• Pilih Jaringan RRI   

RRI News Portal

Budaya dan Wisata

Lebaran Topat Lombok Utara, Adat Bersendi Syar’i

13 June
07:52 2019
0 Votes (0)

KBRN, Mataram : Sebagaimana tahun-tahun sebelumnya, pemerintah daerah Kabupaten Lombok Utara (KLU) melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata menyelenggarakan event tradisional Lebaran Topat (Ketupat, terminologi Sasak) tahun 2019. Acara berlangsung di Pantai Sira Desa Sigar Penjalin, bertepatan dengan 7 Syawal 1440 Hijriah.

Rangkaian acara diawali dengan Parade Dulang dan seserahan ketupat oleh masing-masing peserta perwakilan tiap kecamatan yang ada, dipandu Pembayun kepada Bupati Lombok Utara.

Bupati Najmul menyampaikan perayaan tradisi Lebaran Topat itu menunjukkan bahwa adat masyarakat Lombok Utara adalah adat yang bersendi syar'i.

"Apapun piranti-piranti adat yang ada, apabila kita telusuri ke belakang, maka semuanya bersumber dari ajaran agama. Terutama pada nilai-nilai dan filosofinya, termasuk lebaran topat," tutur bupati, Kamis (13/6/2019).

Dari sisi sejarah Lebaran Topat, lanjutnya, dari dulu selesai bulan ramadhan dilanjutkan dengan puasa enam pada Bulan Syawal. Nabi bersabda apabila melaksanakan puasa satu bulan penuh, kemudian diikuti dengan puasa 6 hari di Bulan Syawal, maka sama artinya seperti berpuasa satu tahun penuh.

Adapun mengenai perayaan pada Lebaran Topat kali ini dihadiri pula oleh umat dari Agama Hindu dan Budha. Di depan para awak media, Bupati Najmul menyampaikan Lebaran Topat membangun ukhuwah untuk bangkit dari keterpurukan, setelah diguncang gempa. Masyarakat berlomba menampilkan yang terbaik dari tiap kecamatan.

"Lebaran Topat, sebuah simbolisasi bahwa setiap agenda event kebudayaan dan adat istiadat bersendikan keagamaan. Selain itu, Lebaran Topat kita jadikan ajang untuk berkumpul semua. Alhamdulillah pesertanya bukan hanya yang beragama Islam. Tak salah, kalau kemudian Kementerian Agama menganugerahkan Lombok Utara sebagai kabupaten peduli kerukunan umat beragama," tandasnya.

Dalam pada itu, Wakil Bupati Lombok Utara Sarifuddin, SH. MH., kepada awak media menyatakan Lebaran Topat momen yang baik untuk bersilaturahmi di bulan Syawal. Dari perayaan, kontestannya datang dari beberapa desa mewakili kecamatan.

Adapun koordinator pelaksana yang juga Kadis Kebudayaan dan Pariwisata KLU Vidi Eka Kusuma, S.IP. M.Si menyatakan Lebaran Topat bertujuan memperkuat tali silaturahmi yang saling memaafkan hingga terciptanya kerukunan hidup, sebagaimana simbol dari ketupat.

"Event tradisional Lebaran Topat merupakan agenda tahunan dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata KLU. Cara untuk mempertahankan bentuk tradisi peninggalan budaya serta adat sebagai komitmen merawat kebudayaan," imbuhnya.

Peserta Lebaran Topat diikuti perwakilan dari lima kecamatan yang ada di KLU, masing-masing membawa menu kuliner secara kolosal berupa dulang dan ketupat berukuran besar. Rangkaian acara dilanjutkan dengan pemotongan ketupat raksasa oleh bupati, didampingi wabup, Ketua TP PKK KLU dan Ketua GOW KLU serta jajaran Forkopimda KLU. Acara diakhiri dengan santap ketupat secara bersama. 

tunggu 60 detik untuk memberikan komentar lagi. komentar anda akan dimoderasi sebelum diterbitkan
Cancel Preview
Cancel Preview
00:00:00 / 00:00:00