ, saya selalu dikawal 3 atau 4 orang tentara untuk keamanan dan keselamatan saya,” kisah Choi mengenai pengalamannya memotret di DMZ.  “Daerah itu juga masih banyak hewan liar, dan yang paling membuat saya takut adalah ular yang masih banyak berkeliaran di daerah itu,” sambungnya.

Sebagai gambaran, DMZ membentang sepanjang 249 kilometer dengan lebar 4 kilometer, yang dibuat sepanjang garis yang menghubungkan antara batas wilayah Korea Selatan dan Korea Utara. Zona penyangga ini dibuat berdasarkan Perjanjian Gencatan Senjata di ‘Pamunjom’ pada 27 Juli 1953. Perjanjian ini sekaligus mengakhiri Perang Korea yang berlangsung selama tiga tahun.  Zona Demiliterisasi dibuat untuk menghindari terjadinya konflik militer, dan di sepanjang garis ini dipasang 1.125 titik rambu-rambu dari ujung Barat sampai ujung Timur DMZ.

Bagi Choi Byung Kwan, pengalaman memotret di  wilayah DMZ menjadi pengalaman yang tak terlupakan dan menguras emosi. “Saya masuk ke batas garis depan dengan mengendarai mobil jip untuk memotret. Semua yang saya temui di DMZ sangat asing dan membuat saya sedih,” tutur Choi.

“Selama saya berada di garis depan DMZ, saya menemukan peninggalan perang yang begitu banyak. Kereta yang sudah berkarat, rel kereta yang telah ditumbuhi gulma, tank yang hancur, peluru berkarat, helm yang terkena peluru, jembatan yang terputus setengah, desa dan gedung sekolah yang hancur. Semua itu mengingatkan saya akan betapa pentingnya perdamaian,” tukas Choi.

Semua yang diceritakan Choi, terekam dalam karya foto-fotonya yang dipamerkan di Museum Nasional, yang digelar mulai tanggal 20 Juni – 20 Juli 2019.  Pameran foto ini menjadi pameran foto pertama bertema DMZ Korea di Asia Tenggara.  Karenanya, Choi mengungkapkan rasa bahagia dan terima kasihnya karena diberi kesempatan untuk memamerkan foto-foto karyanya. Ia berharap lewat pameran fotonya, bukan hanya memperkuat hubungan Korea Selatan dan Indonesia.  Ia juga ingin agar pesan perdamaian dan keindahan alam di DMZ yang ingin disampaikan lewat karya fotonya juga bisa dirasakan masyarakat Indonesia.

“Saya beberapa kali hampir meninggal ketika memotret di DMZ. Saya terus menerus berdoa demi perdamaian negeri saya,” ucap Choi Byung Kwan menutup pembicarannya.

Sampai saat ini, fotografer yang juga dikenal sebagai penulis puisi ini masih aktif memotret untuk foto seni. Impiannya jika mendapat kesempatan kembali memotret di DMZ, adalah memotret di wilayah sisi Korea Utara. Sepanjang karirnya, Choi sudah memublikasikan 26 buku foto, 4 buku esai dan 3 buku puisi dan foto. Karyanya berjudul ‘Don’t Cry Flowers!’ telah diperkenalkan di buku teks SD kelas 5 dan kelas 6 di Korea Selatan. Selain, itu Choi sudah menggelar sebanyak 43 pameran foto atas undangan luar negeri, dan menerima banyak pernghargaan atas karya-karya fotonya. 

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00