• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Sosok

Rahman dan Nasihat Hening Kematian

22 June
09:10 2019
1 Votes (5)

KBRN, Jakarta : Tak ada yang bisa menerka, kapan ajal akan tiba. Seperti kisah yang menimpa seorang rekan yang pergi dan tak akan pernah kembali lagi ke dunia yang fana ini. 

Menurut kesaksian sejawat, Syariful Alam, siang itu azan belum berkumandang menjelang shalat Jumat (21/6/2019) di Mesjid Agung Al-Ikhlas, perempatan Jl. Ciledug Raya, Kota Tangerang. Air wudhu masih membekas di wajah, namun ia mengeluh kesakitan hingga mendorong sejumlah jamaah memberikan pertolongan. 

Seorang polisi bertindak cepat mengantarnya ke rumah sakit, tapi malang tak dapat ditolak, ia akhirnya berpulang ke Rahmatullah.

Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un, sahabat kami Rahman Rifai Hasibuan, Kasi Liputan Puspem Radio Republik Indonesia (RRI) Pro3, telah kembali ke hadirat-Nya. Jejak kepergiannya yang indah, menjadi petanda husnul khatimah. 

Saya mengenal almarhum karena saat masih aktif sebagai jurnalis, kami pernah bersama selama tiga bulan di Media Center Haji (MCH) 2009 untuk Daerah Kerja (Daker) Madinah, Arab Saudi. Seangkatan dengan para wartawan senior seperti H. Hartono (Harian Suara Merdeka), HM. Rizal Maslan (Detik.com), Hj. Siwi Tri Puji (Republika), Hj. Fitri Diani (Indosiar), Ustaz Haji Agung Izzulhaq (TV One), yang kala itu bertugas di Daker Jedah dan Mekah. Sebagian tim MCH 2009, telah mendahului kami:  Heru Supriyatna, Tri Handono dan Zulhelmi Tanjung dari TVRI.

Saat pulang dan sampai di Tanah Air, kami mendampingi teman MCH dari Elshinta, M. Asyiq Effendi ke RS Fatmawati yang wafat setelah mengidap kanker tulang belakang stadium empat. 

Tak lama berselang, istri almarhum Rahman juga meninggal dunia setelah menderita sakit cukup lama. Semoga anak-anaknya tabah dan sabar menerima cobaan ini.

Kisah ini mendorong saya membuka kembali pustaka lama terbitan Mizan: Metode Menjemput Maut. Buku yang mengupas tema universal tentang kematian dan alam sesudah mati. Lahir dari pena teolog Islam paling terkemuka, inilah karya agung Imam Al-Ghazali. Ia menyusunnya sebagai bagian akhir dari kitab empat puluh bab yang terkenal, Ihya’ ‘Ulum al-Din. 

Setelah menguraikan filosofi sufistik tentang maut dan memperlihatkan urgensi perenungan tentang ketidakabadian manusia, ia
membawa pembaca mengunjungi tingkatan-tingkatan alam sesudah mati: pertemuan dengan malaikat di alam kubur, hari kebangkitan, syafaat Nabi hingga siksaan neraka, keindahan surga dan—bagi orang yang terpilih—melihat wajah Allah.

Misteri kematian telah mempersembahkan kepada umat manusia prestasi sastra dan keagamaan yang terindah. Dari Divina Comedia goresan Dante hingga Javid Nama buah pena Muhammad Iqbal, kontemplasi atas kefanaan manusia dan harapan akan hidup abadi, terus menghadirkan tema kesusastraan dan religiusitas yang tak pernah pupus untuk berkarya. 

Di sini terbentang pelajaran bagi berbagai generasi tentang bagaimana para pendahulu mereka meninggalkan dunia, dan menghadirkan nuansa penting tentang jalan hidup yang telah mereka pilih.

Kisah dan Nasehat Kematian

Dari Al-Ghazali, saya membuka kumpulan artikel pribadi tentang pengalaman-pengalaman spiritual berhaji bersama teman-teman MCH yang juga diterbitkan Mizan. Berikut kutipan dalam buku yang berjudul "Talbiyah di Langit Kakbah" itu: 

Kepada seorang rekan, saya menyampaikan rasa iri yang luar biasa. Dengan penuh penasaran dia bertanya, apa gerangan yang membuat saya dihinggapi “penyakit pembunuh iman” itu.

“Ada tetangga yang beli mobil mewah baru?”
“Bukan,” jawab saya.
“Ada famili jadi orang hebat”.
 “Bukan”.
“Ada musuh yang menang undian Rp 1 triliun”
“Bukan”.

“Lantas apa?”
“Saya iri terhadap mereka yang pergi”
“Maksudnya?”
“Mereka yang ‘terbang’ menghadap Ilahi dengan husnul khatimah, menjemput maut dengan akhir yang indah.”

Alkisah. Kelam menyelubungi Mekah, langit muram berselimut mendung di atas Kakbah. Dia bersujud, meratap dalam shalat, diiringi rintik hujan bak tangis matahari. “Panggil aku kembali ke rumah-Mu,” ucapnya dengan dada sesak, saat melambaikan tangan (petanda perpisahan usai tawaf _wada'_) ke Baitullah. 

Sepuluh tahun lalu, kami bersama-sama menjalankan tugas jurnalistik di Tanah Suci. Betapa rentang waktu menjalani hidup hanya sebuah siklus dari “tiada”, “ada”, “tiada”, untuk kelak kembali “ada”. “The Art of Dying,” kata Patricia Weenolsen. Hidup adalah seni menjemput maut.
 
Sepuluh tahun lalu, dalam perjalanan Madinah-Mekah, dialah yang mengingatkan bahwa usiaku pada 21 November 2009, semakin berkurang. Maka peringatan HUT bukanlah “anugerah panjang umur”, tapi justru “early warning”. Ketika jarum jam terus berdetak, tanpa sadar, kita telah menyongsong akhir hidup. Setapak demi setapak, kaki melangkah menuju jembatan kematian _(shirath al-maut)_ yang menurut hadis merupakan nasihat hening yang melengkapi Al-Quran sebagai wejangan yang berbicara. Maka kematian adalah peringatan bagi kita yang masih hidup agar bersiap-siap menghadapinya. Karena, setiap yang bernyawa pasti akan mati: _"kullu nafsin dzaiqatul maut"_ (QS Al-Anbiya: 35).

Sepuluh tahun lalu. Namanya Muhammad Asyiq Effendi, pekerja pers Radio Elshinta. Menjelang berangkat ke Arab Saudi, dokter menyatakan kondisi fisiknya sehat, sehingga layak berhaji sambil menjalankan reportase di Tanah Suci.

Sepuluh tahun lalu. Selama menjalankan tugas, MA Effendi, selalu segar dan tegar. Semangat kerja dan beribadahnya tinggi. Sesekali, hanya terkendala maag dan masuk angin akibat perubahan cuaca Jazirah Arab yang drastis. Ia menyelesaikan kewajibannya hingga tuntas.

Alkisah. Kelam menyelubungi Mekah, angkasa muram berselimut mendung di langit Kakbah. Dia bersujud, meratap dalam shalat, diiringi rintik hujan bak tangis matahari. “Panggil aku kembali ke rumah-Mu.” 

Sepulang dari Tanah Suci, hanya dalam hitungan hari menginjakkan kaki di Tanah Air, dokter memvonisnya mengidap kanker ganas stadium empat, dengan harapan hidup hanya enam bulan. 

Seakan tak rela hambanya ternoda, Allah pun memanggilnya. 

Dan kini, sepuluh tahun kemudian, sahabat kami yang lain menyusulnya. 
_Allahummaghfirlahum warhamhum wa'afihim wa'fu 'anhum._ 

Begitu indah kepergianmu kawan....

Oleh Yudhiarma MK
(Sahabat, Kabag Humas BAZNAS, eks wartawan Suara Karya)

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00