• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Sigap Polri

Seorang Penyandang Disabilitas Jadi Korban Pencabulan di Cimahi

17 June
22:06 2019
0 Votes (0)

KBRN, Cimahi : SY (15) menjadi korban perbuatan cabul oknum pekerja sosial Dinas Sosial Provinsi Jawa Barat, saat sedang mengikuti kegiatan pelatihan ketrampilan di Bina Rehabilitasi Sosial Penyandang Cacat(BRSPC) Cibabat Kota Cimahi.

Aksi pencabulan yang dialami siswa SLB Citeureup Cimahi, yang merupakan penyandang disabilitas tuna grahita dan tuna wicara tersebut, terbongkar oleh ibu kandungnya saat membuka media sosial Wats App dihandphone milik korban.

YRR (43) tahun yang merupakan pendamping korban kepada wartawan Senin (17/6/2019) menjelaskan, SY merupakan siswa SLB Citeurup dan mengikuti pelatihan di BRSPC Cibabat dari bulan Maret sampai Oktober 2019.

“Ketika sudah masuk Balai dia tinggal diasrama di BRSPC dan belajar tata rias, memijit dan sebagainya,” ujarnya.

Kasus yang menimpa korban itu terbongkar saat salah seorang pekerja sosial di BRSPC berinisial AR alias S datang kerumahnya di Ngamprah dan meminta ijin kepada ibunya untuk membawa YR keluar untuk membeli jam tangan.

“Karena pelaku datang dengan menggunakan jacket BRSPC, ibu korban tidak menolak dan meminta agar anaknya dikembalikan segera. Tetapi karena merasa gelagat aneh dan was-was ibu korban mencari tau kepada pekerja sosial lainnya, dan ternyata memang benar AR adalah pekerja sosial di BRSPC Cibabat Cimahi,” ungkapnya.

Saat dia pulang ke rumah jelas YRR, tidak lama kemudian orang tersebut datang memulangkan anaknya setengah jam lebih cepat dari janji awalnya.

“Karena penasaran ibu korban membuka HP anaknya dan menemukan banyak hal-hal yang janggal, sehingga ia menanyakan kepada korban yang akhirnya mengakui dicabuli oleh pelaku,” terangnya.

Akhirnya kasus tersebut dilaporkan ibu korban kepada anggota Satreskrim Polres Cimahi.

Kasat reskrim Polres Cimahi AKP Niko Nurrallah Adiputera ketika dikonfirmaasi RRI, Senin(17/6/2019) menjelaskan, kasus pencabulan yang menimpa korban SY sudah ditangani oleh penyidik unit Perlindungan Perempuan dan Anak serta sudah menjalani visum.

“Penyidik belum memanggil tersangka untuk tetapi sudah mendengarkan keterangan korban dan sedang mengumpulkan barang bukti,” ungkapnya.

Selain itu kata Niko, pihaknya juga masih menunggu hasil visum et repertum dari rumah sakit.

Bila terbukti bersalah, tersangka dapat dijerat dengan pasal 81 dan 82 Undang-Undang Perlindungan Anak, dengan ancaman hukuman maksimal 12 tahun penjara.

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00