• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Nasional

Soroti Etika Hakim MK, Pakar Hukum : Jadi Hakim Jangan Baper !

20 June
08:30 2019
0 Votes (0)

KBRN, Jakarta : Pakar Hukum yang juga merupakan mantan Ketua Komisi Yudisial, Prof Eman Suparman menilai perlunya hakim dalam mengajukan pertanyaan-pertanyaan terhadap saksi termasuk kuasa hukum harus dipagari oleh kode etik perilaku hakim, dan dia tidak boleh bertanya berulang-berulang dengan pertanyaan  yang sama atau sudah ditanyakan oleh hakim lain.

"Tidak boleh juga bertanya yang menjebak pertanyaan, dimana saksi itu tidak sanggup menjawab dan tidak mengerti, saya perhatikan hakim itu dalam bertanya dia mengerti sendiri tetapi ketika saksi ditanya tidak mengerti apa yang dimaksud oleh pertanyaan hakim, dan itu tidak boleh," ungkapnya kepada Pro3 RRI, Kamis (20/6/2019).

Menurutnya, itu tidak sesuai dengan kode etik, perilaku hakim cuma persoalannya memang hakim MK tidak dibawah pengawasan komisi yudisial, kalau di bawah pengawasan seharusnya komisi yudisial juga menegur perilaku hakim dalam menyidakkan perkara dan pertanyaan kepada pihak yang menjadi saksi.

Ditegaskan Eman, jangan menyamakan ilmu hakim dengan saksi, saksi itu ilmunya hanya mengetahui kejadian bukan seperti hakim yang mengerti hukum, kadang-kadang pertanyaan hukum yang tidak bisa dimengerti di ajukan dia hanya mengerti dirinya sendiri.

Itu melanggar kode etik perilaku hakim seperti itu, sehingga jelas keliru menurut kacamata KLPPH.

Ukuran pengetahuan saksi tidak sama seperti hakim jadi Hakim harus memformulasikan kalimat yang bisa dimengerti saksi tetapi tujuan dan sasaran yang akan dicapai sama.

"Saya mengerti kecepatan sidang itu dikejar waktu cuman tidak boleh dikejar waktu itu boleh melanggar kode etik, dan menerka ujung-ujungnya dia marah, marah dan mengancanya hakim kepada siapapun di dalam ruang sidang itu sudah melanggar kode etik," jelasnya.

Eman berucap hakim adalah wakil tuhan di muka bumi tidak lebih sama dari yang seharusnya ke orang yang kebanyakan sabar.

"Kalau tidak bisa sabar mundur aja menjadi hakim jangan mau jadi hakim," ketus Eman.

"Kalau pelanggaran-pelanggaran ece-ece seperti ini saya tidak bisa menyentuhnya kami hanya gregetan aja masyarakat yang mengetahui etika seorang hakim harus seperti apa, kalau belum bisa sabar jangan jadi hakim, maka saya menyarankan sabar itu ujian yang tertinggi itu adalah fakta-fakta yang dihadapi, dia marah untuk kepentingan siapa, jangan baper jadi hakim itu, itu sama saja pelanggaran kode etik!," cetusnya.

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00