• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Kumham

KPK Cecar Petinggi UIN Tentang Peran Rommy dan Proses Seleksi Jabatan

17 June
17:45 2019
0 Votes (0)

KBRN, Jakarta : Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) cecar pejabat Universitas Islam Negeri dari beberapa daerah terkait proses seleksi jabatan dilingkungan Kementerian Agama. Selain itu KPK juga meminta klarifikasi sejauh mana para saksi terkait peran Romahurmuziy dalam proses seleksi tersebut.

"Penyidik mendalami keterangan saksi terkait seleksi jabatan di lingkungan kementerian Agama RI yang pernah diikuti oleh para saksi serta mengklarifikasi sejauh mana saksi mengetahui ada atau tidaknya peran tersangka RMY dalam proses seleksi tersebut," kata Juru Bicara KPK Febri Diansyah, Senin (17/6/2019).

Sebelumnya Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK)  hari ini memanggil jajaran Rektor dan Calon Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) sebagai saksi dalam kasus suap terkait dengan seleksi jabatan dilingkungan Kementerian Agama tahun 2018-2019 yang menjerat anggota DPR nonaktif dan mantan Ketum PPP Romahurmuziy.

Saksi yang dipanggil adalah Ali Mudlofir (Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya), Masdar Hilmy (Rektor UIN Sunan Ampel Surabaya), Akh Muzakki (Guru Besar sekaligus Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UIN Sunan Ampel Surabaya), Syarif (Rektor IAIN Pontianak), Wajidi Sayadi (Dosen IAIN Pontianak), Hermansyah (Wakil Rektor I IAIN Pontianak), Warul Walidin (Rektor UIN Ar-Raniry Banda Aceh).

Salah satu yang diperiksa, adalah Rektor UIN Sunan Ampel, Prof Masdar Hilmy. Usai diperiksa dirinya mengaku tak tahu peran Rommy dalam proses seleksi Rektor.

"Yang jelas semua melalui komsel. Saya tidak tahu sejauh mana peran Rommy dalam pemilihan rektor," kata Masdar di gedung KPK usai menjalani pemeriksaan, Senin (17/6/2019).

Dirinya mengatakan proses seleksi rektor yang diikutinya dilakukan sesuai prosedur yang ada. Diapun menyebut tidak uang yang diserahkan atau membayar demi lolos dalam seleksi jabatan rektor UIN.

"Nggak ada. Tidak ada sama sekali. Saya tidak sama sekali. Saya tidak ditarget sama sekali. Ada komsel nya. Sesuai aturan seleksi," ujarnya. 

Senada dengan Masdar, Usai diperiksa Syarif selaku Rektor UIN Pontianak juga menyatakan jika prosedur dalam menduduki Rektor sesuai dengan aturan. Dirinya pun memyebut tidak ada pemberian uang atau mahar khusus yang diberikan jika seseorang ingin menjabati kursi Rektor.

"Prosedur nya tidak pernah. Kita ikut prosedural. Tidak ada mas. Tidak, Gaji saya gak seberapa," kata Syarif.

Menurutnya tidak ada penyerahan uang atau memberikan uang dalam proses seleksi, namun menurutnya memang ada SMS bodong yang masuk.

"Tidak ada. Kalau SMS bodong, iya. Tapi langsung saya hapus," lanjut Syarif.

Seperti yang diketahui dalam kasus ini KPK telah menetapkan 3 orang sebagai tersangka yaituanggota DPR periode 2014-2019 dan Ketum PPP Muhammad Romahurmuziy (RMY), diduga sebagai tersangka penerima suap.

Dan Kepala Kantor Kemenag Kabupaten Gresik Muhammad Muafaq Wirahadi (MFQ), serta Kepala Kantor Wilayah Kemenag Provinsi Jawa Timur Haris Hasanuddin (HRS) yang diduga sebagai tersangka pemberi suap.

Dalam kasus ini KPK menduga Romi bersama-sama dengan pihak Kementerian Agama RI menerima suap untuk mempengaruhi hasil seleksi jabatan pimpinan tinggi di Kementerian Agama RI, yaitu Kepala Kantor Kemenag Kab Gresik dan Kepala Kantor Wilayaj Kemenag Provinsi Jawa Timur.

KPK menduga Romi menerima uang senilai Rp300 juta dengan rincian dari tersangka Haris sebesari Rp250 juta dan tersangka Muafaq sebesar Rp50 juta.

Uang tersebut diduga untuk mempengaruhi dan memproses seleksi jabatan tinggi di Kementerian Agama guna kedua tersangka tersebut mendapatkan jabatan yang diinginkan.

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00